Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 85


__ADS_3

Citra berusaha bersikap biasa aja di depan kedua orang tuanya dan juga sahabat-sahabatnya. Walaupun hatinya terasa perih dan sakit, dia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.


Awalnya Citra harus bersusah payah menata hatinya. Karena setiap hari dia masih bertemu dengan Tian di sekolah. Tapi seiring berjalannya waktu, Citra bisa membiasakan diri tanpa kehadiran Tian.


"Citra!" tegur seorang pemuda.


Citra yang sedang bersama dengan Anne dan Maria menoleh. Dia mengernyitkan keningnya.


"Iya. Maaf kamu siapa ya?" tanyanya.


Pemuda itu tersenyum. Dia kemudian mengulurkan tangannya.


"Kenalin! Aku, Angga. Anak kelas 12 IPA 1," ucapnya.


Citra menerima uluran tangan pemuda itu. Sambil tersenyum dia menyebutkan namanya juga.


Anne dan Maria tampak saling lempar pandang. Sedetik kemudian mereka tersenyum.


"Cit! Kita duluan ya!" ujar Anne.


Citra hendak mencegah mereka pergi. Tapi Anne dan Maria tak menghiraukannya.


"Boleh aku duduk di sini?" ujar Angga.


Citra mengangguk. Angga membalas anggukan kepala Citra dengan senyum yang terkembang.


"Udah lama aku pengin kenal sama kamu. Tapi baru sekarang aku punya kesempatan untuk itu," ucap Angga.


Citra mengerutkan keningnya heran. Dia menjadi teringat kata-kata Azwan saat pertama kali mendekatinya dulu.


"Oh iya, Cit! Kamu masih suka nulis novel nggak?" tanyanya.


"Masih. Tapi sekarang udah jarang, Kak," jawab Citra.


"Kenapa?" tanya Angga ingin tahu.


"Enggak apa-apa. Cuman belum kepingin nulis aja. Tugas sekolahku banyak. Jadi waktuku kesita sama tugas-tugas," jawab Citra.


Angga manggut-manggut mendengar jawaban Citra. Angga ingin bertanya lebih banyak pada Citra. Tapi bel tanda masuk berbunyi nyaring.


"Yah! Udah bel aja," keluh Angga.


Citra hanya tersenyum mendengar keluhan Angga. Keluhan yang hampir setiap hari dia dengar kala mendengar bel tanda masuk berbunyi.

__ADS_1


"Aku duluan ya, Kak!" pamit Citra.


Angga mengangguk. "Besok kita ngobrol lagi ya! Aku masih pengin ngobrol banyak sama kamu," ucapnya.


Citra tersenyum. Dia kemudian berjalan menjauh dari kantin. Saat melewati ruang guru, dia melihat Tian sedang duduk termenung di mejanya. Citra buru-buru membuang muka saat tanpa sengaja dia bersitatap dengan Tian.


Melihat Citra, Tian segera keluar dari ruang guru. Dia mengejar langkah kaki Citra yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kelas.


Tian menahan rasa kecewanya. Sudah beberapa minggu ini Citra seolah menghindar darinya. Setiap kali mereka bertemu, Citra berusaha untuk terus menghindar. Bahkan dia hanya mengangguk kala Tian menyapanya.


"Sudahlah! Nanti sepulang sekolah aku tanyakan langsung ke dia," ucap Tian pada dirinya sendiri.


Kemudian dia kembali masuk ke ruang guru dan bersiap-siap untuk mengajar.


...****************...


Bel panjang terdengar begitu merdu di telinga para siswa siswi. Tak terkecuali Maria dan teman-temannya. Mereka tampak bersemangat membereskan peralatan sekolah mereka dan memasukkannya ke dalam tas.


"Oke! Jangan lupa minggu depan kalian presentasikan tugasnya ya," ucap Tian.


"Iya, Pak!" jawab anak-anak dengan kompaknya.


"Jangan lupa siapkan juga kesimpulan dari tugas yang kalian buat itu. Jadi setelah presentasi kalian harus bisa menyimpulkan apa yang kalian presentasikan. Mengerti?" ucapnya lagi.


"Oke. Sekarang mari kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa mulai!" ucap Tian.


Semua murid tampak menundukkan kepala mereka. Suasana kelas menjadi hening tak ada suara.


"Berdoa selesai! Selamat siang and have a great day!" ucap Tian.


Dia segera keluar dari kelas dan buru-buru kembali ke ruang guru untuk mengambil jaket serta tas kerjanya.


"Citra!" panggil Tian.


Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Citra saat dirinya akan kembali ke ruang guru.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.


Citra menatap gurunya itu. Ada perasaan yang tak biasa saat menatap wajah tampan di depannya itu.


"Maaf, saya sibuk hari ini. Ada tugas sekolah yang harus segera saya selesaikan." Citra menjawab sembari melangkahkan kakinya.


Tian mencekal lengan Citra dengan erat. "Sebentar saja. Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu," mohonnya.

__ADS_1


Citra menyunggingkan senyum sinis. "Bukannya Bapak nggak percaya dengan semua omongan saya? Bukannya Bapak juga bilang kalau nggak mau ngomong lagi sama saya?" ujar Citra.


"Citra, please! Saya ingin menjelaskan sesuatu sama kamu. Saya sama---"


"Saya sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Itu kan yang ingin Bapak katakan?" potong Citra cepat.


Tian mati kutu mendengar ucapan Citra. Dia seperti tak berhadapan dengan Citra jika sudah seperti ini. Dia seperti berhadapan dengan pak Bayu saat mendengar ucapan Citra yang terdengar tegas.


"Saya nggak peduli mau Bapak ada hubungan dengan siapapun. Karena saat ini saya dan Bapak enggak ada hubungan apa-apa," ucapnya lagi.


Tian terkejut saat Citra mengatakan itu. Tak pernah dirinya memutuskan hubungannya dengan. Citra. Dia tak pernah berpikir untuk berpisah dari Citra.


"Bahkan, nomor ponsel saya juga Bapak blokir."


Tian semakin terkejut saat mendengar ucapan Citra. Tak pernah sekalipun dia memblokir nomor Citra.


"Saya nggak pernah melakukan itu. Bahkan sampai detik ini saya masih tunangan kamu. Saya masih---"


Ucapan Tian terhenti kala Citra menunjukkan bukti chat di ponselnya. Bukti chat yang selama ini masih ia simpan rapi dalam ponsel pintarnya.


"Ini bukti jika Bapak sudah memutuskan hubungan kita saat itu. Bapak juga memblokir nomor saya setelah mengirimkan chat itu," ucap Citra.


Tian menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat itu. Dia sama sekali tak merasa mengirimkan chat seperti itu pada Citra.


Saat itu mata Citra melihat sosok Silvi berdiri di belakang Tian. Seulas senyum terkembang di wajahnya. Sedetik kemudian gadis itu berjalan meninggalkan Tian dan Citra.


"Gimana? Gue berhasil kan bikin mereka putus?" ucapnya pada seseorang yang menunggunya di belakang sekolah.


Seorang gadis yang berdiri di depannya tersenyum. "Good! Bagus juga kerja lo. Ini bayaran buat lo." Gadis itu menyerahkan sebuah amplop pada Silvi.


"Thanks!" Silvi mengintip isi amplop itu.


Seketika senyumnya terkembang lebar kala melihat jumlah lembaran merah di dalamnya. Matanya berbinar kala melihat lembaran-lembaran yang ada di dalam amplop putih itu.


"Lain kali kalau ada job kayak gini. Elo hubungin gue aja," ucap Silvi.


Gadis yang ternyata adalah Karin itu tersenyum. "Boleh juga. Gue nggak nyesel kerja sama sama lo," ucapnya.


Silvi tersenyum. Dia bangga karena telah berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Dia juga senang karena akhirnya mendapatkan uang dari pekerjaannya itu.


"Oh jadi ternyata ini ulah kalian berdua!" seru seseorang tiba-tiba.


Silvi dan Karin tampak terkejut melihat siapa yang datang. Mereka lebih terkejut lagi kala melihat tak hanya satu orang yang memergokinya. Tapi ada dua orang dan semuanya memegang ponsel untuk merekam aksi keduanya.

__ADS_1


__ADS_2