
"Mama dicariin ternyata ngumpet di kamarnya Citra," tegur Anne.
Bu Mirna menoleh dan tersenyum pada anak gadisnya itu.
"Ada Pak Tian tuh di depan," beritahu Anne.
"Pak Tian? Ngapain?" tanya Citra.
Anne mengangkat bahunya. "Tahu deh. Mau ngelamar kamu kali," jawab Anne asal.
Citra tak merespon ucapan Anne. Dia malah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Suruh pulang aja. Aku nggak mau nerima tamu." Ucap Citra sembari menutup pintu kamar mandi.
Anne dan Bu Mirna saling bertukar pandang. Keduanya merasa heran dengan sikap Citra. Tak biasanya Citra bersikap seperti ini. Biasanya dia akan selalu menemui siapapun yang mencarinya sekalipun itu orang yang pernah menyakiti dirinya. Tapi sekarang?
"Citra kenapa sih Ma?" tanya Anne.
"Mama juga nggak tahu. Citra nggak mau cerita sama Mama," jawab Bu Mirna.
"Udah ah! Mama mau ke bawah dulu. Kamu tunggu sini aja," kata Bu Mirna akhirnya.
"Iya Ma," jawab Anne.
Bu Mirna lantas bangkit dari duduknya dan segera berjalan menuju pintu. Wanita itu kemudian keluar menuju lantai bawah sembari membawa nampan berisi bekas tempat makan Citra.
"Eh ada tamu," sapa Bu Mirna setelah meletakkan nampan di dapur.
Tian bangkit dari duduknya dan mengalami Bu Mirna. "Assalamu'alaikum Tante," ucap Tian.
"Wa'alaikumusalam Nak Tian," jawab Bu Mirna.
"Silahkan duduk Nak Tian." Bu Mirna mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.
Tian menganggukkan kepalanya. Pemuda itu lalu duduk di sofa dan mulai mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah itu.
"Maaf Tante kalau kedatangan saya mengganggu istirahat Tante dan keluarga," ucapnya.
"Oh enggak kok. Sama sekali nggak ganggu kok." Jawab Bu Mirna sembari tersenyum.
"Tapi kalau boleh tahu ada apa ya Nak Tian?" tanya Bu Mirna.
Tian terdiam. Dia mencoba memilih kata agar tak menyinggung perasaan keluarga Citra. Dia juga tak mau hubungannya dengan Citra semakin merenggang dan akhirnya bubar sebelum dilamar.
"Eh ada tamu rupanya," sapa Pak Bayu yang baru saja pulang dari kantor.
Mendengar suara Pak Bayu, Tian sedikit terlonjak kaget.
__ADS_1
"Om," sapanya pada Pak Bayu. Dia lantas mengalami ayah dari Citra itu sambil tersenyum.
"Sudah lama?" tanya Pak Bayu pada Tian.
"Baru aja kok Om," jawab Tian.
Pak Bayu manggut-manggut mendengar jawaban Tian. "Citra mana Ma?" tanyanya pada sang istri.
"Masih di kamar mandi Pa. Tapi dia udah tahu kok kalau Nak Tian ke sini," jawab Bu Mirna.
Mereka bertiga melanjutkan obrolannya sembari menikmati minuman dan makanan kecil yang dihidangkan oleh Bi Lani.
"Berisik banget sih di bawah? Lagi pada ngobrolin apaan sih mereka?" gumam Anne saat telinganya mendengar suara dari bawah.
"Emangnya dia belum pulang An?" tanya Citra. Nada suaranya terdengar dingin dan jutek.
Anne sampai mengerutkan keningnya karena heran. Tak biasanya Citra berkata sedingin dan sejutek itu pada seseorang.
"Eh belum deh kayaknya," jawab Anne.
Citra menarik napas panjang. "Kenapa nggak pulang aja sih dia? Ngapain juga masih di sini?" tanyanya entah pada siapa.
Anne lagi-lagi dibuat heran oleh Citra. Tak biasanya Citra bersikap seperti ini pada orang lain.
"Kamu kenapa sih? Kamu lagi ada masalah sama Pak Tian?" tanya Anne yang memang tak tahu apa yang terjadi antara Citra dan Tian.
"Kalau kalian lagi ada masalah, sebaiknya diomongin. Jangan menghindar kayak gini," ucap Anne.
Citra menghela napas panjang sekali lagi. Mulutnya masih tertutup rapat. Seolah ada lem yang merekatkan kedua bibirnya dengan kuat.
"Cit." Anne menggenggam jemari Citra dengan erat.
"Aku tahu kamu ada rasa sama Pak Tian. Aku tahu kamu diam-diam suka memperhatikan Pak Tian dari jauh. Dan aku paham sekali bahasa tubuh orang yang sedang jatuh cinta itu seperti apa," ujar Anne.
Citra hanya diam saja. Dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Anne dan memasukkannya ke dalam hati.
"Kalau kalian ada masalah, sebaiknya kalian omongin. Jangan kayak gini. Kasihan kan Pak Tian," ucap Anne sekali lagi.
"Kalau kamu menghindar terus, sampai kapanpun kamu nggak akan tahu kebenarannya." Anne mencoba memberikan nasihat pada saudaranya itu.
Citra tampak terdiam mendengar ucapan Anne. Gadis itu tampak sedang memikirkan dan meresapi apa yang dikatakan oleh Anne.
Sementara itu, karena menunggu terlalu lama akhirnya Tian berpamitan untuk pulang.
"Kalau gitu saya pulang dulu Tante, Om." Pamitnya seraya mencium punggung tangan kedua orang tua Citra.
"Maafin Citra ya Nak Tian. Mungkin dia sedang butuh istirahat dan butuh untuk sendiri dulu," ucap Bu Mirna. Wanita itu merasa tak enak hati pada Tian.
__ADS_1
"Nanti Om coba ngomong sama Citra," imbuh Pak Bayu.
"Makasih Om, Tante. Kalau gitu saya permisi. Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati," ucap Pak Bayu dan Bu Mirna hampir bersamaan.
Sepeninggal Tian, Pak Bayu dan Bu Mirna kembali masuk ke dalam rumah.
"Papa mau mandi dulu Ma. Setelah itu mau ngobrol sama Citra," ucap Pak Bayu.
"Iya Pa. Kasihan Tian. Udah dua kali dia coba nemuin Citra tapi Citra nggak mau ngomong sama Tian," jelas Bu Mirna.
Pak Bayu tampak sedikit terkejut mendengar ucapan Bu Mirna. Lelaki itu lantas menghela napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
"Ya sudah nanti biar Papa yang ngomong sama dia Enggak biasanya dia seperti itu," sahut Pak Bayu.
Kemudian Pak Bayu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk segera mandi dan bersih-bersih badan. Setelah selesai, Pak Bayu segera keluar dan menemui Citra di kamarnya.
"Papa boleh tanya sesuatu sama kamu?" tanya Pak Bayu saat dirinya berada di dalam kamar Citra.
"Mau nanya apa Pa?" Citra balik bertanya pada sang Papa.
"Kamu kenapa nggak mau ketemu sama Tian? Kalian lagi ada masalah?" tanya Pak Bayu langsung pada intinya.
Citra menghela napas panjang. Dia sudah menduga jika hal itu yang akan ditanyakan oleh papanya pada dirinya.
"Enggak ada kok Pa. Citra cuman... cuman... lagi nggak pengin ketemu sama Pak Tian aja," jawab Citra.
"Kenapa?" kejar Pak Bayu.
Lagi dan lagi Citra menghela napas panjang. Kemudian meluncurlah sebuah kisah dari mulut Citra. Kisah yang membuatnya merasakan sesuatu yang tak biasa.
"Citra cuman nggak mau menambah luka dalam hati Citra. Citra cuman mau menyembuhkan luka yang ada di hati," ucap Citra.
Pak Bayu mendengarkan keluh kesah sang anak dengan seksama. Tak sedikitpun lelaki itu berniat untuk memotong cerita Citra.
"Kamu masih merasa trauma pada masa lalu kamu?" tanya Pak Bayu.
Citra terdiam sejenak. Kemudian dia berkata, "iya Pa. Citra masih merasa takut untuk membuka hati setelah apa yang Citra alami selama ini."
"Citra pernah sayang sama seseorang tapi ternyata itu hanya sebuah kebohongan belaka. Citra pernah memberikan hati Citra pada seseorang. Pernah mempercayakan hati Citra pada seseorang. Tapi orang itu justru menghancurkannya," tambahnya.
"Dan sekarang, saat Citra sudah mulai bisa menerima Pak Tian. Lagi dan lagi hati Citra dipatahkan. Hati Citra dihancurkan olehnya dengan sadisnya."
Mata Citra mulai berkaca-kaca saat menceritakan kisahnya. Luka dalam hatinya kembali berdenyut nyeri saat menceritakan kembali semuanya.
"Kalau seandainya Tian nggak seperti yang kamu pikirkan bagaimana?" tanya Pak Bayu.
__ADS_1