Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 46


__ADS_3

Lemas sudah seluruh tubuh Bu Mirna saat mendengar penjelasan dokter itu. Hatinya terasa hancur mendengar anaknya terluka parah dan harus menjalani serangkaian perawatan.


"Apa... apa Citra bisa sembuh Dok?" tanya Bu Mirna dengan suara bergetar menahan tangis.


"Kemungkinan itu tetap ada Bu. Kita doakan saja semoga Citra bisa melewati masa kritisnya," jawab dokter itu.


"Kita juga menunggu hasil pemeriksaan CT SCAN Citra. Mudah-mudahan hasilnya bagus," ucap dokter itu lagi.


Setelah berbincang dengan dokter itu, Bu Mirna keluar dari ruangan dokter. Bu Mirna melangkah gontai. Tubuhnya serasa tak ada daya untuk sekadar berjalan. Kemudian wanita itu duduk di bangku yang ada di samping ruang dokter.


Air mata perlahan menetes dari kedua pipinya. Hatinya hancur setelah mendengar penjelasan sang dokter. Walaupun Citra bukan anak kandungnya, tapi rasa sayangnya pada gadis itu amatlah besar.


Isak tangis mulai terdengar. Dadanya terasa sesak mengingat apa yang disampaikan oleh dokter itu tadi. Di saat dirinya kalut seperti ini, sebuah suara menegurnya.


"Ma!"


Bu Mirna mendongakkan kepalanya. Dia menatap ke arah orang yang menegurnya.


"Papa!"


Bibirnya bergetar semakin hebat. Tangisnya semakin terdengar memilukan. Pak Bayu segera memeluk sang istri. Lelaki itu mencoba menenangkan tangis sang istri.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Citra," ucap Pak Bayu.


Bu Mirna mengangguk dalam dekapan sang suami. Wanita itu tampak rapuh dan merasa hancur saat ini. Dalam hati wanita itu berharap agar sang anak sambung bisa melewati masa kritisnya.


"Tadi Papa dikasih tahu Anne kalau Citra sudah tergeletak di jalan saat dia baru saja keluar dari kelas," ucap Pak Bayu.


"Iya Pa. Anne juga bilang sama Mama. Tapi kenapa harus Citra Pa? Kenapa? Mama merasa gagal menjaga Citra. Mama merasa bersalah pada almarhumah Mbak Ambar Pa." Kata Bu Mirna disela isak tangisnya.


"Sudah jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang kita fokus pada Citra," ucap Pak Bayu menenangkan.


Bu Mirna menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata, "tadi dokter bilang masih menunggu hasil CT SCAN. Hasilnya baru keluar besok. Mudah-mudahan semuanya baik. Mudah-mudahan nggak ada luka dalam di kepala Citra."


"Mudah-mudahan. Kita berdoa saja," sahut Pak Bayu.

__ADS_1


"Sekarang kita ke anak-anak ya! Kasihan mereka nungguin kita di ruang tunggu," ajak Pak Bayu.


Bu Mirna mengangguk setuju. Kemudian keduanya berjalan menuju ruang tunggu di depan UGD.


"Azwan mana Anne?" Tanya Bu Mirna yang tak melihat anak lelakinya.


"Azwan pergi ke sekolah Ma. Katanya mau tanya-tanya soal kronologi kecelakaan yang menimpa Citra," jawab Anne.


"Memangnya tadi Azwan ke sini? Bukannya dia ada pertandingan di sekolah lain?" tanya Pak Bayu.


"Iya Pa. Tadi setelah dapat kabar kalau Citra kecelakaan, Azwan langsung ke sini." Bu Mirna menjawab pertanyaan Pak Bayu mewakili Anne.


Pak Bayu menganggukkan kepalanya. "Sekarang kita salat dulu ya. Kita berdoa untuk Citra," kata Pak Bayu.


"Papa sama Mama aja yang salat. Anne nggak salat. Anne mau di sini aja," ucap Anne.


"Kenapa?" tanya Pak Bayu.


"Tamu bulanan Anne datang Pa," jawab Anne lirih.


"Ya sudah kalau begitu. Papa sama Mama ke mushala dulu ya. Kamu di sini aja," kata Pak Bayu akhirnya.


Sementara itu, Tian tampak sedang gelisah. Sejak kejadian di depan ruang guru kemarin, dirinya belum bertemu dengan Citra lagi. Dia sudah berusaha menghubungi gadis itu, tapi selalu tak diangkat.


"Kamu ke mana aja sih Cit?" tanyanya. Matanya menatap ke arah ponselnya yang menampilkan kontak milik Citra.


"Apa jangan-jangan dia cemburu lihat aku sama Luna kemarin?" lanjutnya.


Seulas senyum terukir di wajahnya. Hatinya berbunga-bunga saat memikirkan hal itu. Wajahnya tiba-tiba menghangat membayangkan Citra cemburu melihatnya dekat dengan cewek lain.


"Kalau dia cemburu, berarti dia ada rasa dong sama aku?" gumamnya. Senyum semakin terkembang lebar di wajahnya.


"Aaarrrggghhh! Ngebayangin aja udah bikin jantung dah dig dug. Gimana kalau dia benar-benar punya rasa sama aku. Waah pasti tambah jedag jedug deh," lanjutnya.


Khayalan Tian semakin kemana-mana. Tanpa dia tahu, orang yang sedang dia bicarakan terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Berjuang antara hidup dan mati. Berjuang melewati masa kritisnya agar dapat berkumpul bersama dengan keluarganya lagi.

__ADS_1


...****************...


Malam datang menjelang. Langit pun berubah gelap tanpa bintang. Hanya ada sang rembulan yang bersembunyi di balik awan gelap.


Anne dan keluarganya masih setia menunggui Citra yang masih tak sadarkan diri. Mata gadis itu masih terpejam dan entah kapan akan terbuka kembali.


"Makan dulu Pa, Ma!" Azwan datang membawa sekantong makanan yang ia beli di kantin rumah sakit.


"Mama nggak nafsu makan Wan. Mama nggak bisa menelan makanan kalau Citra belum membuka matanya," ucap Bu Mirna. Matanya menatap Citra yang terbaring di ruang ICU melalui jendela kaca.


Azwan menghela napasnya. "Mama harus makan. Kalau Mama nggak makan, nanti Mama sakit. Citra pasti sedih kalau lihat Mama kayak gini," ujar Azwan. Pemuda itu mencoba membujuk sang Mama untuk makan.


Bu Mirna bergeming. Wanita itu masih saja menatap ke dalam ruangan dengan air mata berlinang. Hatinya hancur melihat Citra yang terbaring tak berdaya di dalam sana.


"Ma!" Kali ini Pak Bayu ikut membujuk sang istri. Dia juga sama hancurnya dengan sang istri. Apalagi Citra adalah anak kandungnya.


"Mama makan ya. Jangan sampai Mama sakit juga. Benar kata Azwan, Citra pasti sedih kalau tahu Mama seperti ini," ucap Pak Bayu. Tangannya mengelus punggung sang istri dengan lembut.


Bu Mirna masih tak bergerak. Wanita itu masih menatap ke dalam. Melihat tubuh Citra yang dipasangi berbagai alat.


"Makan ya Ma," bujuk Anne. Gadis itu juga sama sedihnya. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Citra sendirian hingga kejadian mengerikan itu terjadi.


"Lihat anak-anak Ma. Jangan seperti ini," kata Pak Bayu.


Bu Mirna seolah tersadar. Dia kemudian mengucap istighfar dalam hati. Wanita itu mengulanginya hingga hatinya terasa lega dan nyaman.


Akhirnya Bu Mirna mau juga makan. Walaupun sesekali matanya menatap ke arah pintu ruang ICU.


"Nambah ya Ma? Anne nggak habis. Banyak banget ini nasinya," ucap Anne.


"Tumben lo nggak habis? Biasanya juga nasi padang dua porsi juga lo telan sendiri," cibir Azwan.


Anne memelototkan matanya ke arah Azwan. Tanpa memperdulikan cibiran saudara kembarnya, Anne memberikan nasinya pada sang Mama.


Di saat mereka tengah menikmati makanannya. Tiba-tiba dokter yang menangani Citra berjalan tergesa dan segera masuk ke dalam ruang ICU. Tak lama kemudian seorang perawat keluar dari ruang ICU dengan berjalan cepat.

__ADS_1


"Ada apa Suster?" tanya Bu Mirna.


"Pasien mengalami...."


__ADS_2