
Citra menunggu dengan perasaan cemas. Sesekali dia melirik ke arah ponselnya yang diletakkannya di sampingnya.
"Kok lama banget ya. Apa aku telpon aja ya?" tanya Citra pada dirinya sendiri.
"Eh tapi jangan deh. Biarin aja lah. Takutnya dia udah di jalan." Dia membantah sendiri pikirannya.
Citra kembali duduk dengan cemas di teras rumah barunya. Tiba-tiba saja perkataan Tegar terngiang kembali di telinganya.
"Aku minta maaf Cit. Aku yang udah bikin kamu terusir dari rumah," ucapnya.
Citra terdiam mendengat ucapan kakak angkatnya itu. Bayangan mengerikan itu seperti tol film yang diputar ulang di otaknya. Dia masih mengingat bagaimana Tegar memperlakukannya malam itu. Walaupun Tegar tak sampai merenggut mahkotanya, tapi perasaan takut itu masih terasa.
"Aku minta maaf atas kelancanganku malam itu. Maafkan aku yang sudah membuat kamu terasingkan seperti sekarang ini," ucapnya lagi.
Citra masih terdiam mendengar ucapan Tegar. Dia tak membalas ataupun merespon ucapan Tegar itu. Dia hanya menatap Tegar dengan perasaan campur aduk.
"Citra!" Sebuah tepukan halus mengembalikan Citra ke alam sadarnya.
Citra terlonjak kaget. Dia menoleh dan mencoba tersenyum.
"Eh Papa. Bikin kaget aja deh," ucap Citra.
Pak Bayu tersenyum. Kemudian pria itu menempatkan dirinya di sebelah sang anak.
"Tian belum sampai juga ya?" tanya Pak Bayu.
Citra menggeleng. "Belum Pa. Mau Citra telpon tapi takutnya ganggu konsentrasi nyetirnya."
"Ya sudah. Tunggu aja. Hari ini Papa sengaja kosongkan jadwal supaya bisa menemui calon menantu Papa," ucap Pak Bayu. Senyum jahil menghiasi wajahnya.
"Papa ih! Citra kan masih pengin sekolah lagi. Masih pengin jadi guru. Belum mikirin buat nikah," sahut Citra.
Pak Bayu tertawa mendengar ucapan anaknya itu. Kemudian pria itu berkata, "ya kan nggak apa-apa Cit. Banyak juga kan yang kuliah tapi menikah!" ujar Pak Bayu.
Citra hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Bayu. Gadis itu hampir putus asa menunggu. Hingga akhirnya...
"Halo, selamat pagi," sapa seseorang.
"Iya, selamat pagi. Ini siapa ya?" Tanya Citra dengan kening berkerut.
"Aku minta maaf nggak bisa ke rumah kamu. Sekarang aku ada di kantor polisi. Aku nabrak orang dan yang aku tabrak orangnya meninggal," ucap seseorang. Suaranya berbeda dari orang yang pertama berbicara tadi.
Citra mengerutkan keningnya. Dia seperti mengenal suara itu. Suara itu mirip sekali dengan suara Tian. Tapi apa mungkin ini Tian?
"Sekarang aku ditahan di kantor polisi. Kamu ke sini ya," ucapnya lagi.
"Sekarang kamu di polres mana?" tanya Citra. Dia berusaha tetap tenang walau dalam hatinya tak karuan.
"Kamu bicara sama polisinya aja ya."
"Halo, selamat pagi Ibu," ujar seseorang.
__ADS_1
"Iya Halo. Dengan siapa ini ya?" tanya Citra.
"Saya dari polres Bu. Mau mengabarkan kalau suami Ibu terlibat kecelakaan. Suami Ibu menabrak orang dan meninggal," ujar orang itu.
"Nama suami Ibu siapa ya?" tanya orang itu lagi.
"Namanya...."
"Tahan dulu Nak. Sini biar Papa yang ngomong." Pak Bayu mencegah Citra untuk menyebutkan identitas Tian.
Citra menyerahkan ponselnya pada sang ayah. Badannya masih gemetar mendengar kabar yang dia terima barusan.
Anne dan Bu Mirna segera menghampiri Citra yang tampak gemetar hebat. Bu Mirna segera mendudukkan tubuh Citra di kursi ruang tamu.
"Kamu kenapa Sayang?" Bu Mirna bertanya dengan raut khawatir.
Citra hanya diam tak menjawab pertanyaan sang ibu. Sementara Citra ditenangkan oleh Bu Mirna, Anne berlari ke dapur untuk mengambil air minum.
"Minum dulu Cit." Anne mengangsurkan gelas berisi air minum pada Citra.
Citra menerima gelas itu dan segera meneguk isinya. Setelah itu dia mengambil napas dan bersiap untuk bercerita.
"Pak Tian telpon. Katanya, dia menabrak orang dan yang ditabraknya itu meninggal," jelas Citra.
Anne dan Bu Mirna saling lempar pandang. Keduanya tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Citra.
"Kamu yakin kalau yang telpon itu Pak Tian?" tanya Anne.
"Ya, kamu yakin kalau itu Pak Tian? Bukan penipu yang mencoba mencari keuntungan dari lengahnya kamu?" ujar Anne.
Citra tampak mencerna ucapan Anne. Dia menjadi berpikir kembali apa benar itu adalah Tian? Bukan penipu seperti kata Anne?
"Coba deh sekarang kamu telpon Pak Tian. Tanya dia sekarang di mana," saran Anne.
Citra tampak mempertimbangkan saran Anne. "HP aku masih dipakai Papa," ucap Citra.
Bu Mirna tersenyum. "Ya sudah. Pakai HP Mama aja kalau begitu." Bu Mirna mengangsurkan benda pipih itu pada Citra.
Belum sempat Citra menerima HP sang Mama, Pak Bayu tampak berjalan masuk ke dalam dan menghampiri ketiganya.
"Kamu tenang aja Citra. Itu cuman berita bohong. Mereka sengaja bilang begitu supaya si penerima telepon panik dan menuruti apa saja kemauan si penelpon," jelas Pak Bayu.
Citra menarik napas lega mendengar penjelasan Pak Bayu. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang di ambang pintu.
"Wa'alaikumsalam." Semuanya menoleh seraya menjawab salam.
Citra tersenyum saat melihat siapa yang datang. Lega sudah hatinya saat melihat Tian berdiri di ambang pintu rumahnya.
Pak Bayu menghampiri tamunya itu dan mempersilahkannya masuk. Sementara Pak Bayu menerima tamu, Bu Mirna dan kedua gadisnya masuk ke dalam. Anne tak henti-hentinya menggoda Citra.
__ADS_1
"Cie... cie... bakalan ada yang cepat nikah nih setelah lulus sekolah!" goda Anne.
Citra hanya tersenyum malu-malu mendengar gurauan saudaranya itu. Bu Mirna hanya geleng-geleng kepala melihat Anne yang terus menggoda Citra.
*****
Hari ini adalah hari yang spesial dan tak akan terlupakan oleh Tian. Pagi tadi dirinya secara resmi diterima sebagai calon bagian keluarga Pak Bayu. Senyum tak pernah surut dari wajah tampannya.
Tian kembali mengingat percakapannya dengan orang tua calon kekasihnya itu.
"Kamu yang namanya Tian ya?" tanya Pak Bayu dengan ramah.
Tian mengangguk hormat. Tak lupa senyum tipis terkembang di wajahnya.
"Saya dengar kamu dan Citra sedang dekat ya?" tanya Pak Bayu lagi.
Wajah Tian bersemu merah saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Pak Bayu.
"Boleh dibilang begitu Om," jawab Tian.
Pak Bayu tersenyum mendengar jawaban Tian. Sepertinya pria itu mulai tertarik dengan sikap sopan yang ditunjukkan oleh Tian.
"Kamu juga yang semalam telponan sama Citra?" tanya Pak Bayu.
Lagi-lagi Tian mengangguk sembari tersenyum. "Benar Om. Mohon maaf kalau semalam saya mengganggu istirahat Om dan keluarga," ucap Tian.
Pak Bayu hanya tersenyum mendengar ucapan Tian. Kemudian pria itu kembali melanjutkan pembicaraannya dengan sosok pemuda yang mulai mendekati putrinya itu.
"Terus terang saya senang ada yang mendekati putri bungsu saya. Sedari kecil Citra selalu menyendiri dan tak pernah dekat dengan siapapun juga. Kecuali dengan...."
"Silahkan diminum tehnya." Bu Mirna memotong pembicaraan kedua pria beda generasi itu sembari menghidangkan secangkir teh untuk tamunya.
Tian mengangguk sopan. "Terimakasih Tante," ucapnya.
Bu Mirna tersenyum mendengar ucapan pemuda itu. Kemudian wanita cantik itu kembali berjalan menuju dapur.
"Maaf pembicaraan kita terpotong tadi," ucap Pak Bayu. Pria itu kemudian mempersilahkan Tian untuk meminum minuman yang sudah terhidang.
"Terimakasih Om," ucap Tian.
"Saya berharap kamu bisa menjaga Citra dan mencintai dia dengan tulus," ucap Pak Bayu.
Tian tampak heran saat mendengar ucapan Pak Bayu. Walau begitu, dia tetap menganggukkan kepalanya.
"Saya berharap kamu tidak mempermainkan perasaan Citra. Karena dia adalah permata hati saya. Sama dengan Anne dan Azwan," ucap Pak Bayu akhirnya.
Dengan yakin Tian membalas ucapan Pak Bayu. Dia berkata, "saya mencintai Citra tulus dari dalam hati saya Om. Saya akan menjaga dia sepenuh jiwa dan raga saya. Saya juga akan menyayangi dia seperti orang tuanya menyayangi dia."
Pak Bayu tersenyum mendengar jawaban penuh keyakinan itu. Pria itu merasa jika Tian lah orang yang tepat untuk sang putri.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Tian. Pemuda itu lantas meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Sebuah nama tertera di layar ponselnya. Tian tampak tak suka saat nama itu muncul di layar ponselnya.
__ADS_1