Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 37


__ADS_3

Suasana sarapan pagi berubah menjadi tegang saat terdengar suara benda seperti dibanting. Semua yang ada di ruang makan kompak menoleh ke sumber suara.


"Azwan," lirih Citra.


Wajahnya berubah pucat saat melihat raut wajah Azwan yang tak bersahabat. Matanya berkilat marah. Dia seolah sedang merasa geram pada seseorang.


"Kamu kenapa Wan?" Bu Mirna mencoba mendekati putranya itu.


Azwan hanya melirik sekilas. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan sang ibu. Dia kembali menatap Citra dengan tajam. Dia seolah sedang marah pada gadis itu.


"Elo kenapa? Elo cemburu dengar Citra dekat sama cowok lain?" tuduh Anne tanpa basa basi.


"Cemburu? Maksudnya apa Anne?" Pak Bayu bertanya dengan kening berkerut. Pria itu tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putrinya itu.


"Jadi dulu itu mereka...."


"Jadi dulu kami pernah satu kelompok waktu mengerjakan tugas sekolah Pa," potong Citra cepat.


Pak Bayu mengerutkan keningnya. Pria itu masih belum sepenuhnya paham dengan apa yang putrinya katakan.


Anne menatap Citra dengan sorot protes. Citra membalas tatapan Anne dengan penuh permohonan. Dia tak ingin masa lalunya diketahui banyak orang.


"Oh ya? Kok Azwan nggak pernah cerita ya," ujar Bu Mirna.


Azwan memalingkan wajahnya sembari tersenyum kecut. Hatinya seolah teriris saat Citra tak mengakuinya sebagai mantan kekasihnya.


"Ya mungkin Azwan nggak sempat cerita Ma," jawab Citra berbohong.


Pak Bayu menatap mata sang putri. Pria itu seolah mencari sebuah kebenaran dalam sorot mata sang putri.


Citra menyadari tatapan sang ayah. Dia berusaha tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


"Mungkin juga Azwan malu Ma. Dia kan anti sama cewek dekil," celetuk Anne.


Citra menyenggol lengan saudarinya itu. Memperingatkan Anne agar tak berbicara macam-macam.


"Oh ya?" Pak Bayu menyahut perkataan Anne sembari melirik Azwan yang sudah duduk di seberangnya.


Azwan memalingkan wajahnya saat beradu pandang dengan sang ayah. Namun justru matanya beradu pandang dengan Citra. Ada luka yang kembali menganga saat menatap mata Citra.


"Maaf semuanya," ucap Bi Lani yang berjalan tergopoh-gopoh dari arah luar.


"Ada apa Bi?" tanya Bu Mirna.


"Itu Bu. Di depan ada orang nyariin Non Citra," jawab Bi Lani.


Anne tersenyum simpul sambil menatap ke arah Citra. Hasratnya untuk menggoda Citra kembali muncul setelah dirusak oleh suasana yang tegang barusan.


"Siapa Bi?" Kali ini Pak Bayu yang bertanya.


"Saya ndak tahu Pak. Tapi orangnya tinggi. Putih. Ganteng lagi," jawab Bi Lani menyebutkan ciri-ciri tamu itu.


"Tinggi? Putih? Ganteng? Siapa ya tamu yang nyariin Citra?" tanya Azwan dalam hati.

__ADS_1


"Suruh masuk aja Bi. Sebentar lagi saya ke sana," ucap Pak Bayu.


Bu Mirna menatap sang suami dengan alis terpaut. Wanita itu seolah memprotes tindakan suaminya.


"Baik Pak," sahut Bi Lani. Kemudian wanita itu segera ke depan untuk memberitahu tamu itu.


"Cie... cie... Dijemput pangeran nih ceritanya!" goda Anne.


"Anak mama yang satu kapan nih dijemput pangeran ke rumah?" Tanya Bu Mirna sembari melirik sang putri.


"Mama apa-apaan sih. Entar kalau aku dijemput cowok, Mama kaget lagi," sahut Anne.


"Papa ke depan dulu ya. Kalau cocok bisa lah langsung rekrut jadi menantu," celetuk Pak Bayu.


Citra menautkan kedua alisnya. Dia kaget sekaligus heran dengan celetukan Pak Bayu. Sedangkan Anne malah semakin bersemangat menggoda Citra.


"Cie... cie... dapat lampu hijau tuh dari Papa," ucapnya.


Azwan tersenyum kecut saat mendengar ucapan Anne. Dia berpura-pura menikmati sarapannya walau dalam hatinya menyimpan rasa kesal dan juga cemburu.


"Aku setuju banget kalau kamu jadian sama Pak Tian," ujar Anne.


Citra tak menanggapi ucapan Anne. Dia pura-pura menikmati sarapannya yang hampir habis piringnya.


"Mama juga setuju. Walaupun Mama belum pernah ketemu sama orangnya. Tapi mendengar cerita Anne, Mama yakin dia orang yang baik," timpal Bu Mirna.


Citra terdiam mendengar ucapan ibu sambungnya itu. Dalam hati dia membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut sang ibu.


"Dari luar baik belum tentu baik juga dalamnya," lirih Azwan.


Citra pun mendengar apa yang Azwan katakan. Tapi dia memilih diam dan tak menghiraukan itu. Dia tak ingin membuat keributan di rumah barunya.


"Kamu udah kasih tahu kan alamat rumah sini ke Pak Tian?" tanya Anne.


"Udah. Subuh tadi Pak Tian telpon aku lagi. Ya udah sekalian aku share loc alamat rumah sini," jawab Citra.


Mendengar Citra menyebut nama itu dengan lembut, hati Azwan semakin panas. Dia masih tak terima jika Citra bahagia bersama dengan orang lain. Tiba-tiba saja, Azwan membanting sendoknya ke atas piring. Dan tanpa berkata apa-apa, dia pergi meninggalkan ruang makan.


Citra menatap kepergian Azwan dengan perasaan sedih. Jujur saja dia tak ingin Azwan berubah seperti ini. Walaupun mereka sudah putus, tapi rasa sayang Citra padanya tentu masihlah ada.


"Yuk Cit, kita ke depan!" ajak Anne.


Citra menoleh dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia bangkit dari kursi dan membawa piring bekas makannya ke dapur.


"Kamu ngapain bawa-bawa piring?" tanya Anne.


"Mau diberesin. Habis makan kan harus beresin tempat makan kita sendiri." Citra menjawab sembari melangkah menuju dapur.


"Aku beresin juga deh," ucap Anne mengikuti apa yang dilakukan oleh Citra.


Bu Mirna tersenyum melihat sang anak melakukan kebiasaan baik seperti ini. Dalam hati, wanita itu merasa bersyukur. Dengan adanya Citra di rumah ini, dia berharap bisa memberikan contoh yang baik untuk yang lain.


Citra dan Anne berjalan ke arah ruang tamu dengan beriringan. Sesekali suara tawa mereka terdengar. Tiba-tiba langkah Citra terhenti di tangga. Matanya menatap ke arah seorang tamu dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Mas Tegar!" lirihnya.


*****


Hari ini Tian merasa sangat bahagia. Semalam, Citra memberitahunya jika ayahnya ingin bertemu dengan dirinya. Hatinya berbunga-bunga karena merasa mendapatkan lampu restu dari ayah Citra.


Senyum sumringah tak lepas dari wajah tampannya. Dia merasa sangat bahagia karena subuh tadi, Citra memberikan alamat tempat tinggalnya yang baru padanya.


Tian telah siap untuk berangkat. Bu Hamidah tampak heran melihat sang anak yang terus tersenyum bahagia itu.


"Waduh... waduh kayaknya ada yang lagi bahagia nih?" ujar Bu Hamidah.


Tian menoleh ke arah sang ibu. "Doain Tian ya Bu. Doain Tian berhasil deketin cewek," ucap Tian.


Bu Hamidah menautkan kedua alisnya. "Cewek? Anak mana?" tanya Bu Hamidah.


"Namanya Citra. Dia salah satu murid aku di sekolah. Tapi biarpun dia masih 16 tahun, dia dewasa banget Bu." Tian menjelaskan perihal Citra pada sang ibu.


Bu Hamidah tampak terkejut mendengar penjelasan Tian. Tapi sejurus kemudian wanita berhijab itu menganggukkan kepalanya.


"Kenalin ke Ibu," ucap sang ibu akhirnya.


"Iya. Nanti kalau aku udah berhasil deketin dia. Aku pasti bawa dia pulang dan kenalin dia ke Ibu," jawab Tian.


Bu Hamidah tersenyum. Dia bersyukur karena Tian mau membuka hatinya lagi setelah apa yang terjadi di masa lalunya. Tapi dia juga sedikit khawatir jika sang anak akan tersakiti lagi.


"Tian berangkat dulu ya," pamit Tian pada sang Ibu.


"Lho enggak makan dulu Yan?" tanya Bu Hamidah.


"Enggak usah Bu. Udah siang. Entar aja sarapannya bareng calon pacar." Tian tersenyum saat mengatakan itu.


"Ya sudah. Hati-hati berangkatnya. Jangan ngebut lho ya. Ingat kalau udah berhasil, bawa gadis itu pulang. Ibu pengin kenal sama dia." Bu Hamidah memperingatkan sang anak.


"Iya Bu. Tian janji. Kalau gitu Tian berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," ucap Tian.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Hamidah.


Tian segera naik ke atas motor besarnya setelah berpamitan pada sang ibu. Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Tian pun menambah laku motornya menjadi semakin tak terkendali.


Jalanan pagi ini terbilang cukup ramai lancar. Tian menghentikan motornya saat berada di lampu merah. Setelah lampu berubah hijau, dia kembali melajukan motornya.


Di rumahnya, Citra masih menunggu kedatangan Tian. Dia menunggu dengan perasaan cemas dan khawatir. Tak biasanya dia merasa seperti ini.


"Citra, maafin aku."


Tiba-tiba saja ucapan Tegar terngiang kembali di telinganya. Ya! Kedatangan Tegar tadi hanya untuk meminta maaf padanya. Citra sempat tak menghiraukan permintaan maaf itu. Tapi akhirnya dia mau juga memaafkan Tegar.


"Belum datang juga Cit?" tanya Pak Bayu.


"Belum Pa. Mungkin masih di jalan," jawab Citra.


Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berdering. Sederet angka tanpa nama tampak di layar ponselnya. Citra tampak ragu saat akan mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo, selamat pagi," sapa seseorang di seberang telpon.


__ADS_2