
Bu Mirna terus meraung memanggil-manggil nama Citra. Wanita itu histeris hingga membuatnya pingsan.
"Ma... Mama!" Pak Bayu memanggil nama sang istri. Tapi Bu Mirna tak bereaksi sedikitpun.
"Ma... Mama kenapa? Kenapa Mama nangis?" Pak Bayu menyeka air mata yang terus keluar dari kedua mata sang istri.
"Ma... Bangun Ma," ucap Pak Bayu lagi.
Bu Mirna tersentak kaget saat merasa tubuhnya ada yang mengguncang. Wanita itupun lantas membuka matanya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Pak Bayu.
Bu Mirna masih terdiam. Wanita itu mengedarkan pandangannya. Sepertinya wanita itu belum sepenuhnya tersadar.
"Mama mimpi buruk ya?" ujar Pak Bayu.
Bu Mirna menatap sang suami. "Citra gimana Pa?" tanyanya.
Pak Bayu mengerutkan keningnya. Pria itu lantas mengulas senyum.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Sekarang Citra masih dalam masa recovery pasca operasi," jawab Pak Bayu.
Raut kelegaan terpancar jelas di wajah Bu Mirna. Wanita itu mengucap syukur berulang kali. Tak ada kecemasan dan kekhawatiran yang ia rasakan.
"Alhamdulillah. Mama lega dengarnya," ucap wanita cantik itu.
"Sekarang Mama jawab pertanyaan Papa. Kenapa Mama menangis tadi? Mama mimpi apa?" tanya Pak Bayu.
Bu Mirna menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang suami. Kemudian wanita itu menceritakan mimpi buruknya tadi. Mimpi yang membuatnya merasa takut kehilangan.
Pak Bayu memeluk sang istri dan mencium pucuk kepala sang istri.
"Makasih ya Ma. Makasih banget," ucapnya.
"Makasih untuk apa?" Bu Mirna melepaskan pelukan suaminya sembari bertanya.
"Makasih karena Mama mau menerima Citra. Mau menyayangi Citra seperti anak kandung Mama sendiri," jawab Pak Bayu.
Bu Mirna tersenyum. Dia hanya ingin menebus kesalahan pada almarhumah ibunya Citra. Dia ingin menebus segala kesalahannya di masa lalu.
"Keluarga Citra Kusumawardhani?" panggil seorang perawat.
Pak Bayu segera berdiri. Kemudian berjalan menghampiri perawat itu.
"Iya Sus. Saya ayahnya Citra," jawab Pak Bayu.
__ADS_1
"Pasien akan dipindahkan ke kamar rawat Pak. Silahkan Bapak urus administrasi untuk kamarnya," ucap perawat itu.
Pak Bayu mengangguk. Pria itu kemudian berjalan menghampiri sang istri sebelum ke bagian administrasi.
"Papa urus administrasi Citra dulu ya Ma. Sebentar lagi Citra sudah bisa dipindah ke ruang perawatan biasa," jelas Pak Bayu.
Wajah Bu Mirna semakin berubah cerah. Wanita itu semakin merasa lega mendengar berita yang dibawa oleh sang suami. Kemudian wanita itu menganggukkan kepalanya.
Pak Bayu tersenyum. Pria itu lantas berjalan menuju bagian administrasi. Sedangkan Bu Mirna menunggu di ruang tunggu di depan kamar operasi.
Sementara itu, Anne dan Azwan baru saja keluar dari kelasnya. Mereka berjalan tergesa menuju gerbang sekolah. Karena Pak Kosim telah menunggu mereka di depan gerbang.
"Anne!" panggil Arga.
Anne dan Azwan kompak menoleh ke belakang. Anne tersenyum melihat kekasihnya itu. Dia kemudian melambaikan tangannya pada sang kekasih.
"Citra mana?" tanya Arga tanpa basa basi.
"Hm ini lagi satu. Manusia paling gue benci di muka bumi," gerutu Azwan.
Arga menatap Azwan sekilas. Kemudian dia menatap ke arah Anne lagi.
"Citra lagi di rumah sakit. Dua hari yang lalu dia kecelakan di depan sekolah," jelas Anne. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Arga tampak terkejut mendengar penjelasan Anne. Dua hari yang lalu dia tak berasa di sekolah karena ada keperluan. Jadi dia tak tahu kejadian yang menimpa Citra.
"Buruan An. Pak Kosim udah nungguin tuh di depan. Elo nggak mau telat kan ke rumah sakitnya?" ujar Azwan. Matanya melirik tak suka pada Arga yang juga tengah menatapnya.
"Kamu mau ke rumah sakit?" tanya Arga pada Anne.
Anne mengangguk. "Iya. Aku mau ke sana sekarang. Pak Tian juga kayaknya mau ikut ke sana," jawab Anne.
"Anne buruan. Gue nggak mau telat sampai sana." Azwan sedikit membentak Anne.
"Sabar dulu kenapa sih? Kalau mau ke sana, duluan aja sana. Jadi orang nggak sabaran banget sih?" Anne balik membentak Azwan. Membuat pemuda itu terdiam seketika.
"Aku ikut ya," kata Arga saat Anne kembali menatap ke arahnya.
Anne menganggukkan kepalanya. Senyum tipis membingkai wajah manisnya. Kemudian gadis itu menatap ke arah Azwan yang masih terdiam.
"Gue mau ke sana bareng sama Arga. Elo ke sana sama Pak Kosim aja," ucap Anne.
Azwan hanya bisa mengangguk pasrah. Pemuda itu kemudian berjalan menuju gerbang menghampiri supir pribadi ayahnya.
"Kita berangkat sekarang?" ujar Arga.
__ADS_1
Anne mengangguk. Keduanya lantas berjalan menuju tempat parkir motor. Tapi baru beberapa langkah, Anne seperti teringat sesuatu. Dia menghentikan langkahnya.
"Kenapa Sayang?" tanya Arga.
"Tunggu bentar Sayang. Aku mau telepon Pak Tian dulu. Katanya tadi mau ikut jenguk Citra juga," jawab Anne.
Kemudian gadis itu mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya. Dia tampak mengusap layar ponselnya dan mencari sebuah kontak. Tak berapa lama dia tampak menghubungi kontak tersebut.
...****************...
Hari telah beranjak senja. Matahari pun tampak bergulir ke arah barat. Tian dan yang lainnya baru saja keluar dari kamar perawatan Citra. Wajah-wajah mereka tampak lega setelah melihat keadaan Citra pasca operasi. Walaupun belum bisa banyak berbicara, namun Citra sudah bisa merespon jika ada yang mengajaknya bicara.
"Terimakasih ya kalian sudah mau menjenguk Citra," ucap Bu Mirna pada mereka.
"Sama-sama Tante. Saya juga minta maaf karena baru tahu kalau Citra masuk rumah sakit karena kecelakaan," jawab Tian. Pemuda itu sedikit menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
Bu Mirna tersenyum. Wanita itu seolah maklum dengan kesibukan Tian sebagai guru.
"Iya Tante. Arga juga minta maaf karena baru bisa jenguk kakak ipar," celetuk Arga.
Mendengar itu Anne lantas melotot ke arah kekasihnya itu. Sedangkan Bu Mirna tampak mengerutkan keningnya.
"Eh maksud Arga. Jenguk Citra," ralatnya.
"Iya nggak apa-apa Arga. Tante bisa ngerti kok kesibukan kalian berdua. Calon menantu Tante," ucap Bu Mirna yang sukses membuat kedua pemuda itu tersipu malu.
"Calon mantu? Wah parah nih Mama?" Anne berkata dalam hati sambil geleng-geleng kepala.
"Tante minta doanya ya. Semoga Citra bisa cepat sehat. Biar bisa cepat pulang dan sekolah lagi," ucap Bu Mirna lagi.
"Itu udah pasti Ma eh Tante," sahut Tian.
Bu Mirna hanya tersenyum melihat Tian menjadi salah tingkah seperti ini.
"Ya udah Tante. Arga pamit dulu ya. Soalnya Arga udah ada janji sama Bunda," pamit Arga.
"Iya. Hati-hati ya Arga. Salam buat orang tua kamu," ucap Bu Mirna.
Arga tersenyum saja. Kemudian dia segera berlalu dari sana setelah berpamitan melalui isyarat mata pada kekasih hatinya.
"Saya juga pamit pulang dulu Tante. Insya allah besok saya ke sini lagi." Tian juga ikut berpamitan setelah Arga berlalu dari sana.
"Iya Nak Tian. Hati-hati di jalan ya," ucap wanita cantik itu.
Setelah berpamitan, Tian segera melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah sakit. Dia segera menuju tempat parkir dan mengambil motornya. Saat dirinya memasang helmet di kepalanya. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu Yan!"