
"Assalamu'alaikum Mas Tegar," sapanya.
"Wa'alaikumusalam Dek. Kamu apa kabar Dek?" tanya Tegar.
"Alhamdulillah baik. Mas Tegar apa kabar?"
Obrolan mereka terus berlanjut hingga Tian berdiri di samping Citra. Sedangkan Anne hanya mendengarkan obrolan mereka dengan diam.
"Ya udah Mas. Aku mau pulang dulu ya. Nanti malam kita sambung lagi ngobrolnya," ucap Citra.
"Iya Dek. Jaga kesehatan ya. Jangan suka begadang," sahut Tegar.
"Iya Mas. Assalamu'alaikum," ucapnya sebelum menutup teleponnya.
"Wa'alaikumusalam," jawab Tegar.
Citra kemudian menyimpan kembali ponselnya di dalam tas sekolahnya.
"Yuk pulang sekarang!" ajak Citra tanpa memperdulikan keberadaan Tian di sana.
Anne melirik ke arah Tian sejenak. Dia menjadi serba salah sekarang.
"Em... Cit, aku kebelet nih. Aku ke toilet dulu ya!" pamit Anne.
Citra menatap Anne dan mengangguk. "Aku ikut kamu. Enggak enak kan nunggu di sini sendirian," ucapnya.
"Kamu pulang aja dulu nggak apa-apa. Takutnya nanti aku lama," sahut Anne seolah mengerti kode yang diberikan oleh Tian.
"Enggak apa-apa. Aku tungguin kamu," ucap Citra.
Kemudian dia kembali berjalan masuk ke area sekolah.
"Citra, bisa kita bicara?" ujar Tian mencegah langkah Citra.
Citra menghentikan langkahnya. Kemudian dia menatap ke arah Tian.
"Bisa kita bicara sebentar?" ulangnya.
"Bicara apa?"
"Kalau hanya ingin menjelaskan sesuatu yang nggak penting, maaf saya nggak bisa. Saya nggak ada waktu," ucapnya.
Mendengar itu, Anne menyenggol pelan lengan saudarinya itu.
"Cit, mending kamu ikut aja deh sama Pak Tian. Ingat kalau ada masalah jangan terus menghindar kayak gini," bisik Anne.
Citra menghela napas panjang. Benar juga apa yang dikatakan oleh Anne. Dia tak bisa terus-menerus seperti ini. Setiap kali ada masalah, dia selalu berusaha untuk menghindar.
"Em... maaf Pak. Citra bilang dia mau bicara sama Bapak. Tapi nggak di sini," ucap Anne.
Citra hendak mengajukan protes. Tapi Anne menyuruhnya diam saja melalui isyarat mata.
__ADS_1
Tian tampak tersenyum lega mendengar itu. "Oke. Kita bicara di rumah saya aja gimana?" ujar Tian.
Citra menganggukkan kepalanya tanda setuju. Senyum Tian semakin lebar melihat anggukan kepala Citra. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu segera menuju tempat parkir motor untuk mengambil sepeda motornya.
...****************...
Malam ini bintang bersinar demikian terangnya. Langit pun terlihat cerah tanpa ada mendung yang menutupinya. Suara binatang malam pun terdengar merdu di telinga.
Citra tampak sedang terlihat di dapur. Sejak tadi dia minta sang mama untuk mengajarinya membuat kue.
"Jangan lupa masukin baking sodanya ya!" ucap Bu Mirna.
Citra mengangguk. Dia kemudian memasukkan bahan sesuai dengan arahan mamanya.
"Setelah semua bahan udah tercampur rata, sisihkan dulu. Terus kamu siapin loyangnya dan jangan lupa olesi minyak di dasar loyangnya."
Citra melakukan apa yang disuruh oleh Bu Mirna. Dia menyiapkan loyang untuk memanggang kuenya.
"Nah, kalau loyang udah siap. Sekarang kamu tuang semua adonannya ke dalam loyang. Terus kamu hentak-hentakkan loyangnya supaya udara yang terperangkap di dalam adonan bisa keluar," ucap Bu Mirna.
Citra mengikuti semua arahan Bu Mirna. Dia tersenyum puas saat melihat hasil kue yang sudah dia panggang tadi.
"Kamu mau hias kuenya pakai apa? Mama cuman ada ini." Kata Bu Mirna sambil menunjukkan cokelat batang dan juga meses.
"Dihias sederhana aja sih Ma. Pakai cokelat sama meses juga udah cukup," jawab Citra.
Bu Mirna tersenyum. Wanita itu lantas membuka bungkus cokelat batang itu dan melelehkannya.
"Waduh harum banget nih baunya! Lagi bikin apa nih?" tanya Azwan yang baru saja pulang dari kajian di masjid.
Azwan tersenyum. "Asik! Jarang-jarang nih Mama bikin kue malam-malam," jawabnya.
"Bukan Mama yang buat. Citra yang buat tadi," sahut Bu Mirna.
"Wah! Pasti enak nih. Ya udah aku ganti baju dulu deh," ucap Azwan. Dia lantas berlalu dari dapur dan berjalan menuju kamarnya.
"Oh iya. Ada Pak Tian tuh di depan," ucap Azwan lagi. Setelah berkata demikian, Azwan kembali melanjutkan langkahnya.
"Pak Tian? Ngapain malam-malam ke sini?" tanyanya dalam hati.
"Cit, ini cokelatnya udah siap. Tinggal kamu tuangin aja di atas kuenya. Terus taburin pakai meses. Mama mau ke depan dulu." Bu Mirna memberitahu Citra sembari menyodorkan panci kecil berisi lelehan cokelat.
Citra menerima panci itu dan tersenyum. Gadis itu segera melakukan apa yang mamanya katakan. Tak berapa lama kue buatan Citra telah siap. Dia segera membawanya ke depan untuk dihidangkan.
"Silahkan dicicipi." Ucap Citra seraya menghidangkan kue itu.
Semua yang ada di sana tampak mengambil potongan kue itu satu per satu.
"Mama emang nggak pernah gagal kalau bebikinan," ujar Pak Bayu memuji.
"Eits! Jangan salah. Yang bikin kuenya bukan Mama. Tapi Citra yang bikin," jawab Bu Mirna.
__ADS_1
"Ini beneran kamu yang bikin Cit?" tanya Anne.
Citra mengangguk. Senyum bangga terukir di wajahnya saat semuanya suka dengan rasa kue yang baru pertama kali dibuatnya itu.
"Rasanya enak banget. Persis sama kue bikinan Mama," ucap Anne lagi.
"Aku memang yang buat, tapi resepnya dari Mama," jawab Citra.
"Pantas saja. Tapi enak kok. Aku suka. Enggak terlalu manis," ucap Anne akhirnya.
Setelah menikmati jamuan itu, Tian mengajak Citra duduk-duduk di gazebo yang ada di depan rumahnya. Di sana mereka bisa melihat jalanan yang tampak sepi di malam hari.
"Makasih ya!" ucap Tian.
"Makasih untuk apa?" tanya Citra.
"Makasih karena kamu mau dengar penjelasan aku tadi. Makasih karena kamu mau mengerti posisi aku," ucap Tian.
Citra menghela napas panjang. "Enggak perlu berterimakasih. Aku yang harusnya belajar lebih dewasa lagi. Harusnya aku belajar untuk mengontrol emosiku," jawab Citra.
"Aku harusnya bisa lebih ngertiin kamu. Harusnya aku nggak mengedepankan emosi sesaat saat aku melihat sesuatu yang menggangguku," lanjutnya.
"Harusnya aku nggak terlalu cemburu sama kamu. Kamu dan Bu Luna hanya rekam kerja. Dan kalian nggak punya hubungan yang lebih dari itu. Ya walaupun kenyataannya Bu Luna berharap kamu bisa menjadi kekasihnya," pungkasnya.
Tian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia sadar tak bisa dengan tegas menolak saat Luna mencoba mendekati dirinya. Bahkan Luna dengan jahatnya memfitnah Citra.
"Kamu... kamu nggak marah lagi kan sama aku?" tanya Tian.
Citra menatap wajah kekasihnya itu. Seulas senyum tipis terkembang di wajahnya. Sedetik kemudian, dia menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku masih marah, enggak mungkin aku mau susah payah belajar bikin kue sama Mama," ucap Citra.
"Maksud kamu?"
"Iya. Kalau aku masih marah. Aku nggak bakalan mau belajar bikin kue kesukaan kamu. Aku nggak bakalan mau membujuk Mama untuk mengajariku bikin kue seperti yang kamu suka," jawab Citra.
Tian merasa lega karena Citra tak lagi marah padanya. Dia merasa bersyukur karena Citra mau mengerti posisinya saat ini. Sekarang tugasnya adalah menjaga hati wanitanya agar tak patah atau bahkan hancur.
Saat tengah asik mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Tian berdering.
"Telepon dari siapa?" Tanya Citra saat melihat Tian menjadi tak nyaman.
"Ha! Bukan. Bukan dari siapa-siapa," jawab Tian. Suaranya terdengar bergetar karena gugup.
"Kenapa nggak diangkat?" Tanya Citra saat mendengar ponsel Tian berdering untuk ke sekian kalinya.
"Eng-enggak perlu. Palingan juga anak-anak tongkrongan yang ngajakin nongkrong. Lagi malas nongkrong aku," jawab Tian. Suaranya terdengar lebih bergetar karena takut dan gugup.
Citra semakin curiga dengan sikap Tian. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh Tian darinya. Sesuatu yang berhubungan dengan perempuan.
"Aku ke dalam dulu ya. Mau ambil minum," kata Citra.
__ADS_1
Tian mengangguk. Sepeninggal Citra, ponselnya berdering lagi. Kali ini Tian mengangkat telepon itu.
"Kamu di mana Yan? Aku butuh kamu sekarang!" ucap seseorang di seberang telepon.