Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 79


__ADS_3

Citra beringsut mundur saat tahu siapa yang berkunjung ke rumahnya sepagi ini. Dia menatap wajah orang itu dengan perasaan takut-takut.


"Hai Citra! Kita ketemu lagi." Bagas berkata sembari menatap Citra dengan penuh nafsu.


Citra tak membalas ucapan Bagas. Dia terus mundur hingga punggungnya menabrak sesuatu.


"Kenapa Cit? Kenapa kamu takut seperti itu?" ujar Bagas.


Citra hanya bisa menggeleng. Dia tak bisa membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Bagas. Dia menggeser tubuhnya ke samping.


Bagas terus berjalan mendekat ke arah Citra. Seringai menyeramkan tergambar jelas di wajahnya. Citra semakin ketakutan saat melihat wajah itu.


"Ayolah Citra. Jangan takut begitu. Aku tak akan menyakiti kamu. Aku akan membuat kamu menikmati setiap sentuhan yang aku berikan," ucap Bagas.


Citra terus menghindar dari jangkauan tangan pria itu. Dia tak ingin tangan pria itu menyentuh kulitnya.


"Jangan mendekat. Jangan mendekat ke arah ku." Citra berkata sembari menepis tangan Bagas.


Bagas tertawa mendengar ucapan Citra Pria itu menjadi bersemangat saat mendengar suara Citra yang ketakutan. Dia terus menggapai tubuh Citra dan mencoba memeluknya.


Citra berteriak saat tangan Bagas berhasil meraih pinggangnya.


"TOLOOONGG! JANGANN!" teriaknya.


"Citra! Cit! Bangun Cit! Citra! Kamu mimpi buruk ya. Citra!" Anne menggoyang-goyangkan tubuh Citra.


"Citra! Bangun Cit! Kamu mimpi buruk ya!" ucap Anne sekali lagi.


Citra terbangun dari tidurnya. Badannya berkeringat dan napasnya tak beraturan. Matanya memindai ke sekeliling.


"Citra! Kamu mimpi buruk ya?" tanya Anne lagi.


Citra menatap Anne. Wajahnya masih menyiratkan ketakutan yang luar biasa.


"Minum dulu gih!" Anne menyodorkan segelas air pada Citra yang tengah ketakutan.


"Jam berapa sekarang?" tanya Citra setelah tersadar.


"Udah masuk waktu subuh," jawab Anne.


Citra menarik napas lega. Ternyata itu semua hanya mimpi. Pertemuan tak sengaja dengan Bagas tempo hari membuatnya bermimpi buruk hari ini.


"Kamu mimpi apa sih? Sampai teriak-teriak segala?" tanya Anne.


Citra terdiam. Dia masih enggan menjawab pertanyaan Anne itu.


"Ya udah kalau nggak mau cerita. Kita salat subuh dulu yuk! Papa sama Mama pasti udah nungguin kita!" ajak Anne.


Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian dia dan Anne segera keluar dari kamar dan berjalan menuju musala kecil yang ada di samping kamar Citra.

__ADS_1


Paginya, Citra sedang membereskan kamarnya. Dia ingin menata ulang kamarnya. Tiba-tiba Bu Mirna masuk ke dalam kamar Citra.


"Duh rajin banget anak Mama. Pagi-pagi udah beres-beres kamar aja," ucap bu Mirna.


Citra menoleh dan tersenyum. Dia kemudian melanjutkan lagi kegiatannya. Bu Mirna berjalan mendekat ke arah Citra.


"Mau dimasakin apa buat sarapan Sayang?" tanya bu Mirna.


Seketika Citra menghentikan kegiatannya. Ingatannya kembali ke mimpinya semalam. Seperti dejavu, mimpi itu seolah diputar ulang.


Citra terpaku di tempatnya. Dia takut mimpinya tadi menjadi nyata.


"Cit! Kok diam aja? Mau dimasakin apa Nak?" tanya bu Mirna sekali lagi.


Citra menoleh dan mencoba tersenyum. "Apa aja deh Ma," jawab Citra akhirnya.


"Ya udah kalau gitu, Mama masakin nasi goreng sosis mau?"


Citra memaksakan senyumnya. Sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, bu Mirna segera keluar dari kamar Citra dan berjalan menuju dapur. Kini tinggallah Citra yang masih mematung di tempatnya.


"Nasi goreng sosis?" ulangnya dalam hati.


"Jangan sampai mimpi tadi menjadi kenyataan," harapnya.


...****************...


Tian baru saja tiba di rumahnya saat melihat ada seseorang yang menunggunya di teras rumahnya. Dia kira itu adalah Citra. Tapi ternyata dia salah.


"Selamat pagi Pak Tian!" sapa gadis itu.


Tian menganggukkan kepalanya saja. Dia menatap gadis itu dengan heran dan penasaran.


"Kamu siapa?" tanya Tian.


Gadis itu tersenyum. "Saya Silvi, Pak. Saya murid kelas X," jawab gadis itu.


Tian manggut-manggut mendengar jawaban gadis itu.


"Ada apa datang ke rumah saya? Dan... darimana kamu tahu alamat rumah saya?" tanya Tian.


Lagi-lagi gadis bernama Silvi itu tersenyum. "Saya cuman mau nganterin ini Pak!" Dia berkata sembari menyodorkan sekotak kue pada Tian.


"Dimakan ya Pak! Yah walaupun itu bukan bikinan saya sendiri, tapi saya memberikannya tulus untuk Bapak!" lanjutnya.


Tian menerima kotak itu. Kemudian dia meletakkannya di atas meja kecil yang ada di sana.


"Makasih," ucap Tian pendek.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum sekali lagi. "Em... Pak Tian ada acara nggak?" tanyanya.


"Kenapa?"


Tian mulai tak nyaman dengan kehadiran salah seorang anak didiknya itu.


"Em... saya mau ngajak Pak Tian jalan. Biar... biar kita tambah akrab gitu. Siapa tahu kita jodoh," ucap gadis itu malu-malu.


Tian tersenyum miring. "Maaf. Sebaiknya kamu pulang!"


Gadis itu tercengang. Dia tak percaya Tian akan mengusir dirinya begitu saja.


"Sebaiknya kamu pulang. Enggak baik pagi-pagi anak gadis main ke rumah cowok," ucap Tian lagi.


Setelah berkata demikian, Tian masuk ke dalam rumahnya. Dia tak peduli pada perasaan Silvi.


"Uuhh! Nyebelin banget sih jadi orang. Tapi... ganteng sih! Lihat aja. Gue pasti bisa dapetin perhatian Pak Tian dan gue menang taruhan!" ujarnya.


Kemudian gadis itu segera berlalu dari rumah Tian. Dia berjalan menjauh dari rumah minimalis itu.


Sementara itu, Citra sedang menikmati minuman dinginnya sambil membaca buku di teras belakang. Dia tampak khusyuk membaca hingga tak menyadari ada seseorang yang berdiri di depannya.


"Serius banget bacanya!" tegur Azwan.


Citra terlonjak kaget mendengar teguran dari Azwan.


"Azwan, bikin kaget aja deh!" ucap Citra. Gadis itu mengelus dadanya yang berdebar karena kaget.


Azwan tersenyum. Dia kemudian menempatkan tubuhnya di sebelah Citra. Hening menyelimuti keduanya. Rasanya rada aneh saat duduk berdua dengan mantan yang ternyata adalah saudara seayah.


"Maafin sikap aku yang dulu ya!" ucap Azwan tiba-tiba.


Citra menoleh dan mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan ucapan Azwan barusan.


"Aku sadar. Dulu aku jahat banget sama kamu. Mainin perasaan kamu. Menghina kamu. Dan aku ngebiarin Shintya melakukan sesuatu di batas normal," ucap Azwan lagi.


Citra masih terdiam. Dia sama sekali tak menimpali ucapan Azwan.


"Sekarang aku baru sadar. Ternyata kasih sayang kamu tulus banget. Kamu nggak pernah mengharapkan imbalan dari apa yang sudah kamu lakukan untuk orang lain," lanjutnya.


"Aku juga minta maaf karena dulu sering bikin kamu nangis. Sering bikin kamu kecewa." Azwan berkata sambil menatap wajah Citra.


Citra tersenyum. "Aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf sama aku. Aku nggak pernah mengingat itu semua. Sekarang, jangan dibahas lagi ya!" sahut Citra.


Azwan menarik napas lega. Dia tahu Citra tak akan menyimpan dendam pada siapapun juga. Dia akan dengan mudahnya memaafkan kesalahan orang lain. Seberapapun beratnya kesalahan itu.


Hening kembali menyelimuti keduanya. Hingga sebuah suara menegur mereka berdua.


"Duh asiknya! Pagi-pagi udah berduaan aja!"

__ADS_1


__ADS_2