
Anne menghela napas sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.
Melihat anggukan kepala sang adik, Azwan tersenyum. Setelah itu dia langsung kembali ke kamarnya untuk memberitahu sang Ustaz.
"Pagi Anne!" Citra menyapanya sembari memeluknya dengan erat.
Anne terkejut mendengar suara Citra. "Astaghfirullahalazim! Bikin kaget aja deh kamu," ucap Anne.
Citra tersenyum mendengar gerutuan Anne. "Lagi bikin apa?" Tanyanya sembari mengeluarkan gelas dari rak.
"Sandwich tuna. Kamu mau?" tawar Anne.
Citra menggeleng. "Makasih. Tapi aku nggak suka tuna. Aku mau bikin roti bakar aja."
Anne tersenyum mendengar ucapan saudarinya itu. Kemudian dia membawa sandwich buatannya ke meja makan. Sementara itu, Citra sedang menyiapkan bahan untuk membuat roti bakar.
Di tempat lain, Tian tampak sedang bersiap untuk pergi. Dia sudah berdandan serapi mungkin pagi ini. Tian tampak menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum ke badannya.
"Bu, Tian keluar dulu ya," pamit Tian pada sang Ibu.
"Mau pergi ke mana? Kalau kamu mau menemui Luna, Ibu nggak izinkan. Karena selamanya calon menantu Ibu itu Citra bukan yang lain," ucap Bu Hamidah.
"Enggak Bu. Aku mau ke rumahnya Citra kok," ucap Tian.
"Ya sudah Ibu izinkan. Tapi awas kalau sampai kamu pergi menemui wanita nggak tahu sopan santun itu," kata Bu Hamidah.
"Enggak Bu. Aku nggak akan ketemuan sama dia. Jugaan aku nggak suka sama dia. Dianya aja yang terlalu percaya diri."
Setelah berpamitan, Tian segera mengeluarkan sepeda motornya dari dalam garasi. Saat akan menstarter motornya, Luna datang menghampiri dirinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Luna.
Tian tak menghiraukan pertanyaan Luna. Dia menstarter motornya dan segera berlalu pergi dari sana.
Luna tampak kesal karena diacuhkan oleh Tian. Karena merasa penasaran, akhirnya Luna mencoba untuk membuntuti Tian.
"Kamu sebenarnya mau ke mana sih? Awas aja kalau sampai kamu pergi ke rumahnya Citra!" gerutunya.
Motor Tian terus melaju hingga memasuki sebuah kompleks perumahan elite. Luna terus mengikutinya hingga motor Tian berhenti di depan sebuah rumah mewah.
Tian turun dari motornya dan berjalan menuju pintu depan rumah itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Tian.
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara seseorang menjawab salamnya dari dalam rumah. Tak berapa lama Bi Lani keluar dari dalam rumah.
"Assalamu'alaikum Bi. Citranya ada?"
"Wa'alaikumusalam Mas Tian. Ada Mas. Mbak Citra ada di dalam," jawab Bi Lani.
Senyum terkembang di bibir Tian. Dia merasa senang karena orang yang dia cari ada di rumah. Tian mengikuti langkah Bi Lani masuk ke dalam rumah.
"Tunggu sebentar ya Mas. Saya panggilkan Non Citranya dulu," ucap Bi Lani.
Tian menganggukkan kepalanya. Dia lantas duduk di kursi ruang tamu sementara Bi Lani memanggil Citra keluar.
Luna menunggu Tian keluar dari dalam rumah itu. Tapi sampai hampir setengah jam, Tian tak kunjung keluar juga. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dari mobilnya dan berjalan menuju rumah itu.
Luna mengendap-endap masuk ke halaman rumah besar itu. Dia berhasil melewati pos satpam yang tampak kosong itu. Dia terus berjalan hingga sampai di pintu rumah yang terbuka lebar itu.
Dari luar dia bisa mendengar percakapan orang-orang yang ada di dalam rumah itu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Pak Bayu duduk di samping Citra.
"APA?!" Pekik Luna sembari berjalan masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi.
"Luna!" pekik Tian kaget.
"Apa maksud semua ini? Apa maksudnya ini semua?" teriaknya marah.
"Apa saya nggak salah dengar?" tanyanya.
"Apa saya tidak salah dengar kalau Citra ini anak Pak Bayu? Bukankah Citra ini adalah anak seorang pedagang kelontong yang sekarang sudah tutup itu?" tanyanya.
"Citra memang anak kandung saya. Dia adalah anak saya dari istri pertama saya," jelas Pak Bayu.
"Kamu siapa? Dan kenapa nggak sopan sekali masuk rumah orang tanpa permisi?"
"Saya Luna. Saya...."
"Orang yang udah kerja sama dengan Arga untuk memisahkan Citra dengan Pak Tian. Dan mengarang cerita agar Mama membenci Pak Tian," potong Anne cepat.
Luna menatap Anne dengan pandangan tak suka. "Jangan asal bicara kamu. Saya dengan Tian sudah lama menjalin hubungan. Tapi karena pelakor kecil ini hubungan Saya dengan Tian menjadi berantakan." Ucapnya sambil menunjuk ke arah Citra.
Anne tersenyum miring. "Oh iya? Buktinya apa kalau Pak Tian ada hubungan dengan Bu Luna? Bukannya dari dulu Pak Tian mendekati Citra. Saya saksinya Bu," sahut Anne.
Luna mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa geram karena rencananya dibongkar oleh seorang yang sama sekali tak ia perhitungkan.
Tanpa bicara sepatah katapun juga, Luna keluar dari dalam rumah itu dengan membawa sejuta kesal dalam hatinya. Dia tak suka dengan Anne Dan semua yang ada di rumah itu.
__ADS_1
"Hei tunggu!" cegah Pak Bayu saat Luna hampir mencapai pintu.
"Nama kamu siapa tadi? Luna? Bukannya kamu salah satu guru di yayasan saya?" tanya Pak Bayu.
Luna menganggukkan kepalanya. "Iya. Saya memang guru di yayasan yang Bapak kelola. Kenapa?" tanyanya dengan angkuh.
Pak Bayu tersenyum. "Mulai besok silakan cari sekolah lain ya. Karena sekolah Saya tidak membutuhkan guru seperti Anda!" ucap Pak Bayu tegas.
...****************...
Luna terduduk lemas saat menerima surat pemecatannya yang dikirim melalui email. Dia membaca isi surat itu dengan tatapan nanar. Air matanya terjatuh tanpa bisa ia hentikan.
"Harusnya aku tak menerima surat ini. Harusnya yang ku terima adalah surat pengangkatan. Bukan surat pemecatan," ucapnya.
Dia menelungkupkan wajahnya ke atas bantal. Air matanya terus mengalir membasahi bantal.
Mendengar suara menangis dari dalam kamar anaknya, Bu Fatimah segera menghampiri sang anak.
"Lun... Luna kenapa menangis?" tanyanya.
Luna mengangkat wajahnya. Dia menatap sang bunda dengan perasaan campur aduk.
"Ibu...? Kenapa nasib Luna seperti ini? Kenapa Luna harus mengalami semua ini?" Tanyanya sembari memeluk tubuh ringkih sang ibu.
"Ada apa Nak? Coba cerita sama Ibu," ucap Bu Fatimah.
Luna melepaskan pelukannya dari sang ibu. Dia kemudian menceritakan semuanya tanpa ada yang dia tutup-tutupi lagi. Bu Fatimah mendengarkan cerita sang anak dengan saksama. Wanita itu hanya bisa mengelus dadanya saja saat Luna selesai menceritakan semuanya.
"Luna, Ibu nggak bisa menyalahkan rasa cinta yang kamu miliki. Ibu akan sangat senang jika kamu bisa mencintai seseorang lagi," ucap Bu Fatimah.
"Tapi, Ibu nggak bisa membenarkan tindakan kamu yang terkesan memaksakan kehendak dan tidak sopan itu," lanjutnya.
"Tapi aku mencintai dia Bu. Aku mencintai dia," sahut Luna.
"Iya Ibu paham. Tapi kita tidak bisa memaksakan cinta yang bukan untuk kita Luna. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk membalas cinta kita," jawab Bu Fatimah.
"Kalau memang kamu mencintai dia, menyayangi dia. Doakan dia. Semoga dia selalu dilimpahi kebahagiaan. Walaupun dia tidak bersama dengan kita," pungkasnya.
Luna terdiam mendengar ucapan sang ibu. Dia membenarkan setiap kata yang keluar dari mulut perempuan yang telah melahirkan dirinya itu.
"Sekarang kamu istirahat ya. Sudah malam," ucap Bu Fatimah.
Luna menganggukkan kepalanya. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membalutnya dengan selimut tebal.
__ADS_1
Sepeninggal sang ibu, Luna kembali bangun dari tidurnya. Dia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidurnya.
"Halo, bisa kita bicara?"