
Anne berlari saat melihat Pak Hamzah dan Bu Aminah duduk di ruang tamu rumahnya.
"Bapak sama Ibu apa kabar?" Anne bertanya sembari memeluk kedua orang tua angkat saudaranya itu.
Pak Hamzah dan Bu Aminah tersenyum. "Alhamdulillah baik Nak. Kamu apa kabar?" tanya Bu Aminah.
Anne tersenyum mendengar itu. "Aku baik. Bapak sama Ibu mau ketemu sama Citra ya?" tanya Anne.
Keduanya menganggukkan kepala. Seulas senyum tergambar di wajah kedua orang tua itu.
"Citra masih keluar. Paling bentar lagi pulang. Bapak sama Ibu tunggu aja," kata Anne lagi.
Keduanya lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan Anne. Dalam hati mereka berharap bisa segera bertemu dengan Citra untuk berpamitan.
Sementara itu, Citra tampak sedang menunggu seseorang di taman dekat rumahnya. Senyum tipis tergambar di wajahnya.
Citra mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya menatap ke arah kupu-kupu aneka warna yang terbang dan hinggap di bunga-bunga.
"Seekor ulat yang terlihat begitu menjijikkan bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Namun sebelum bisa menjadi kupu-kupu, ular harus melalui proses yang menyakitkan. Dan dia harus bersembunyi di dalam kepompong selama kurang lebih 20 hari sebelum akhirnya menjadi kupu-kupu indah."
Citra menoleh ke asal suara. Dia tersenyum saat melihat siapa yang berbicara barusan.
"Apa kabar Dek?" tanya Tegar.
Entah bagaimana awalnya hingga Tegar bisa kembali lagi ke kota ini setelah sebelumnya dia bertugas di seberang pulau.
"Mas kangen sama kamu Dek!" Tegar berkata sembari memeluk erat tubuh mungil Citra.
Citra membalas pelukan Tegar dengan erat. Seolah ingin melepaskan rasa rindu dalam hatinya.
"Apa kabar Citra?" Tegar mengulangi lagi pertanyaannya sambil melepaskan pelukannya.
"Aku baik. Mas Tegar apa kabar?" Kali ini giliran Citra yang bertanya pada Tegar.
Keduanya saling melepaskan rindu. Saling bertukar cerita kala tak bertemu selama ini. Citra bercerita banyak hal. Tentang dirinya dan juga hubungannya dengan Tian. Walaupun sakit, tapi Tegar tetap mendengarkannya dengan saksama.
__ADS_1
"Mas Tegar balik dulu ya. Dan makasih sudah mau berbagi cerita. Maaf kalau selama ini Mas belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu," ucapnya.
Mata Citra berkaca-kaca mendengar ucapan Tegar. Dalam hati dia masih ingin bercerita banyak hal pada Tegar. Tapi apa boleh buat. Tegar harus segera kembali bertugas.
"Mas Tegar jaga diri baik-baik. Aku selalu sayang sama Mas Tegar," ucap Citra.
Mendengar kata sayang keluar dari mulut Citra, hati Tegar berbunga-bunga. Walaupun dia tahu arti kata sayang yang diucapkan oleh Citra adalah sayang dari adik untuk kakaknya. Bukan sayang seorang perempuan kepada laki-laki.
"Kamu juga jaga diri baik-baik. Mas akan selalu ingat sama kamu," sahutnya sebelum beranjak dari hadapan Citra.
Citra mengangguk. Kemudian dia mengantarkan kepergian Tegar dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa tak rela saat Tegar berpamitan.
Senyum masih terkembang di wajahnya kala seseorang menegurnya.
"Dia siapa?" tanya orang itu tanpa basa basi.
Citra terlonjak kaget mendengar teguran orang itu. Dia lantas menoleh dan mendapati Tian menatapnya dengan tajam.
"Dia... dia Mas Tegar. Dia kakak angkat aku," jawab Citra lirih.
"Kamu akrab banget ya sama dia?" tanya Tian lagi.
Citra mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan pertanyaan Tian. Jelas saja dirinya akrab dengan Tegar. Lha wong sedari kecil sudah tinggal bersama di rumah Pak Hamzah dan Bu Aminah.
"Iya. Aku sama Mas Tegar memang sangat dekat. Bahkan bisa dibilang Mas Tegar itu bayangan aku," jawab Citra. Matanya menatap ke arah di mana Tegar menghilang dari pandangan mata.
Tian memalingkan wajahnya. Hatinya benar-benar merasa cemburu mendengar jawaban yang diberikan oleh Citra.
"Kamu suka sama dia?" tanya Tian.
Citra menoleh ke samping dan menatap Tian. "Maksudnya?"
Tian tersenyum sinis. "Enggak mungkin kamu nggak ngerti pertanyaan aku. Atau kamu cuman pura-pura saja? Sama seperti kamu pura-pura ingin berbicara dengan ku tapi justru kamu ketemuan dengan cowok lain?" ujar Tian.
Citra semakin tak mengerti dengan omongan Tian. "Maksud Bapak apa? Aku nggak ngerti sama sekali!" Citra bertanya dengan nada suara yang sedikit meninggi.
__ADS_1
"Aku luangin waktu aku buat ketemu sama kamu. Tapi apa? Kamu malah ketemuan sama cowok lain. Pakai pelukan segala," ucap Tian. Tak ada nada lembut yang dia gunakan saat berbicara dengan Citra.
"Aku dari tadi pengin nyamperin kamu. Tapi ternyata kamu sudah lebih dulu disamperin sama cowok itu. Terlepas dia itu kakak angkat kamu atau bukan. Tapi aku nggak suka lihat kamu dipeluk sama cowok lain. Aku nggak suka kamu didekati oleh orang lain," lanjutnya.
Citra menatap Tian tak mengerti. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perlahan. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kalau emang tadi udah di sini, kenapa nggak langsung samperin ke sini? Biar bisa sekalian aku kenalin sama cowok itu tadi!" balas Citra dengan suara tak kalah ketusnya.
Tian menatap Citra dengan sorot mata tajam. Citra membalas tatapan mata itu dengan tak kalah tajamnya. Dia tak ingin ada orang lain yang mencoba mengintimidasi dirinya lagi.
"Maaf!" Ucap Tian seraya menundukkan kepalanya. Dia sadar telah berkata kasar pada Citra.
"Maafin aku. Aku... aku terlalu cemburu. Aku terlalu menuruti emosiku," lanjutnya.
Citra menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia juga sempat terbawa emosi saat Tian membentaknya tadi.
"Papa udah cerita semuanya sama aku," ucap Citra setelah emosinya agak reda.
Tian menatap Citra dengan pandangan lega sekaligus senang.
"Papa udah serahin semuanya sama aku. Apapun keputusan aku, Papa akan dukung. Papa nggak mau maksa aku untuk mau menerima kamu lagi. Tapi Papa pesan sama aku untuk memikirkan semuanya," ucap Citra.
Tian menjadi sedikit takut saat mendengar kelanjutan ucapan Citra. Dia takut Citra akan memilih untuk meninggalkan dirinya.
"Terus kamu bagaimana keputusan kamu?" Tian memberanikan diri bertanya seperti itu agar dia tahu apa yang Citra pilih.
Citra menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Tian. Hatinya masih diliputi keraguan dan kebimbangan. Dia masih ragu untuk menentukan pilihannya.
"Apapun keputusan kamu, aku akan terima itu. Walaupun itu adalah hal yang paling menyakitkan sekalipun untuk aku," ucap Tian.
Citra menghela napas panjang sekali lagi. Dia mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak saat mendengar ucapan Tian barusan.
"Aku... aku udah putuskan untuk... untuk...."
Citra tampak berat untuk mengatakan itu. Sedangkan Tian semakin dibuat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Citra.
__ADS_1