Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 33


__ADS_3

Citra dan Anne tampak duduk di sebuah bangku di sudut kantin. Mereka berdua sesekali tertawa dan melirik ke arah Arga yang masih mengantre.


"Aduh lama banget sih si Arga? Udah lapar banget aku." Ucap Anne sambil memegangi perutnya.


Citra tersenyum. "Sabar. Bentar lagi juga datang. Kita tunggu aja," jawab Citra.


Anne nyengir saja mendengar jawaban Citra. Keduanya kembali saling diam. Tak ada yang berbicara sepatah kata pun hingga...


"Boleh gabung?" Seseorang berdiri di samping meja mereka dan bertanya.


Keduanya kompak menoleh. Mata Citra membulat sempurna melihat siapa yang baru saja bertanya pada mereka berdua.


"Boleh Pak, silahkan," ucap Anne yang tak tahu apa-apa.


Citra melotot ke arah Anne. Dia memberi kode agar tak mengizinkan Pak Tian duduk semeja dengan mereka. Tapi Anne sama sekali tak mengerti kode yang diberikan oleh Citra.


"Makasih." Tian berucap sambil menempatkan diri di samping Citra.


"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Tian pada kedua anak didiknya itu.


"Sudah. Arga yang memesankan makanan untuk kami." Citra menjawab dengan nada jutek pertanyaan Tian.


Tian mengangguk paham. "Kalian lagi ngobrolin apa? Kelihatannya seru sekali?" tanya Tian lagi.


Citra. menoleh ke sampingnya dan menatap wajah Tian dengan pandangan tak suka.


"Harus banget gitu Pak Tian tahu apa yang kami obrolkan?" sahut Citra tak bersahabat.


Tian menjadi salah tingkah mendengar ucapan ketus Citra. Tapi dalam hati dia berbuat untuk terus mendekati Citra dan berusaha mendapatkan hati gadis itu.


"Ya enggak juga sih. Tapi kalau kalian mau berbagi dengan saya, saya akan dengan senang hati," ucap Tian.


Citra menyunggingkan senyum sinis mendengar ucapan Tian. Entah kenapa saat berdekatan dengan Tian, dia merasa kesal dan ingin marah. Tak biasanya dia seperti itu.


Arga berjalan cepat menuju meja Citra dan Anne. Matanya menatap tak suka pada Tian yang masih duduk di samping Citra.


"Nih Cit pesanan kamu." Arga meletakkan semangkuk seblak ceker di hadapan Citra saat dirinya sudah berada di meja Citra.


"Makasih Arga," ucap Citra dengan nada di buat-buat.


Tian pura-pura menikmati makanannya saat melihat Arga memberikan perhatian pada Citra. Hatinya terasa panas dan cemburu melihat Citra yang juga bersikap baik pada Arga.


Anne hanya menatap ketiga orang itu dengan pandangan tak. mengerti. Dia bingung dengan sikap Citra yang tiba-tiba berubah jutek saat berbicara dengan orang lain. Tak biasanya Citra bersikap demikian pada orang lain.


"Pesanan gue mana Ga?" tanya Anne.


"Tuh ambil sendiri." Arga berkata ketus sambil menunjuk ke atas baki yang ada di atas meja.


"Ck! Giliran Citra aja diambilin. Giliran gue suruh ambil sendiri," gerutu Anne. Tangannya mengambil mangkuk yang ada di atas baki itu.


"Ya kan tangan lo lengkap. Bisa ambil sendiri kan," ucap Arga.

__ADS_1


"Citra kan juga sama. Dia juga bisa ambil sendiri. Tapi elo ambilin buat dia," kata Anne tak mau kalah.


Arga sudah akan menjawab perkataan Anne. Saat dirasakannya tatapan mata Citra mengarah kepadanya.


"Arga! Anne! Stop. Duduk dan makan. Enggak usah berantem," ucap Citra.


Keduanya lantas menghentikan pertengkaran mereka. Mereka duduk dengan baik dan menikmati makanan mereka masing-masing.


"Nah gini kan enak lihatnya. Udah gede juga masih aja berantem," ucap Citra lagi.


Tian yang melihat itu semakin terpesona pada Citra. Dia semakin ingin mendekati Citra lagi dan mendapatkan hati gadis itu.


"Arga tuh yang duluan," gerutu Anne.


"Enak aja. Elo tuh yang mulai duluan," elak Arga.


"Arga! Anne! Udah stop. Duduk diam. Makan. Jangan berantem lagi. Enggak malu apa dilihat sama..." Mata gadis itu melirik ke arah Tian yang duduk di sebelahnya.


Arga dan Anne mengikuti arah lirikan mata Citra. Mereka berdua kemudian tersenyum malu-malu saat melihat Tian.


"Eh Pak Tian," ucap Arga malu-malu.


Tian tersenyum tipis sambil menatap ke arah Arga. Hatinya masih terbakar cemburu melihat keakraban Citra dengan Arga.


"Kalian lanjut saja makan siangnya. Saya duluan ya." Tian bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan meninggalkan meja mereka.


Anne dan Arga tersenyum mendengar ucapan Tian. Sedangkan Citra tetap saja bersikap cuek. Dia sama sekali tak menghiraukan ucapan Tian.


Anne menyenggol lengan Citra saat Tian sudah tak berada di sana.


"Kamu jutek banget sama Pak Tian. Kenapa?" tanya Anne yang penasaran dengan perubahan sikap Citra.


Citra mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Anne. Kemudian dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Cit," panggil Anne. Gadis itu semakin merasa penasaran karena Citra tak langsung menjawab pertanyaan darinya.


"Apa?" Nada suara Citra terdengar lebih ketus dari biasanya.


Anne terhenyak mendengar suara Citra yang sedikit ketus. Dia tak pernah mendengar Citra berbicara seketus ini pada orang lain.


"Sorry kalau pertanyaan aku menyinggung perasaan kamu. Aku cuman pengin tahu aja kok," lirih Anne.


Citra menghela napas panjang. Dia menyeruput minumannya sebelum menjawab pertanyaan dari Anne.


"Aku nggak apa-apa. Tapi enggak tahu kenapa kalau di dekat Pak Tian atau dengar orang menyebut nama itu, dadaku jadi sesak. Jadi kayak pengin marah aja," jelas Citra.


"Itu artinya kamu nggak suka sama orang itu," sahut Arga.


Citra mengangkat bahunya. "Tahu deh. Tapi yang jelas aku ngerasa empet aja kalau ada dia," ucap Citra.


Anne menarik napas lega saat mendengar ucapan Citra. Dia takut kalau Citra tersinggung dengan ucapannya tadi.

__ADS_1


"Jangan terlalu benci Cit. Kalau dia jodoh kamu gimana?" goda Anne. Senyum tipis terbingkai di wajah cantiknya.


Citra tak menanggapi ucapan Anne. Dia malah sibuk menghabiskan makanannya. Justru Arga yang tampak tak suka dengan ucapan Anne. Pemuda itu tampak ingin menanggapi ucapan Anne. Tapi dia takut dengan Citra.


"Yuk bayar. Setelah itu kita kembali ke kelas," ajak Citra.


"Kalian ke kelas aja. Biar aku yang bayarin makanan kalian," sahut Arga yang mendengar ucapan Citra.


Citra menatap tajam ke arah Arga. Pemuda itu sampai kaget melihat tatapan mata Citra.


"Kenapa? Aku nggak salah ngomong kan?" lirihnya.


Citra masih menatap tajam wajah Arga. "Terimakasih. Tapi kami masih mampu membayar semangkuk makanan yang kami makan," ucap Citra tegas.


Setelah berkata demikian, Citra segera berlalu dari hadapan Arga. Dia meninggalkan Arga yang masih terlihat shock mendengar ucapan tegas Citra.


*****


Suara bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu. Citra masih membereskan buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Dia sengaja pinjam banyak buku agar saat liburan nanti dia ada bahan bacaan.


"Citra," panggil seseorang.


Citra mendongakkan kepalanya. Seraut wajah tampan berhiaskan senyum tampak berdiri di depannya. Pemuda itu mengenakan seragam batik yang biasanya dipakai oleh para guru.


"Belum pulang?" tanya pemuda itu.


Citra diam saja. Dia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan dari pemuda itu.


"Mau pulang bareng?" tawar pemuda itu lagi.


Citra tetap saja diam. Dia tak menanggapi tawaran dari pemuda tampan itu. Citra menutup ritsleting tasnya dan menyampirkan tali tasnya di bahunya. Tanpa berkata apa-apa, dia lantas berjalan menjauh dari pemuda itu.


"Citra tunggu," ucap pemuda itu.


Citra melangkahkan kakinya menjauh dari Tian yang berusaha mengejarnya. Citra tak peduli saat Tian terus saja menyerukan namanya.


Citra terus berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Saat melewati lapangan, sepasang tangan mendorongnya hingga ia terjatuh.


"Heh! Enggak bisa dapetin gue dan Azwan. Sekarang malah deketin guru. Dasar cewek murahan lo." Sebuah suara yang amat Citra kenal sedang menghinanya.


Citra berusaha bangkit. Tapi kakinya terasa sakit dan perih. Ternyata kakinya lecet karena tergesek lapangan.


"Heh! Jadi cewek yang tahu diri dikit. Kalau wajah enggak cakep, seenggaknya elo nggak murahan," hina Dirga lagi.


Dada Citra terasa sesak mendengar hinaan dari Dirga. Dia memberanikan diri menatap wajah pemuda itu. Matanya berkaca-kaca mendengar hinaan yang keluar dari sosok yang pernah mengisi hatinya itu.


"Apa? Elo marah?" sentak Dirga lagi.


Citra berusaha bangkit. Walaupun kakinya terasa sakit, tapi dia berusaha untuk berdiri. Belum juga dirinya berdiri sempurna, Dirga mendorong bahunya. Citra hampir saja terjengkang jika tidak di tangkap oleh seseorang.


Citra menatap ke arah orang yang menolongnya itu. Kedua mata mereka saling berpandangan. Membuat deburan ombak dalam dada Citra bergemuruh.

__ADS_1


__ADS_2