Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 66


__ADS_3

Citra menoleh ke asal suara. Dia memicingkan matanya dan mencoba mengingat suara itu.


"Mau ganti gaya seribu kali pun, elo nggak akan mampu saingan sama gue. Gue jauh lebih segala-galanya dari elo, Citra!" ulangnya lagi.


Anne hendak membalas ucapan itu. Tapi dengan cepat Citra menahannya. Dia tidak ingin terjadi keributan. Apalagi ini di tempat umum.


Bu Mirna juga hendak melakukan hal yang sama. Tapi Citra mencegahnya juga.


"Biarin aja Ma. Kita nggak perlu balas omongan dia. Semakin dia membanggakan dirinya sendiri, semakin terlihat kalau dia memang sedang butuh pengakuan dan perhatian," bisik Citra.


Bu Mirna terdiam. Kemudian wanita itu kembali duduk dan membaca majalah yang ada di sana. Demikian pula dengan Anne. Dia juga kembali duduk dan melakukan perawatan.


"Dasar nggak tahu sopan santun. Sekali jelek tetep jelek. Enggak ada ceritanya upik abu jadi Cinderella. Kecuali dalam dongeng," serangnya lagi.


Citra tak menggubris omongan gadis yang ternyata adalah Karin. Dia membiarkan Karin berkata seenak hatinya.


Anne juga tampak menikmati perawatan yang dilakukannya. Walaupun terlihat sangat kesal, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa selain diam.


Menjelang makan siang rangkaian perawatan yang dilakukan oleh Citra dan Anne selesai. Mereka lantas menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


"Terimakasih Tante Dewi," ucap Citra.


"Sama-sama Citra. Nanti kalau kalian mau perawatan, ke sini aja. Ajak sekalian teman-temannya!" sahut Jeng Dewi.


Setelah berbasa basi sedikit, Bu Mirna mengajak anak-anaknya untuk makan siang.


"Makan di mana Ma?" tanya Anne.


"Kalian mau makan di mana?" Bu Mirna balik bertanya pada anak-anaknya.


"Bakso pemuda aja Ma," jawab keduanya bersamaan.


Bu Mirna tersenyum mendengar jawaban kedua anaknya.


"Kalian ini kompak banget deh. Sama-sama suka bakso lagi," ucap Bu Mirna.


"Kami berdua kan bestie forever Ma." Lagi-lagi keduanya menjawab secara bersamaan.


Bu Mirna tersenyum mendengarnya. Mobil terus melaju hingga tak terasa mereka telah sampai di sebuah warung bakso.


Anne segera turun dari mobil disusul kemudian oleh Citra dan Bu Mirna. Saat akan masuk ke dalam, tanpa sengaja mata Anne melihat seseorang yang sangat dikenalnya tengah asik berduaan dengan seorang wanita. Senyum Anne luntur seketika saat melihat pemuda yang amat ia sayangi ternyata menduakan dirinya.


"Kamu kenapa An?" tanya Bu Mirna.


"Eh! Enggak... enggak kenapa-kenapa kok Ma," jawab Anne berbohong. Dia mencoba melukis senyum di wajahnya walau hatinya sedang terluka.


Tak hanya Anne yang melihat sesuatu yang menyakitkan itu. Citra pun juga sama. Dia melihat Tian sedang bersama dengan seorang perempuan di dalam sana. Walaupun Citra memutuskan hubungan mereka tempo hari, tapi tetap saja terasa sakit saat melihat itu.


"Kita masuk aja yuk! Udah lapar aku!" Ajak Citra sambil menggandeng tangan Anne.

__ADS_1


Bu Mirna tersenyum. Kemudian dia menyusul langkah kaki anak-anaknya untuk masuk ke dalam sana.


"Mau pesan bakso apa Citra?" tanya Bu Mirna.


Mendengar ada yang menyebut nama Citra. Tian lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Kenapa?" tanya gadis yang sedang duduk di depannya.


Tian tak mengindahkan pertanyaan gadis itu. Dia tetap mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Citra.


"Citra!" Gumamnya saat matanya berhasil menemukan sosok Citra.


Tanpa berpikir dia kali, Tian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Citra.


Melihat Tian beranjak dari tempat duduknya, Luna segera mengejarnya.


"Citra!" panggilnya. Ada rindu dalam sorot mata Tian. Rindu sosok yang selalu ia sebut dalam setiap doa-doanya.


"Eh Pak Tian. Selamat siang Pak!" sapa Citra.


"Sendirian aja Pak?" tanya Citra.


"Sayang!" Luna memanggil Tian dengan sebutan sayang tepat saat Tian akan menjawab pertanyaan Citra.


"Oh sama pacar baru ya Pak. Wah selamat ya!" ucap Citra akhirnya.


"Kamu kok ninggalin aku sih Sayang? Kita kan lagi makan!" ujarnya. Dia sengaja bersikap manja di depan Citra.


"Em... saya bisa jelaskan Bu. Saya dengan dia...."


"Kami sudah berpacaran lama. Dan sebentar lagi kami akan menikah. Tapi anak Ibu yang nggak tahu diri ini mencoba merebut tunangan saya. Untung saja tunangan saya ini cepat sadar. Jadi kita bisa kembali bersama," jelas Luna.


Bu Mirna tampak terkejut mendengar penjelasan Luna. Dia terlihat menahan amarah saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Luna.


"Maksudnya apa ini Nak Tian? Jadi selama ini kamu mempermainkan anak saya?" Ujarnya dengan nada tinggi dan sorot mata tajam.


"Bu, saya bisa jelaskan. Ini bukan seperti yang Bu Mirna pikirkan. Saya tidak pernah...."


"Cukup. Saya cukup tahu siapa kamu. Mulai sekarang jangan pernah dekati anak saya lagi. Karena saya tidak akan sudi anak saya kamu permainkan," ucap Bu Mirna marah.


"Ayo Anne, Citra! Kita pergi dari sini," ucap Bu Mirna.


Wanita itu lantas beranjak dari tempatnya dan melangkah keluar dari tempat itu.


"Enggak nyangka ya. Ternyata selain bermuka dua, Bu Luna juga jago banget mengarang cerita!" sindir Anne sebelum pergi dari sana.


Luna mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa geram dengan perkataan Anne barusan.


"S****n! Bisa-bisanya anak kecil ngatain aku kayak gitu," geramnya dalam hati.

__ADS_1


"Puas kamu sekarang! Makasih ya berkat kamu hubungan aku dengan keluarga Citra semakin jauh," ucapnya.


Luna tersenyum miring. "Bagus dong! Dengan begini, kita bisa menjalin hubungan kan!" ujarnya tanpa rasa bersalah.


Tian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sampai kapanpun aku nggak akan pernah sudi berhubungan dengan perempuan licik seperti kamu," ucapnya.


"Bahkan jika aku harus melajang seumur hidupku, aku rela. Asalkan aku nggak pernah bersama dengan orang seperti kamu," lanjutnya dengan marah.


Luna terkesiap mendengar ucapan Tian. Dia tak menyangka jika rasa cinta Tian pada Citra begitu besarnya. Dia pikir dengan menjauhkan Citra dari Tian, dia bisa memiliki pemuda itu. Tapi ternyata dia salah. Tian sama sekali tak peduli padanya.


Setelah mengatakan itu, Tian beranjak pergi meninggalkan Luna. Dia merasa sangat marah pada Luna yang membuatnya semakin menjauh dari Citra.


...****************...


Malam harinya, Arga bertandang ke rumah Anne. Dia ingin berbicara dengan kekasihnya itu karena sejak siang Anne tak membalas satupun pesan darinya.


"Ada Arga tuh di depan. Temuin gih!" beritahu Citra.


"Duh! Ngapain sih! Malas banget aku nemuin dia," ucap Anne.


"Temuin aja dulu. Kan kamu sering bilang sama aku. Kalau ada masalah jangan terus menghindar. Tapi segera omongin baik-baik biar masalahnya cepat selesai," ucap Citra.


Anne tertegun mendengar ucapan Citra. Kemudian dia berkata, "kamu benar Citra. Ya udah aku temuin dia dulu deh."


Citra tersenyum mendengar perkataan Anne. "Nah gitu dong! Tapi ingat, jangan keburu emosi ya. Dengarkan dulu perkataan dia," ujar Citra.


Anne mengangguk. Kemudian dia beranjak dari kamarnya dan segera keluar menemui Arga.


Arga tersenyum saat melihat kedatangan Anne. Namun Anne tak membalas senyuman itu. Wajahnya masam dan tak ada senyuman sedikitpun.


"Kamu ke mana aja kok nggak balas chat aku?" tanya Arga.


"Di rumah. Enggak ke mana-mana," jawab Anne.


"Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?" tanyanya lagi.


Anne tersenyum miring. "Marah kenapa? Memangnya kamu buat salah apa sama aku?"


"Ya enggak ada sih. Cuman nada bicara kamu terdengar nggak kayak biasanya," jawab Arga.


Anne tersenyum miring. "Kamu tadi seharian ke mana aja?" tanya Anne tiba-tiba.


"Enggak ke mana-mana kok. Aku di rumah aja," jawab Arga.


Anne menatap tajam ke arah Arga. Dia sama sekali tak mempercayai ucapan pemuda yang ada di depannya kini.


"Oh iya? Terus tadi yang tadi makan siang bareng cewek siapa?" Tanya Anne sambil menunjukkan sebuah foto pada Arga.


Mata Arga membulat sempurna. Dia terkejut saat Anne menunjukkan foto itu padanya.

__ADS_1


"Dari mana kamu dapatkan foto itu?" tanya Arga.


Anne tersenyum sinis. "Lain kali kalau mau selingkuh, mainnya yang rapi. Biar nggak ketahuan!"


__ADS_2