Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 86


__ADS_3

Citra melihat rekaman video itu dengan perasaan campur aduk. Dia tak menyangka jika Karin masih saja memiliki dendam padanya. Entah apa yang ada di pikiran Karin hingga dia tega melakukan itu.


"Gimana? Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Anne.


Citra menghela napas panjang. Kemudian dia menggeleng lemah. Jujur saja Citra tak memiliki niat apapun saat ini. Dia hanya ingin damai tanpa perdebatan.


"Apa kamu masih mau memberiku kesempatan setelah melihat video itu, Citra?" ucap Tian tiba-tiba.


Citra menoleh dan menatap ke arah Tian. Perasaannya bertambah kacau saat mendengar ucapan Tian barusan. Dia ingin memulai kembali tapi hatinya menolak. Hatinya menolak untuk bersama lagi.


"Maaf, aku nggak bisa!" jawab Citra.


Tian mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya.


"Lebih baik kita seperti ini. Kita jalani kehidupan kita masing-masing tanpa ada ikatan diantara kita. Daripada ke depannya kita saling menyakiti jika memaksa untuk terus bersama," jawab Citra.


Anne terkejut mendengar jawaban Citra. Jawaban yang terdengar tegas namun mampu menyisakan segores luka dalam sorot mata Citra.


"Tapi kita nggak saling menyakiti, Citra. Aku nggak pernah menyakiti kamu dan kamu nggak pernah menyakiti aku," ucap Tian. Dia masih berusaha untuk bisa kembali lagi pada Citra.


"Kita saling menyakiti dengan keegoisan kita. Kita saling menyakiti dengan rasa cemburu kita. Kita saling menyakiti dengan rasa curiga," ujarnya.


"Tapi, Citra! Aku---"


Citra mengangkat sebelah tangannya. Memberi isyarat agar Tian diam tanpa suara.


"Aku atau Bapak mungkin nggak merasa menyakiti. Tapi hati kecil kita sering tersakiti dengan atau tanpa kita sadari," ucap Citra.


"Sekarang, tanyakan pada hati kecil kita masing-masing. Masihkah ada perasaan cinta dan kasih sayang itu? Masihkah ada perasaan saling mengerti dan mencintai itu?"


"Jika memang masih ada, jalan Tuhan akan menuntun kita kembali lagi. Tapi jika sudah tak ada, jalan Tuhan akan menuntun kita menuju hati yang tepat untuk kita," pungkasnya.


Setelah berkata demikian, Citra segera berlalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Tian dengan segala pertanyaan tanpa jawaban dalam benaknya.


Anne yang melihat itu menjadi heran. Dia tak pernah melihat Citra semarah ini. Dia juga tak pernah mendengar Citra berbicara setegas ini. Bahkan saat dirinya diputuskan begitu saja oleh Azwan, Anne tak melihat amarah dalam sorot matanya. Tapi sekarang... kilatan amarah itu terlihat begitu jelas dalam sorot matanya.

__ADS_1


"Kamu yakin dengan keputusan kamu itu?" Anne yang berhasil mengejar langkah Citra memberanikan diri untuk bertanya pada gadis itu.


Citra menghela napas panjang. "Jujur aja aku masih menyimpan rasa sayang untuk Pak Tian. Tapi---"


"Kalau masih sayang kenapa harus putus sih?" potong Anne cepat.


Citra menatap Anne dengan tajam. Seolah dia tersinggung saat Anne menyela perkataannya. Ditatap seperti itu oleh Citra, Anne buru-buru meminta maaf pada gadis itu. Dia terlalu bersemangat sehingga tanpa sengaja dia menyela perkataan Citra.


"Aku nggak mau menyakiti dia dengan rasa cemburu dan curigaku. Aku nggak mau menyakiti dia dengan keegoisan ku. Dia berhak menentukan pilihannya. Dia berhak untuk dekat dengan siapa saja di luar sana," ucap Citra.


"Tapi kan itu akan menyakiti hati kamu, Cit!" ujar Anne.


Citra menghela napas sekali lagi. "Aku nggak pernah merasa tersakiti kok. Dia nggak pernah menyakiti aku. Justru aku yang menyakiti dia dengan rasa cemburu yang berlebihan. Rasa curiga yang nggak kira-kira," jawab Citra.


Anne hanya diam saja mendengar jawaban Citra. Baginya Citra adalah gadis yang unik dan juga langka. Dia tak pernah merasa tersakiti walaupun sekitarnya selalu berusaha menyakitinya.


...****************...


Waktu terus bergulir dengan cepat. Tak terasa kini Tian berdiri di pelaminan dengan wajah berseri-seri. Wajahnya bersinar bahagia kala berdiri diantara para tamu.


"Makasih ya. Kamu udah mau nemenin hari-hari aku," ucapnya pada Citra.


Tian menghela napas panjang. "Sekarang kamu udah bahagia. Kamu berhak memiliki kebahagiaan itu. Selamat ya atas pernikahan kamu," ucap Tian lagi.


Citra mengangguk sembari tersenyum. Lelaki yang mendampingi Citra di pelaminan juga tampak bahagia saat melihat Tian bersedia datang.


"Jaga Citra baik-baik. Dia perempuan paling spesial di hidupku. Walaupun akhirnya kita tak bisa bersama. Aku hanya ingin memastikan kebahagiannya adalah bersama dengan kamu," ucap Tian. Dia menyalami sang mempelai pria yang berdiri dengan gagahnya di samping Citra.


"Terimakasih, Pak. Terimakasih sudah mau datang. Saya akan mengingat pesan Bapak selamanya. Saya akan menjaga Citra dengan sepenuh jiwa dan raga saya," ucap sang mempelai pria yang tak lain adalah Angga.


Tian tersenyum. Dia kemudian menggeser tubuhnya untuk menyalami keluarga mempelai. Setelah itu dia buru-buru turun dari panggung pelaminan.


Ada sejumput perih saat melihat Citra tersenyum. Ada perasaan tak rela saat melihat Citra bersanding dengan pria lain. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak bisa memaksakan cintanya pada Citra.


"Ikhlas ya, Pak!" seru Azwan yang tiba-tiba berdiri di samping Tian.

__ADS_1


"Yah walaupun kita nggak bisa jadi saudara ipar. Seenggaknya kita masih bisa mabar." Azwan berkata sambil menaikturunkan alisnya.


"Ehem... Ehem..."


Suara dehaman membuat Azwan menoleh ke samping kirinya. Seorang wanita cantik dengan perut membesar tampak berdiri di sampingnya. Dia menatap tajam ke arah Azwan.


"Eh Sayang. Enggak mabar kok. Enggak mabar Sayangku, cantikku, cintaku!" ucap Azwan.


Tian hanya bisa tersenyum melihat itu. Kemudian dia kembali menatap ke arah pelaminan. Dia masih ingin menikmati senyum Citra untuk yang terakhir kalinya. Senyum yang bisa membuatnya bahagia. Senyum yang bisa mengobati luka dalam hatinya.


Di panggung pelaminan, Citra tampak sedang berfoto dengan Maria dan juga suaminya. Maria membawa serta sang anak yang masih berusia tiga bulan itu.


"Halo, Kanzen! Kamu udah gede ya. Makin lucu deh kamu." Citra menyentuh tangan bocah kecil itu dengan lembut.


"Iya, tante. Mommy ku kan tukang makan. Jadi aku juga disuruh makan terus sama Mommy. Makanya aku bulat sekarang." Maria berkata seolah-olah itu adalah Kanzen.


Citra dan Angga tertawa melihat tingkah lucu Maria. "Kamu pengin juga nggak Sayang?" bisik Angga.


Citra menoleh dan menatapnya dengan tajam. "Jangan macam-macam. Entar dulu setelah acara selesai," bisik Citra.


Angga hanya nyengir mendengar perkataan sang istri. Dia bahagia karena akhirnya bisa memiliki Citra. Bisa membuatnya tersenyum dan selalu ada untuknya.


"Anne mana, Cit?" tanya Maria.


Mendengar itu, Citra mengedarkan pandangannya. Dia mencari sosok Anne yang tak terlihat di mana-mana.


"Tadi ada di sini sih sama Ustaz Haydar. Tapi kok nggak ada ya sekarang," ucapnya.


"Lagi ke kamar deh kayaknya, Sayang. Maklum lah hamil muda," sahut Angga.


Maria manggut-manggut mendengar jawaban Angga.


Kini semuanya telah menemukan kebahagiaannya masing-masing. Mereka telah menemukan bahagianya masing-masing. Tak ada lagi tangis sedih seperti dulu lagi. Tak ada lagi rasa sakit dan kecewa yang pernah ditorehkan oleh masa lalu.


"Sekarang, nikmatilah bahagiamu, Citra! Aku akan selalu mendoakan mu dari jauh!" ucap Tian dalam hati.

__ADS_1


Setelah itu dia berjalan keluar dari gedung. Walaupun hatinya berdenyut nyeri, tapi dia bahagia bisa melihat sang mantan bahagia.


TAMAT


__ADS_2