
Sikap Tegar masih belum berubah juga saat Citra pulang dari sekolahnya. Tegar masih saja jutek dan ketus kala berbicara dengan Citra. Citra menjadi heran sendiri dengan perubahan sikap Tegar yang drastis itu.
"Aku ada salah ya sama Mas Tegar?" Citra memberanikan diri untuk bertanya pada Tegar kala mereka duduk berdua di halaman belakang.
Tegar melirik Citra sekilas. Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya sejak kemarin.
"Kamu pikir sendiri ajalah Dek," jawab Tegar. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan. meninggalkan Citra yang terheran-heran dengan sikapnya.
Citra bangkit dari kursinya dan mengikuti langkah Tegar. Dia ingin meminta penjelasan pada Tegar. Dia ingin masalah ini selesai sekarang juga.
"Kalau aku ada salah, aku minta maaf. Aku minta maaf kalau ada tindakanku yang buat Mas Tegar nggak nyaman," ucap Citra. Dia berusaha untuk menahan emosinya sebisa mungkin.
Tegar tak menghiraukan ucapan Citra. Dia masih terdiam dan tak menoleh sedikitpun pada adik kesayangannya itu.
"Mas lihat aku." Citra menarik lengan Tegar dan membalikkan tubuh pemuda itu.
Citra menatap kedua mata Tegar yang juga tengah menatapnya. Ada segores kecewa yang tergambar di sana. Segores luka yang menganga tanpa ada yang tahu penyebabnya.
Tegar mengerjapkan matanya. Sedetik kemudian dia kembali memalingkan pandangan matanya ke arah lain.
"Aku sayang sama Mas Tegar. Aku khawatir banget semalam karena Mas Tegar nggak bisa dihubungi. Tolong Mas jangan bersikap seperti ini. Aku nggak mau Mas Tegar marah sama aku," ucap Citra setengah memohon.
Tegar menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak melihat adiknya berkata seperti itu. Luka dalam hatinya bertambah perih kala melihat mata sang adik yang berkaca-kaca.
"Seandainya kamu tahu Cit. Seandainya kamu mengerti apa yang aku rasakan sekarang. Seandainya kamu merasakan apa yang aku rasakan," gumam Tegar.
Citra menatap Tegar yang tengah bergumam seorang diri. Entah apa yang ia gumamkan itu. Citra tak bisa mendengarkannya dengan jelas gumaman itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Tegar masuk ke dalam kamarnya. Dia pergi meninggalkan Citra yang masih berdiri di depan pintu kamarnya dengan sejuta tanya yang belum terjawab.
Citra memejamkan matanya sembari menarik napas dalam-dalam. Kemudian dia menghembuskannya perlahan. Gadis itu berusaha untuk tak terpancing emosinya melihat sikap Tegar yang berubah drastis.
Di dalam kamarnya, Tegar duduk termenung di atas ranjangnya. Matanya menatap lurus ke depan. Hatinya terasa perih. Hatinya terasa sakit menerima kenyataan yang ada di depan matanya.
"Jangan batasi dirimu. Jangan belenggu dirimu dengan cinta yang sulit untuk kamu gapai. Bebaskan dirimu memilih cinta yang dia mau. Bebaskan hatimu memilih cinta yang layak dan pantas untukmu."
Ucapan Avita kembali terngiang di telinganya. Dia seolah masih bisa mendengar suara Avita yang mengatakan hal itu.
"Astaghfirullahalazim," ucapnya.
Tegar memejamkan matanya dan mengulang kalimat istighfar dalam hatinya. Sedetik kemudian dia bangkit dari duduknya dan keluar dari dalam kamarnya. Dia berjalan menuju kamar Citra.
"Mas Tegar mau ke mana?" Tanya Citra saat melihat langkah Tegar yang terlihat terburu-buru.
Tegar menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Citra yang berdiri tak jauh darinya.
Citra berjalan mendekat ke arah sang kakak. Hingga jarak antara keduanya semakin terkikis. Citra menatap sang kakak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Maafin aku ya Mas. Aku yang terlalu bawel dan sok perhatian sama Mas Tegar," ucap Citra.
Tegar menatap Citra dengan lekat. Hatinya berdesir saat menatap mata indah itu. Mata yang selalu menampakkan kelembutan serta kasih sayang tulus. Mata yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.
__ADS_1
Citra menundukkan kepalanya saat Tegar tak merespon ucapannya. Dia pikir Tegar masih marah karena dirinya yang terlalu cerewet padanya. Tiba-tiba, Tegar memeluknya dengan erat.
"Maafin Mas. Enggak seharusnya Mas bersikap seperti itu sama kamu. Maafin Mas, Dek," ucap Tegar tanpa melepaskan pelukannya.
Citra menganggukkan kepalanya dalam pelukan Tegar. Perlahan dia mulai membalas pelukan itu dengan erat. Seolah-olah dirinya enggan melepaskan pelukan hangat itu.
"Aku sayang sama Mas Tegar," lirih Citra.
"Aku juga sayang sama kamu Citra. Sayang banget," balas Tegar.
Citra melepaskan pelukan itu dan menatap mata pemuda itu dengan lekat. Kali ini dia merasakan sesuatu yang berbeda kala bertatapan dengan pemuda itu. Ada perasaan hangat yang menjalari tubuhnya kala menatap mata sang kakak.
Tiba-tiba saja Tegar memajukan tubuhnya. Dia mendekat ke arah Citra dan... Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Citra. Sebuah kecupan sayang seorang lelaki kepada perempuan. Bukan kecupan seorang kakak kepada adiknya.
"Em... sorry. Aku nggak bermaksud seperti itu," ucap Tegar setelah melepaskan ciumannya di bibir Citra.
Citra menganggukkan kepalanya dengan kaku. Dia merasa gugup saat menerima serangan mendadak itu.
"Aku ke kamar dulu ya," kata Tegar dengan gugup.
Citra hanya menganggukkan kepalanya. "Aku... aku juga masuk kamar dulu ya."
Tegar menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berbalik arah menuju kamarnya. Sedangkan Citra tampak masih berdiri mematung di depan kamarnya. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
*****
Hari telah berganti senja. Matahari sudah siap kembali ke peraduannya. Menyisakan semburat warna hingga di ufuk barat.
"Assalamu'alaikum." Arga mengucapkan salam saat akan memasuki rumahnya.
Tak ada sahutan dari dalam. Pemuda itu meneruskan langkahnya masuk ke dalam rumah besar itu. Dia terus berjalan hingga ke dapur. Tak ada seorangpun di sana.
"Kemana sih semua orang? Pada nggak di rumah apa ya?" gumamnya.
Arga mengambil gelas dan menuangkan sirop ke dalam gelasnya. Kemudian dia membawa gelas itu ke kamarnya. Tepat saat itu, Nanda baru saja masuk ke dalam rumah.
"Baru pulang lo?" tegur Arga.
"Eh elo. Sejak kapan lo ada di rumah?" sahut Nanda.
Arga tersenyum miring mendengar ucapan kakaknya itu.
"Sejak dahulu kala," jawab Arga.
"Darimana sih lo? Ayah Bunda juga ke mana?" cecar Arga.
Nanda tersenyum mendengar pertanyaan Arga yang seperti senapan angin itu.
"Gue habis dari kampus lah. Kalau Ayah sama Bunda, gue nggak tahu. Tadi pagi sih Ayah berangkat ke luar kota. Bunda nyusul Ayah kesana kali," jawab Nanda asal.
"Mbak Vania sama Mas Faisal ke mana?" tanya Arga lagi.
__ADS_1
"Lo nanya-nanya mulu deh dari tadi. Udah kayak petugas sensus aja lo," ucap Nanda.
"Ya kan gue nggak tahu Mas. Makanya gue nanya ke elo. Siapa tahu elo tahu keberadaan penghuni rumah ini," sahut Arga.
Nanda memukul lengan sang adik dengan lembut. "Lo kira gue Pak RT apa?" ujarnya.
Arga tertawa mendengar ucapan kakaknya itu. "Amin... semoga ucapan lo jadi kenyataan deh," sahut Arga.
Nanda memutar bola matanya dengan malas. "Udah ah gue mau ke atas dulu. Mau mandi gue. Gerah banget badan gue," ucap Nanda.
Arga menganggukkan kepalanya. Pemuda itu lantas mengikuti langkah sang kakak menuju lantai dua rumahnya.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tegur Nanda.
"Siapa yang ngikutin elo sih. Gue kan juga mau ke kamar Mas. Gue juga mau mandi. Gerah juga badan gue habis latihan," jawab Arga.
Nanda membulatkan bibirnya dan segera membuka pintu kamarnya.
"Latihan apa lo? Latihan bikin dedek ya sama Citra?"
Arga menoleh ke arah sang kakak. "Enak aja. Gue habis latihan basket sama anak-anak. Elo kali yang habis latihan bikin dedek sama Mbak Naima?"
"Sembarangan aja kalau ngomong. Gue nggak akan nyentuh dia sebelum halal b**o," sahut Nanda. Pemuda itu tak terima Arga menuduhnya macam-macam.
Arga hanya tertawa melihat ekspresi wajah sang kakak. Kemudian dia segera masuk ke dalam kamarnya. Begitu pula dengan Nanda. Pemuda itu masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan diri.
Tak menunggu lama, Arga selesai mandi dan berganti pakaian. Dia kemudian duduk menghadap meja belajarnya. Dia mulai membuka buku pelajarannya. Dia mulai berkonsentrasi membaca bahan ulangan untuk besok. Namun suara ketukan di pintu membuatnya tak bisa berkonsentrasi.
"Aduh siapa sih? Ganggu banget deh," ucapnya. Dia lantas berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya.
"Ganggu banget sih Mas. Ada apa sih?" tanyanya begitu dia melihat wajah sang kakak.
"Ada tamu tuh di bawah. Mau ketemu sama elo katanya," jawab Nanda.
"Tamu? Siapa?" tanya Arga keheranan.
Nanda mengangkat bahunya tanda dia tak mengenali tamu itu.
"Sebaiknya elo ke bawah deh. Kayaknya dia mau nyampein sesuatu deh sama elo," saran Nanda.
Tanpa pikir panjang lagi, Arga segera turun ke bawah. Nanda pun mengikuti langkah sang adik turun ke bawah.
"Di mana tamunya?" tanya Arga pada sang kakak.
"Di ruang tamu," jawab Nanda.
Arga berjalan menuju ke ruang tamu rumahnya. Tempat di mana tamu itu menunggu dirinya.
"Selamat malam. Cari siapa ya?" tanya Arga begitu dirinya berada di ruang tamu.
Tamu berambut pirang panjang itu pun menoleh. Dan berapa terkejutnya Arga saat melihat wajah tamu cantiknya itu.
__ADS_1