Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 59


__ADS_3

Citra duduk termenung di kamarnya. Matanya menatap kosong ke sudut ruangan bernuansa biru langit itu.


"Kenapa harus merasakan ini lagi? Kenapa harus merasakan sakit hati lagi?" ucapnya dalam hati.


Sejak pulang sekolah tadi, dia terus mengurung dirinya di dalam kamarnya. Dia hanya keluar saat ingin minum atau makan. Pak Bayu dan Bu Mirna merasa cemas dan khawatir dengan keadaan anak mereka. Mereka takut sakit kepala Citra kambuh lagi.


"Citra kenapa An?" tanya Bu Mirna pada sang anak.


Anne yang sedang mengerjakan tugas di kamarnya menghentikan aktivitasnya dan menatap sang mama.


"Anne nggak tahu Ma. Tapi tadi setelah lihat foto, dia langsung kayak gitu. Anne nggak tahu itu foto apa? Soalnya Anne nggak lihat," jawab Anne.


Bu Mirna manggut-manggut mendengar jawaban anaknya itu. Kemudian dia bertanya kembali, "apa dia di bully lagi di sekolah?"


Anne menghela napas panjang. Dia sebenarnya tak ingin menceritakan ini pada mamanya. Karena dia sudah berjanji pada Citra untuk tak menceritakan pada siapapun juga.


"Enggak kok Ma. Enggak ada yang bully Citra lagi," jawab Anne berbohong.


"Yang benar? Enggak bohong kan?" Bu Mirna meyakinkan lagi karena merasa tak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Anne.


Anne terdiam. Dia terpojok sekarang. Dia mungkin bisa membohongi semua orang. Tapi dia tak bisa berbohong pada sang mama.


"Jawab jujur, apa di sekolah Citra masih di bully sama teman-temannya?" tanya Bu Mirna sekali lagi.


Anne semakin terdiam. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menyembunyikan raut ketakutannya dari sang mama.


"Emm... itu... itu... Citra... Iya Ma," jawabnya lirih.


Bu Mirna memejamkan matanya. Hatinya serasa tertusuk besi panas mendengar jawaban Anne. Dia merasa telah gagal menjadi orang tua untuk Citra.


"Citra masih di bully sama Sasha dan yang lain. Bahkan sekarang ada yang ingin mendekati Pak Tian Ma. Guru juga," jawab Anne jujur.


Bu Mirna geleng-geleng kepala mendengar penjelasan anaknya itu. Tanpa pikir panjang lagi, perempuan itu lantas mendatangi kamar Citra.


"Ma... Mama mau ke mana?" tanya Anne.


Bu Mirna tak menghiraukan pertanyaan anaknya itu. Dia terus berjalan menuju kamar Citra.


Di dalam kamar, Citra menatap sebuah pigura usang. Sebuah foto tersimpan rapi dalam pigura itu. Foto seorang wanita cantik yang wajahnya mirip sekaki dengan dirinya.


Citra mengelus foto itu. Hatinya merasakan kerinduan pada sosok yang tak pernah ia rasakan kasih sayangnya. Pada sosok yang mereka sebut, ibu.

__ADS_1


"Citra memang nggak pernah ketemu sama Ibu. Citra nggak pernah tahu dan nggak pernah menyentuh wajah Ibu. Tapi Citra kangen Bu. Citra rindu Ibu. Citra pengin ketemu sama Ibu," ucapnya.


Air mata meleleh di kedua pipinya. Rasanya sakit sekali saat merindukan sosok yang tak pernah bisa lagi kita sentuh. Tak bisa lagi kita sapu dengan pandangan mata.


Mendengar suara Citra yang sedang menangis, Bu Mirna ikut meneteskan air matanya. Perempuan itu merasa sangat bersalah sekarang. Seandainya dirinya tak egois, mungkin sampai saat ini Citra masih bisa merasakan hangatnya dekapan sang Ibu.


"Citra!" panggil Bu Mirna.


Mendengar ada yang memanggilnya, Citra segera mengusap air matanya. Dia tak ingin ada orang yang tahu air matanya. Cukup dirinya dan Tuhan yang tahu air mata ini.


"Eh Mama." Citra tersenyum saat melihat sang Mama.


Bu Mirna membalas senyuman Citra. "Kamu lagi apa Sayang?" tanya Bu Mirna.


"Enggak lagi ngapa-ngapain Ma. Lagi ngerjain tugas aja," jawab Citra.


Bu Mirna tersenyum. "Ya sudah kalau begitu. Kamu nggak sakit kan?" tanya Bu Mirna.


Citra tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Citra baik-baik aja kok Ma," jawabnya.


Bu Mirna lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban Citra. Kemudian wanita itu membelai lembut rambut sang anak sambung.


"Kalau ada masalah di sekolah, kamu cerita ya Nak sama Mama atau Papa. Jangan kamu pendam sendiri," ucap Bu Mirna.


Saat tengah asik mengobrol, pintu kamar Citra ada yang mengetuk. Citra mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintunya.


"Maaf Non. Ada, Mas Tian di depan," ucap Bi Lani memberitahu.


...****************...


Hari ini Citra sedang berada di perpustakaan, Dia sedang mencari bahan untuk tugasnya. Dia menelusuri setiap rak yang ada di dalam perpustakaan.


"Udah ketemu bukunya?" tanya Anne.


Citra mengangguk. "Kita duduk di sana aja ya!" Ajak Citra sembari menunjuk sebuah bangku yang ada di dekat jendela.


Anne dan Maria mengangguk setuju. Mereka bertiga lantas menuju bangku yang di tunjuk oleh Citra.


Citra mulai membaca buku yang ia bawa tadi. Anne dan Maria juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua juga membaca buku yang mereka bawa.


"Eh Cit. Kamu sama Pak Tian apa kabar?" tanya Maria tiba-tiba.

__ADS_1


"Maksudnya?" Kening Citra berkerut sempurna. Dia tak paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Maria.


"Ya kalian apa kabar? Hubungan kalian gitu," ucap Maria.


Citra mengangkat bahunya. Dia seolah enggan membicarakan tentang hubungannya dengan Tian.


"Kenapa?" tanya Maria lagi.


"Maaf ya Mar. Bukannya aku nggak menghargai kamu. Tapi tolong banget jangan bahas itu saat kita di sekolah. Aku nggak mau mereka ikut membenci Pak Tian dan kamu," sahut Citra.


Maria mengangguk paham. Dia mengerti sekali dengan perasaan Citra. Dia tak pernah membiarkan para pembencinya ikut membenci orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Soalnya aku udah lancang nanya kayak gitu," ucap Maria.


Citra tersenyum. "Enggak apa-apa. Kita balik ke kelas yuk!Lima menit lagi udah bel," ajak Citra.


Anne dan Maria mengangguk. Mereka bertiga lantas menuju meja penjaga perpus untuk meminjam buku yang belum selesai mereka baca.


Tak terasa jam pulang sekolah telah tiba. Semua siswa tampak keluar dari kelas mereka masing-masing. Termasuk Citra dan kawan-kawannya.


"Cit, anterin ke toko buku ya!" pinta Anne.


"Aku mau beli novel sama buku buat tugas kita," lanjut Anne.


"Boleh. Maria mau ikut kita ke toko buku?" tawar Citra.


Maria menggeleng. "Sorry, gue nggak bisa ikut. Habis ini gue ada kebaktian di gereja," jawab Maria.


Citra mengangguk paham.. "Iya nggak apa-apa," sahut Citra.


"Kalau gitu gue duluan ya Cit, Anne. Bye!"


Setelah berpamitan, Maria melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Anne dan Citra melambaikan tangannya pada Maria yang semakin menjauh.


Sepeninggal Maria, keduanya tampak saling diam. Tak ada percakapan diantara keduanya. Hanya suara helaan napas yang sesekali terdengar.


"Kita naik taksi aja ya ke toko bukunya," ujar Anne setelah sekian lama terdiam.


Citra hanya mengangguk saja. Matanya mengedarkan pandangannya ke penjuru sekolah. Mencari keberadaan Tian yang berjanji akan menemuinya setelah pulang sekolah.


"Cit, kamu nggak apa-apa kan?"

__ADS_1


Citra menoleh dan tersenyum. "Aku baik-baik aja kok," ucapnya.


Anne tersenyum mendengarnya. Walaupun dia tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Citra padanya. Keduanya terus berjalan menuju gerbang. Saat melewati taman sekolah, Citra tanpa sengaja melihat sesuatu yang nyaris membuatnya pingsan.


__ADS_2