
Semenjak dipenjara, tak ada sanak keluarganya yang menjenguknya. Tak juga Pak Hamzah dan Bu Aminah. Kedua orang tua itu seolah tak ingin bertemu atau tahu keadaan Wiwit.
"Saudari Wiwit, ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi.
Wiwit mengangkat wajahnya. Tapi sedetik kemudian dia menundukkan kepalanya lagi.
"Saudari Wiwit, ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap polisi itu sekali lagi.
Wiwit tak menghiraukan perkataan polisi itu. Dia kembali menundukkan kepalanya semakin dalam.
Polisi itu tak menyerah. Dia mencoba memanggil Wiwit sekali lagi. Tapi Wiwit sama sekali tak menghiraukan perkataannya. Dia menunduk semakin dalam dan kemudian menangis.
Polisi itu akhirnya menyerah. Dia tak lagi memaksa Wiwit untuk keluar dan menemui orang itu.
"Mohon maaf, Wiwit tidak ingin ditemui," ucapnya.
Kedua orang yang ingin bertemu dengan Wiwit hanya bisa menghela napas panjang. Ada raut kecewa saat mendengar penjelasan dari polisi itu.
"Ya sudah Pak kalau Wiwit nggak mau bertemu dengan kami," ucap Bu Aminah.
"Saya titip ini ya Pak. Tolong Bapak kasih ke Wiwit." Bu Aminah berkata sembari menyerahkan sebuah paper bag pada polisi itu.
"Di dalamnya ada mukenah dan juga Al-Qur'an. Bapak boleh memeriksanya jika perlu," jelas Bu Aminah.
Polisi itu melihat sejenak ke dalam paper bag itu. Kemudian dia membongkar isinya. Bukan apa-apa, dia hanya menjalankan prosedur saja.
"Baik Bu. Nanti akan saya sampaikan pada Wiwit," ucap polisi itu setelah selesai memeriksa paper bag.
Setelah itu, Pak Hamzah dan Bu Aminah pamit undur diri. Mereka berdua segera beranjak pergi dari lapas tempat Wiwit ditahan.
"Semoga Wiwit bisa sadar ya Pak," ucap Bu Aminah.
Pak Hamzah menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya. Sejak Wiwit ditangkap dan dijadikan tersangka atas kasus tabrak lari, Pak Hamzah menjadi lebih pendiam. Pria itu hanya berbicara seperlunya saja.
"Kita berangkat sekarang!" ajak Pak Hamzah.
Bu Aminah mengangguk. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju mobil yang telah menunggu mereka di parkiran.
Sementara itu, Citra tampak sedang merenung di kamarnya. Pertemuan singkatnya dengan kedua orang tua angkatnya mampu membunuh rindu yang selama ini bersarang dalam hatinya. Namun disaat yang bersamaan, dirinya harus rela berpisah selamanya dengan kedua orang tua angkatnya.
__ADS_1
"Bapak dan Ibu pamit ya Nduk. Jaga diri kamu baik-baik," ucap Pak Hamzah kala berpamitan pada Citra tadi.
"Jangan pernah tinggalkan salat. Selalu doakan almarhumah Ibu kamu. Jangan membantah apa kata Mama Mirna dan Papa kamu ya Nduk," pesan Pak Hamzah.
Citra mengangguk. Air matanya menetes saat mendengar pesan dari orang tua angkatnya itu.
"Satu lagi pesan Ibu dan Bapak. Jangan pernah membenci orang yang pernah menyakiti kamu. Doakan dia semoga segera mendapat hidayah dan bertaubat," imbuh Bu Aminah.
Citra semakin menangis. Dia lalu memeluk Bu Aminah dengan erat. Setelah itu dia memeluk Pak Hamzah masih dengan air mata yang berderai.
Setiap ada pertemuan pasti selalu ada perpisahan. Entah berpisah karena meninggal atau pindah ke lain tempat. Yang pasti semua yang terjadi di dunia adalah campur tangan Tuhan.
"Citra," tegur Anne.
Mendengar ada yang memanggilnya, Citra segera mengusap air matanya. Kemudian dia menoleh dan memaksakan senyumnya.
"Kamu lagi apa?" tanya Anne. Gadis itu lantas ikut duduk di atas ranjang saudarinya itu.
Citra tersenyum. "Enggak ngapa-ngapain. Cuman lagi duduk-duduk aja," jawabnya.
Anne tersenyum mendengar jawaban Citra. "Besok Mas Nanda nikah. Aku di suruh datang sama Arga," ucap Anne.
"Bagus dong. Biar bisa kenal sama keluarga calon suami," goda Citra.
"Aku nggak PD buat pergi ke sana," ucap Anne lagi.
"Kenapa?" Kening Citra berkerut saat melontarkan pertanyaan itu.
Anne menghela napas panjang. Dia menatap sudut lain di kamar Citra.
"Aku ngerasa canggung aja Cit. Aku kayak nggak PD aja gitu ketemu sama keluarga besarnya," sahut Anne.
Citra mengulas senyum. "Kenapa harus merasa canggung? Mereka semua baik-baik kok. Apalagi Mbak Vania sama Mas Faizal. Mereka baik banget," ucap Citra.
"Kamu sih enak udah kenal mereka. Lah aku? Aku baru aja dikenalin sama mereka," gerutu Anne.
"Jangan merasa rendah diri. Tapi juga jangan merasa tinggi hati. Jadilah diri kamu sendiri. Insya allah apa yang ada di depan akan terasa mudah untuk dilalui," kata Citra.
Mendengar perkataan Citra, Anne menjadi sedikit lebih tenang. Dia tak lagi merasa khawatir dan juga cemas.
__ADS_1
"Makasih ya. Kamu emang paling bisa deh bikin orang tenang," ucap Anne.
Citra hanya tersenyum membalas ucapan Anne.
"Sekarang tidur gih. Biar besok nggak kesiangan," ujar Citra.
Anne menganggukkan kepalanya. Kemudian setelah mengucapkan selamat malam, Anne beranjak dari kamar Citra.
...****************...
Pesta pernikahan Nanda dan Naima berlangsung meriah. Walaupun digelar di rumah,tapi tak mengurangi kemeriahan pesta itu.
"Mas Nanda dan Mbak Naima, selamat ya. Semoga langgeng." Ucap Anne sembari bersalaman dengan kakak kekasihnya itu.
"Makasih cantik," balas Naima.
"Oh iya Citra mana?" tanya Naima yang tak melihat Citra sedari tadi.
"Citra minta maaf nggak bisa datang Mbak. Soalnya kan dia baru aja operasi. Kepalanya masih suka pusing katanya," jelas Anne.
Naima menganggukkan kepalanya. Dia mendengar kabar itu seminggu sebelum pesta pernikahannya.
"Kasihan sekali Citra. Salam ya buat dia. Semoga cepat sembuh," ucap Naima.
"Makasih Mbak atas doanya. Nanti aku sampaikan sama dia," sahut Anne.
Sementara itu, di lapas tempat Wiwit ditahan terjadi kehebohan. Wiwit dinyatakan hilang sejak semalam. Para polisi dan sipir penjara mencoba mencari keberadaan Wiwit. Namun belum ada yang berhasil menemukan gadis itu.
Setelah hampir seharian mencari, akhirnya Wiwit ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa. Dia ditemukan gantung diri di sebuah pohon yang ada di belakang lapas.
"Kita kuburkan saja jenazahnya di pemakaman umum disini. Karena dia sudah tak punya siapa-siapa lagi," ujar salah seorang petugas.
"Siap Komandan!"
Akhirnya jenazah Wiwit dikebumikan di area pemakaman umum yang tak jauh dari lapas. Polisi sempat menghubungi Pak Hamzah. Namun pria itu tak bisa datang. Dia hanya meminta agar jenazah Wiwit dikebumikan dengan layak.
Mendengar kabar kematian Wiwit, Citra menjadi kaget. Dia tak menyangka jika sang kakak angkat akan berbuat nekat. Dia tak menyangka jika sang kakak angkat akan berpikiran sependek itu.
"Kita doain aja Sayang. Semoga kakak angkat kamu diampuni segala dosanya. Dan dilapangkan kuburnya," ucap Tian.
__ADS_1
Citra hanya mengangguk pelan. Dia masih shock saat menerima kabar kematian Wiwit dari salah seorang petugas kepolisian.
"Aku sudah maafin semua kesalahan Mbak Wiwit. Aku. nggak pernah dendam sama Mbak Wiwit. Tidur yang tenang ya Mbak. Selamat jalan kakakku." Ucap Citra dalam hati dengan air mata berderai.