Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 63


__ADS_3

Citra menatap kedatangan orang itu dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Tapi dia mencoba untuk tersenyum.


"Kamu bisa pindah? Soalnya saya mau ngobrol empat mata dengan Pak Tian," ucap orang itu yang tak lain adalah Luna.


"Oh bisa. Bisa Bu. Silahkan duduk Bu," ucap Citra.


Citra bangkit dari kursinya dan membiarkan Luna menempati kursi itu. Tian hanya bisa melongo melihat itu. Dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam.


Citra kembali ke meja teman-temannya dengan membawa setitik rasa cemburu dan kesal.


"Habis ini kita mau jalan-jalan. Kamu mau ikut nggak?" tanya Maria.


"Ikut ya Cit. Kalau ada kamu, Mama dan Papa pasti ngasih izin deh," kata Anne.


Citra menatap mereka satu per satu. "Lihat entar deh. Soalnya perasaan aku lagi kacau balau. Kayak habis perang," ucap Citra asal.


Maria mendekati Citra. "Kok elo nggak langsung labrak aja sih? Biar dia tahu diri. Ganjen banget jadi orang," gerutu Maria.


Citra menghela napas panjang. "Buat apa? Biar seluruh sekolah tahu kalau aku tunangan sama Pak Tian? Biar dianggap waw sama orang lain?" ujar Citra.


"Ya enggak gitu Cit. Biar tuh orang tahu diri aja gitu. Biar dia nggak ganjen sama orang lain," ucap Maria.


Citra menyunggingkan senyum miring. "Aku bukan wanita bar bar. Lagian Pak Tian barua tunangan aku. Bukan suami aku. Beda cerita kalau Pak Tian udah jadi suami aku. Enggak ada ampun lagi deh!" jawab Citra dengan berapi-api.


Maria sampai bergidik ngeri mendengar ucapan Citra. Ternyata Citra bisa menjadi orang yang paling jahat jika dia mau. Citra bisa menjadi sosok yang sadis jika dia merasa terganggu. Tapi dia bisa juga menjadi sosok malaikat jika orang-orang di sekitarnya tak mengganggunya.


"Kenapa Mar?" Tanya Azwan yang melihat perubahan raut wajah Maria.


"Eh enggak. Enggak apa-apa kok. Cuman ngerasa ngeri aja dengar ucapan Citra," jawab Maria.


"Makanya jangan macam-macam sama dia. Kalau lagi marah dia bisa lebih garang dari singa," ucap Azwan.


Maria bergidik ngeri mendengar ucapan Azwan. Dia bersyukur sudah bisa mendapatkan maaf dari Citra. Kalau tidak, dia tak tahu apa yang akan terjadi padanya.


"Anne bisa anterin ke toko buku nggak?" tanya Citra.


"Bisa. Kapan?"


"Entar pas kita pulang jalan-jalan," jawab Citra.


"Kenapa nggak sekalian aja Cit? Kita jalan-jalan sekalian ke toko buku," ucap Maria.

__ADS_1


"Ide bagus tuh. Daripada bolak balik kan," sahut Anne.


"Boleh deh. Yuk berangkat!" ajak Citra.


"Emang kamu mau beli buku apa?" tanya Azwan.


"Mau beli buku gimana caranya mutusin cowok dan gimana caranya biar pelakor nggak caper," ucap Citra dengan nada yang sedikit keras.


Wajah Tian merah padam mendengar ucapan Citra. Sedangkan Luna tampak biasa-biasa saja. Dia sama sekali tak terpengaruh ucapan Citra.


Azwan menutup mulutnya. Dia menahan tawa sebisa mungkin. Karena dia tahu Citra hanya menyindir Pak Tian yang tampak tenang duduk di depan Bu Luna.


"Ayo lah gas kalau gitu!" ajak Arga.


Kelima anak muda itu lantas beranjak meninggalkan area kantin. Sebelum itu, mereka menuju kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan tadi.


...****************...


Hari berganti hari. Tanpa terasa ujian kenaikan kelas telah selesai dilaksanakan. Para siswa bisa menarik napas lega karena ujian telah selesai. Tak terkecuali Maria dan teman-temannya.


"Waaahh! Akhirnya bebas juga. Enggak perlu belajar lagi deh," ucapnya.


Anne dan Citra yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Mereka juga sama dengan Maria. Tapi mereka memilih untuk mengucapkan itu dalam hati.


"Mau ke perpus. Ngembaliin buku," jawab Citra.


"Ikut dong!" ucap Anne.


"Aku juga ikut dong!" sahut Maria.


Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka bertiga berjalan menuju perpustakaan sekolah. Saat melewati ruang guru, tanpa sengaja ekor mata Citra menangkap bayangan sang kekasih sedang merangkul pinggang seseorang.


Citra buru-buru memalingkan wajahnya dan berusaha untuk tetap tenang. Dia terus berjalan menuju ruangan yang berada diantara ruang kepala sekolah dan lab komputer.


"Selamat siang Bu Lidya," sapa Maria sok ramah.


"Eh Maria. Selamat siang," balas perempuan yang dipanggil Bu Lidya itu.


"Mau pinjam buku apa mau mengembalikan buku nih?" tanya perempuan itu.


"Mau mengembalikan buku Bu," jawab Citra.

__ADS_1


Bu Lidya tersenyum ramah. "Makasih ya sudah mengembalikan buku tepat waktu."


Citra tersenyum mendengar ucapan penjaga perpustakaan sekolahnya itu.


"Oh iya Citra. Ibu boleh tanya sesuatu nggak?" tanya perempuan itu.


"Tanya apa Bu?"


Bu Lidya tampak kebingungan untuk mulai bertanya. Dia takut pertanyaannya itu akan menyakiti perasaan Citra.


"Kalau Ibu mau bertanya soal saya dengan Pak Tian, mohon maaf saya nggak bisa jawab," ucap Citra spontan.


Bu Lidya terkejut mendengar ucapan Citra. Memang dirinya akan bertanya perihal berita yang dia dengar beberapa hari lalu. Jika Citra dan Pak Tian telah melangsungkan pertunangan.


"Permisi Bu. Saya mau pulang dulu," ucap Citra lagi.


Citra melangkah menuju pintu keluar. Tapi saat dirinya akan mencapai pintu, Bu Lidya memanggilnya lagi.


"Iya. Ada apa Bu?" tanya Citra.


"Em... maaf kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan kamu. Dan maaf kalau saya terkesan ikut campur dan pengin tahu urusan kamu," ucap Bu Lidya.


"Maksud Ibu?"


"Bu Luna bilang kalau kamu merebut Pak Tian darinya. Bu Luna juga bilang kalau kamu selalu mencari perhatian di depan Pak Tian. Kamu selalu menggoda Pak Tian hingga akhirnya Pak Tian meninggalkan Bu Luna demi kamu," ucap perempuan itu.


"Apa itu benar Citra?"


Citra tersenyum miring. Senyum yang terlihat mengerikan di mata Maria dan juga Anne. Mungkin Bu Lidya juga merasa ngeri saat melihat senyuman itu.


"Tergantung. Kalau Ibu mempercayai ucapan Bu Luna, Ibu akan membenarkan tuduhan itu. Tapi kalau Ibu tahu siapa saya, pasti Ibu nggak akan membenarkan tuduhan itu," jawab Citra.


Bu Lidya tampak terdiam mendengar jawaban Citra. Dia memang tak sepenuhnya percaya dengan omongan Bu Luna. Tapi dia juga tak bisa mengabaikan omongan yang menjurus ke arah fitnah itu.


"Dengan Ibu bertanya seperti itu pada saya, itu menandakan jika Ibu mempercayai tuduhan itu dan hanya ingin mengonfirmasi saja kepada saya. Ibu hanya ingin tahu bukan peduli," lanjutnya.


Setelah berkata demikian, Citra bergegas meninggalkan perpustakaan. Dia merasa gerah dengan tuduhan yang dialamatkan padanya. Dia merasa harus melakukan sesuatu agar tak ada lagi fitnah seperti ini.


Sejak keluar dari ruang perpustakaan, Citra lebih banyak diam. Anne dan Maria menjadi kasihan melihat perubahan sikap Citra itu.


"Kamu nggak apa-apa kan Cit?" tanya Anne.

__ADS_1


Citra menoleh. Dia menggelengkan kepalanya lemah. Namun matanya tak bisa berbohong. Dia terluka dengan tuduhan yang tak berdasar itu.


Saat tengah melamun, ponsel Citra tiba-tiba berdering. Citra mengambil ponselnya dan membaca identitas si penelepon. Raut wajahnya seketika berubah saat melihat siapa yang meneleponnya.


__ADS_2