
Citra memekik keras saat melihat Arga tersungkur. Dia terkejut saat melihat Tegar mengacungkan pistolnya ke arah Arga.
"Mas Tegar!" pekiknya tak percaya.
Tegar mengulas senyum. "Tenang aja. Dia nggak meninggal. Dia cuman pingsan. Karena yang aku tembakin itu obat bius," jelas Tegar.
Mendengar itu Citra sedikit merasa lega. "Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang Mas," ucap Citra.
Kedua lelaki itu mengangguk setuju. Tegar membopong tubuh Arga sedangkan Tian membopong Citra.
"Mas Tegar udah telepon Papa?" tanyanya saat mereka berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Udah. Pak Bayu dan yang lain udah Mas kasih tahu. Mungkin sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit juga," jawab Tegar.
Citra menarik napas lega. Tapi masih ada rasa khawatir yang bergelayut dalam hatinya. Dia takut nanti terjadi keributan saat keluarganya bertemu dengan keluarga Arga. Jujur saja dia tak ingin itu terjadi. Dia hanya ingin ini semua berakhir dengan damai tanpa adanya pertikaian.
Mobil terus melaju menembus gelapnya malam. Tak berapa lama mereka telah sampai di rumah sakit. Tegar segera memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil untuk meminta bantuan dari petugas medis di sana.
"Kamu keluar juga. Segera ke ruang UGD untuk mengobati luka kamu." Tegar memberitahu Citra saat dirinya sudah kembali ke mobil.
"Luka aku nggak apa-apa Mas. Luka kecil aja," ucap Citra.
"Jangan membantah! Luka kecil atau besar kalau nggak diobati bakal jadi infeksi," tegas Tegar.
Citra tak bisa membantah lagi jika sudah seperti ini. Dia hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan Tegar.
"Ini semua demi kebaikan kamu kan Sayang! Biar lukanya cepat sembuh dan nggak infeksi," sahut Tian.
Citra menatap kekasihnya itu. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Seorang petugas medis membawa Citra ke ruang UGD untuk membersihkan luka yang ada di kaki dan lengannya. Arga juga ada di ruangan yang sama dengan Citra dan sedang ditangani oleh dokter.
Sementara itu, Pak Bayu dan yang lainnya baru saja tiba di rumah sakit. Bu Mirna segera turun dari mobil dan segera berlari menuju ruang UGD saat melihat Tian di sana.
"Gimana keadaan Citra Nak Tian?" tanya Bu Mirna tak sabar.
"Citra baik-baik saja Bu. Dia sedang di dalam. Masih diperiksa dokter dan dibersihkan luka-lukanya," jawab Tian.
"Bagaimana keadaan Citra Pak?" Kali ini Anne yang bertanya. Dia baru saja keluar dari mobil disusul kemudian oleh pak Bayu dan Azwan.
__ADS_1
"Citra baik-baik saja. Dia masih di dalam. Soalnya tangan dan kakinya luka," jawab Tian.
Bu Mirna dan yang lainnya menarik napas lega. Mereka bersyukur karena Citra segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
Tak berapa lama keluarga Arga tiba di rumah sakit. Bu Salman menangis sembari bersimpuh di kaki bu Mirna. Wanita itu merasa bersalah karena ulah sang anak.
"Jangan seperti ini Jeng. Ayo bangun!" Bu Mirna berkata sembari menarik tubuh bu Salman untuk berdiri.
"Tapi saya malu Jeng. Saya malu sekali. Saya gagal menjadi orang tua untuk Arga. Saya gagal menjadi ibu untuk anak saya," kata bu Salman disela isak tangisnya.
Bu Mirna memeluk bahu wanita itu. Dia mengelus lembut lengan wanita itu. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan bu Salman saat ini.
Seorang dokter keluar dari dalam ruangan itu. Mereka yang ada di sana segera menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan Arga dan Citra Dok?" tanya Nanda yang kebetulan ikut ke sana.
"Anda siapanya pasien?" tanya dokter itu.
"Saya kakaknya Arga," jawab Nanda.
"Saya papanya Citra," sahut Pak Bayu.
Pak Bayu dan Bu Mirna menarik napas lega mendengarnya. Mereka tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena tak terjadi apa-apa dengan sang anak.
"Sedangkan Arga, dia masih butuh perawatan. Terutama perawatan untuk kesehatan mentalnya. Jadi saran saya segera hubungi psikiater untuk konseling," kata dokter itu lagi.
"Maksud Dokter anak saya gila?" tanya Pak Salman.
Dokter itu tersenyum. "Bukan Pak. Tapi anak Bapak butuh psikiater untuk menyembuhkan depresinya," jawab dokter itu.
Pak Salman dan bu Salman tak percaya kala sang dokter mengatakan itu. Selama ini Arga terlihat sehat-sehat saja. Tak ada tanda-tanda dia sedang mengalami depresi atau apapun itu.
...****************...
Kegiatan sekolah sudah kembali di mulai. Anne, Citra, dan Azwan tampak sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Citra bawa bekal aja Ma," kata Citra pada sang mama.
"Tumben bawa bekal Sayang?" tanya bu Mirna.
__ADS_1
"Lagi pengin bawa bekal aja Ma. Kan uang jajannya bisa Citra tabung," jawab Citra.
Bu Mirna mengulas senyum saat mendengar ucapan sang anak. Tanpa banyak bertanya lagi, wanita cantik itu segera menyiapkan bekal untuk sang anak.
"Kalau Citra bawa bekal, aku juga mau dong Ma!" pinta Anne.
Bu Mirna mengacungkan kedua jempolnya. Kemudian wanita itu segera menyiapkan bekal untuk kedua anaknya.
"Ma kami berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." Citra berpamitan seraya mencium punggung tangan sang mama.
Hal yang sama dilakukan juga oleh Azwan dan Anne. Mereka mencium punggung tangan wanita yang selalu sabar menghadapi sikap mereka yang terkadang menyebalkan.
"Hati-hati ya. Pulang sekolah langsung pulang. Jangan mampir-mampir," ucap bu Mirna.
Mereka bertiga menganggukkan kepala bersamaan. Setelah itu, mereka segera berangkat ke sekolah.
Selama perjalanan, Citra tampak murung. Seolah ada yang sedang mengganjal pikirannya.
"Kamu kenapa Cit?" tanya Anne.
"Eh enggak. Enggak apa-apa kok," jawab Citra.
"Beneran nggak apa-apa? Kamu kayaknya lagi kepikiran sesuatu. Lagi mikirin apa?"
Citra menghela napas panjang. "Aku lagi kepikiran sama Arga. Gimana ya keadaan dia sekarang?"
Anne tampak tak suka saat Citra menyebut nama Arga. Bukan karena Anne merasa cemburu pada Citra. Tapi gara-gara dia, Citra hampir celaka.
"Kenapa sih masih mikirin dia?" sewot Anne.
"Ya nggak apa-apa. Aku kasihan aja lihat dia kayak gitu. Tiap hari harus melawan rasa yang menyakitkan itu sendirian. Harus berjuang melawan depresinya seorang diri," ucap Citra.
Anne membuang muka saat Citra mengatakan itu. Dia semakin tak suka Citra masih peduli pada pemuda itu. Dia tak suka Citra terlalu baik pada pemuda itu.
"Kenapa kamu nggak laporin dia aja sih Cit? Dia kan udah jahat banget sama kamu?" Anne bertanya sembari menatap mata Citra.
Citra menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Aku nggak tega kalau harus lihat dia dipenjara. Biar bagaimanapun juga, dia orang yang selalu ada buat aku. Dia yang selalu membela aku saat mereka merundungku," jawab Citra.
Anne lagi-lagi membuang muka saat mendengar ucapan Citra. Hatinya terasa berdenyut saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Citra.
__ADS_1