
Citra baru saja sampai di rumah saat jam makan malam telah tiba. Dia masuk ke dalam rumah tanpa semangat seperti biasanya.
"Citra!" panggil pak Bayu.
Citra menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah sang ayah yang berjalan menuju ke arahnya.
"Papa mau bicara sebentar. Bisa ikut Papa ke ruang tengah?" ujar pak Bayu.
Citra hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia tak menjawab apapun. Tapi dia mengikuti langkah papanya menuju ruang tengah.
"Duduk!" kata pak Bayu lagi.
Citra menuruti perkataan sang ayah dengan kepala yang masih tertunduk dalam.
"Papa mau tanya, kenapa tadi kamu bolos sekolah?" tanya pak Bayu.
Citra terdiam. Dia ingin berkata jujur, tapi dia takut papanya akan semakin marah.
"Jawab dengan jujur. Papa nggak akan marah kalau kamu mau jujur," ujar pak Bayu.
"Maaf, Pa. Tadi Citra nemenin Mas Tian di rumah sakit. Soalnya... soalnya...."
"Terus kenapa nggak telepon orang tuanya Tian?" potong pak Bayu.
"Udah. Tapi ibunya Mas Tian datangnya pas hari usah siang," jawab Citra.
Pak Bayu menghela napas panjang. "Papa nggak melarang kamu untuk merawat Tian yang lagi sakit. Papa juga nggak melarang kamu peduli sama Tian. Tapi---"
Pak Bayu sengaja menjeda ucapan. Lelaki itu ingin melihat reaksi Citra. Tapi Citra tak bereaksi berlebihan. Dia hanya menatap pak Bayu sekilas kemudian kembali menundukkan kepalanya.
"Kamu dan Tian masih tunangan. Belum menjadi suami istri. Jadi, Papa minta tolong sama kamu. Tolong utamakan pendidikan kamu. Jangan abaikan sekolah kamu. Papa nggak mau sekolah kamu berantakan hanya karena kamu mentingin hal lain," lanjut pak Bayu.
Citra mengangguk paham. Dia sebenarnya juga tak ingin membolos tadi. Tapi dia tak tega meninggalkan Tian sendirian di rumah sakit.
Pak Bayu menghela napas lagi. "Ya udah! Sekarang kamu mandi. Setelah itu kita makan," ucapnya akhirnya.
Citra menganggukkan kepalanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menuju kamarnya di lantai atas.
Saat akan masuk ke dalam kamarnya, Anne memanggil dirinya.
"Kamu kenapa? Dimarahin sama Papa?" tanya Anne.
Citra hanya menghela napas panjang. "Aku masuk dulu ya. Mau mandi terus istirahat. Aku capek!" ucapnya.
Citra sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Anne. Anne menjadi heran dengan perubahan sikap Citra. Mungkin dia masih kesal karena dimarahi Papa, begitu pikirnya.
__ADS_1
Anne kemudian turun ke lantai bawah. Dia berjalan menuju ruang makan.
"Citra mana An?" tanya bu Mirna.
"Masih mandi kayaknya, Ma," jawab Anne.
Bu Mirna manggut-manggut mendengar jawaban Anne.
"Oh iya! Gimana keadaan Tian?" tanya pak Bayu.
"Sudah mendingan, Pa. Mungkin besok sudah boleh pulang," jelas Azwan.
Pak Bayu manggut-manggut mendengar penjelasan Azwan.
"Besok kita jenguk ke rumah sakit ya, Pa. Enggak enak kan calon mantu lagi di rumah sakit tapi kita nggak jenguk ke sana," ucap bu Mirna.
"Iya, Ma. Tapi kalau misalkan Papa belum datang, Mama berangkat sama Pak Kosim aja ya," sahut pak Bayu.
Bu Mirna menganggukkan kepalanya. "Kalian makan aja dulu. Mama mau panggil Citra," ucap bu Mirna.
Ketiganya kompak menganggukkan kepala. Kemudian tanpa komando, mereka bergantian menyendokkan nasi ke atas piring mereka masing-masing.
...****************...
Sudah hampir satu minggu Tian dan Citra tak saling bertegur sapa. Mereka seperti dia orang asing jika tanpa sengaja berpapasan.
"Aku nggak bisa kayak gini terus. Aku harus selesaikan masalah ini segera. Biar nggak berlarut-larut," ucap Citra dalam hati.
Gadis itu lantas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju keluar kelas. Tepat saat itu, Anne dan Maria akan masuk ke dalam kelas setelah dari kantin sekolah.
"Mau ke mana Cit?" tanya Maria.
"Mau ke perpus," jawab Citra.
"Mau ngembaliin buku ya?" tanya Anne.
Citra menganggukkan kepalanya.
"Bu Diana kan masih cuti. Jadi perpus nggak ada yang jaga sekarang," kata Maria.
Citra menepuk keningnya. Dia lupa kalau bu Diana, penjaga perpus masih cuti untuk menikah dua hari lalu. Jadi otomatis perpus tutup.
"Udah besok-besok aja kalau mau ngembaliin buku. Lagian bentar lagi bel kan," ucap Maria lagi.
Citra mengangguk setuju. Kemudian dia berjalan masuk kembali ke dalam kelas.
__ADS_1
Tak terasa jam sekolah sudah berakhir. Itu artinya semua murid sudah diperbolehkan untuk pulang. Citra tampak terburu-buru. Dia membereskan peralatan sekolahnya dengan cepat.
"Mau ke mana sih? Buru-buru banget?" tanya Anne.
"Ada urusan bentar," jawab Citra.
Gadis itu lantas berjalan cepat menuju pintu keluar kelas. Dia berjalan menuju tempat parkir motor. Citra ingin menyelesaikan masalahnya dengan Tian. Dia tak ingin masalahnya berlarut-larut.
"Aku harus cepat. Sebelum Pak Tian pulang," ucapnya pada diri sendiri.
Citra setengah berlari menuju tempat parkir. Dia tak peduli dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Dalam pikirannya, dia harus segera menemui Tian untuk menyelesaikan masalah mereka.
Langkahnya terhenti saat dia melihat Tian sedang bercanda mesra dengan seorang siswi. Citra tahu siswi itu adalah orang yang sama dengan yang dilihatnya di kafe kala itu.
Citra terus mengawasi mereka. Matanya terus menatap ke arah mereka. Dia bisa menyaksikan betapa manjanya gadis itu pada Tian. Dia juga bisa melihat Tian merespon sang gadis dengan gayanya.
"Citra!" Tian memekik saat matanya melihat Citra tengah menatap ke arahnya.
Citra segera berlalu dari sana saat menyadari Tian melihat ke arahnya. Dia menghapus air matanya yang menetes tanpa bisa ia bendung lagi.
"Pak Tian mau ke mana? Katanya mau nganterin saya pulang?" ujar Silvi.
Tian menghela napas panjang. "Ya udah. Ayo saya antarkan kamu pulang," ucap Tian.
Sementara itu, Citra berjalan cepat menuju gerbang. Di mana pak Kosim sudah menunggunya.
"Kamu ke mana dulu sih?" tanya Azwan.
"Ke toilet," jawab Citra pendek.
"Kebelet?" ujar Azwan lagi.
Belum sempat Citra menjawab, dia melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit dan perih.
"Cit!" panggil Maria.
Citra menoleh ke arah Maria. Dia memaksakan senyumnya saat menatap Maria. Seolah ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Yuk, masuk!" ajaknya.
Citra menganggukkan kepalanya. Dia lantas masuk ke dalam mobil bersama dengan Maria dan Anne.
Selama perjalanan pulang, Citra tampak diam saja. Bahkan setelah sampai di rumah, Citra diam saja. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan Anne dan Maria yang menatapnya dengan iba.
Di dalam kamar, Citra tampak duduk di sofa yang ada di samping jendela. Matanya basah oleh air mata. Hatinya masih terasa sangat perih kala mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
Dering suara ponsel menghentikan lamunannya. Dia segera meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Dia membaca pesan yang masuk dan seketika tangisnya semakin menjadi. Hatinya kian terasa perih kala membaca pesan yang masuk ke ponselnya.