
Rasa benci dan iri yang mendarah daging membuat mata hati Wiwit tertutup. Dia tak bisa berpikir jernih. Dia hanya bisa menyalahkan orang lain atas apa yang dialaminya. Dalam hal ini dia menyalahkan Citra yang membuat Tegar menjauh darinya.
"Tuh cewek harus membayar setiap perlakuannya ke aku. Aku nggak akan tinggal diam. Dia udah keterlaluan. Dia udah membuat Mas Tegar menjauh dari aku. Dan sekarang Mas Tegar udah semakin jauh. Mustahil aku bisa mendapatkan dia," ucapnya dalam hati.
Matanya mengawasi keadaan sekitar. Memastikan bahwa tak ada CCTV atau warga yang lewat di sana. Walau dia tahu, kalau disekolah itu pasti ada satpamnya. Tapi dia sudah memperhitungkan tentang itu.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa berhamburan keluar dari dalam gedung sekolah. Termasuk Citra dan yang lain.
"Citra!"
Citra menoleh dan mendapati Maria tengah berlari ke arahnya. Wajah Citra seketika berubah kala melihat Maria.
"H-hai! A-ada apa Mar?" Citra mencoba menyapa Maria. Walau suaranya terdengar bergetar karena takut.
Maria mengulas senyum. Gadis itu seolah ingin menunjukkan pada Citra jika dia tak berniat jahat pada gadis itu.
Maria mengulurkan tangannya. "Maafin gue ya. Selama ini gue selalu bully lo. Selalu usil sama lo. Selalu gangguin elo. Gue juga selalu menghina elo," ucap Maria.
Citra mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Maria meminta maaf padanya. Hatinya seolah menolak permintaan maaf Maria. Tapi sudut hatinya yang lain seolah menyadarkannya.
Citra menghela napas panjang sebelum menanggapi permintaan maaf dari Maria.
"Aku... aku udah maafin kamu. Bahkan sebelum kamu minta maaf sama aku," jawab Citra.
Maria tersenyum lega saat Citra mengatakan itu. Selama ini dia selalu dihantui rasa bersalah. Puncaknya adalah ketika dia bermimpi didatangi oleh kakaknya yang telah meninggal dunia.
Dalam mimpinya, kakaknya itu berkata jika Maria harus menghentikan aksinya. Awalnya Matia tak menggubrisnya. Tapi mimpi itu datang dan datang lagi. Hingga akhirnya minggu lalu. Saat dirinya sedang berada di gereja, dia berbicara dengan seorang pendeta.
Maria menceritakan perihal mimpinya dan perilakunya selama ini. Pendeta itupun mengatakan jika Maria harus meminta maaf pada orang yang telah ia bully. Dia harus mendapatkan ampunan dari orang itu sebelum mengharap pengampunan dari Tuhan.
Maria pun melaksanakan apa yang Pendeta itu katakan. Dia meminta maaf pada Citra. Dia tak ingin seumur hidupnya dihantui rasa bersalah.
"Aku nggak dendam kok sama kamu, Mar." Ucapan Citra mengembalikan Maria ke alam sadarnya.
Maria tersenyum lega mendengar ucapan terakhir Citra. Dia tahu, Citra adalah orang yang baik. Tapi dia tak menyangka jika Citra tak menyimpan dendam padanya. Dia justru dengan lapang hati memaafkan segala kesalahannya.
__ADS_1
"Makasih ya Cit. Makasih banget! Makasih karena udah mau maafin gue," ucapnya penuh kelegaan.
Citra tersenyum. "Udah nggak usah dibahas lagi. Sekarang kita bisa berteman," kata Citra.
Maria memeluk Citra. Dia merasa lega sekarang karena Citra mau memaafkannya. Dia tak lagi merasa bersalah pada gadis itu.
"Elo pulang bareng siapa?" tanya Maria.
Citra hendak menjawab saat sebuah suara menyela obrolan mereka.
"Cit, hari ini kita pulang naik taksi. Soalnya Papa... Ngapain lo di sini!" ketus Anne saat melihat Maria di sana.
Maria menundukkan kepalanya. Dia tahu Anne tak akan pernah mau memaafkan dirinya seperti Citra.
"Gue cuman... gue cuman...."
"Cuman apa? Gangguin Citra lagi? Menghina Citra lagi?" bentak Anne.
"Anne!" Citra menggamit lengan Anne dan menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat agar dia bersikap sopan dan baik.
Anne menautkan kedua alisnya. Dia tak percaya jika Maria meminta maaf pada Citra.
"Elo pasti cuman modus doang kan? Elo pasti pengin menghina Citra lagi kan?" ujar Anne tak percaya.
Maria menundukkan kepalanya semakin dalam. Dia tak berani menatap wajah Anne yang terlihat marah. Dia sadar jika sikapnya pada Citra dulu memang kelewatan. Tapi sekarang dia sudah menyesal. Dia sudah menyesali semuanya.
"Anne!" panggil Citra lagi. Kemudian gadis itu menjelaskan semuanya. Berharap Anne bisa mengerti dan tak bersikap ketus lagi pada Maria.
Setelah mendengar penjelasan Citra yang panjang lebar, akhirnya Anne mau mengerti juga. Dia mau bersikap sedikit lembut pada Maria.
"Tapi beneran kan? Elo udah menyesal dan nggak akan gangguin Citra lagi?" tanya Anne penuh selidik.
"Beneran. Gue udah menyesal. Gue nggak akan gangguin Citra lagi," ucapnya.
Anne menghela napas panjang. Dia kemudian berkata, "oke kalau emang elo serius minta maaf. Tapi gue nggak akan tinggal diam kalau suatu saat gue lihat elo atau geng lo gangguin Citra lagi."
__ADS_1
Maria mengangguk paham. Dia kemudian menarik napas lega karena Anne tak lagi curiga padanya.
"Ya udah sekarang kita pulang Cit. Papa hari ini nggak bisa jemput. Jadi kita pulang naik taksi aja," ucap Anne.
Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan mengikuti langkah Anne. Sebelum menjauh dia masih sempat berpamitan pada Maria yang masih berdiri di sana.
Citra dan Anne terus melangkah menuju gerbang sekolah. Saat sampai di depan gerbang, Anne teringat sesuatu. Akhirnya dia izin pada Citra untuk mengambil barangnya yang tertinggal.
"Duh kenapa bisa lupa sih?" gumamnya.
Anne berjalan kembali menuju kelasnya. Dia masuk ke kelasnya dan berjalan menuju bangkunya.
"Nah itu dia," ucapnya.
"Untung enggak ilang." Katanya lagi sambil mengangkat benda itu. Dia kemudian menyimpan benda berbentuk kotak itu ke dalam tas sekolahnya. Setelah itu dia berjalan keluar dari kelasnya.
Anne setengah berlari menuju gerbang sekolah. Selain dirinya sudah lapar, dia juga tak mau membuat Citra lama menunggu.
"Ada apaan tuh ramai-ramai?" Tanya Anne saat melihat kerumunan orang di depan gerbang sekolahnya.
Anne segera berlari ke tempat kejadian. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana. Seketika tubuhnya membeku di tempat saat melihat tubuh seseorang yang dikenalnya tergeletak bersimbah darah.
*****
Setelah melancarkan aksinya, Wiwit segera memacu kendaraannya dengan cepat. Seulas senyum licik tergambar di wajahnya. Dia sangat puas saat melihat orang yang ia benci tergeletak tak berdaya.
"Akhirnya aku bisa membalaskan rasa sakit hatiku padanya. Aku berharap dia tak akan pernah selamat walaupun telah dibawa ke rumah sakit," ucapnya dalam hati.
Wiwit terus memacu kendaraannya semakin cepat. Dia ingin segera sampai di rumahnya dan beristirahat. Namun wajahnya memancarkan sinar kelegaan setelah melancarkan aksinya.
Tak berapa lama, Wiwit telah sampai di rumahnya. Dia celingukan, memastikan tak ada yang melihatnya. Setelah dirasanya aman, Wiwit segera memasukkan motornya ke bagian belakang rumahnya.
"Huh! Akhirnya selesai juga. Mudah-mudahan aja dia langsung mati. Jadi nggak sia-sia aku tabrak dia," ucapnya.
Wiwit segera keluar dari gudang setelah menyimpan kembali motornya. Tak lupa ia kunci pintu gudang itu.
__ADS_1
"Siapa yang kamu doain cepat mati?"