
Tian keluar dari rumah Citra dengan perasaan tak menentu. Jujur saja dia merasa tak enak hati dan merasa konyol.
"Bodoh sekali kamu Tian. Kenapa kamu malah berkata seperti itu? Kenapa kamu malah bilang kalau sering mengikutinya? Lihat sekarang. Dia menjadi risih sama kamu," ucapnya pada diri sendiri.
Pemuda itu terus mengumpat dalam hati hingga motor yang ia kendarai memasuki pekarangan sebuah rumah dengan nuansa putih. Tian memarkirkan motor besar miliknya di depan garasi rumahnya.
Tian berjalan santai menuju pintu rumahnya yang tertutup rapat. Dia menempatkan tubuhnya di sebuah kursi yang ada di teras rumahnya.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini sih? Niat PDKT apa niat ngajak berantem sih aku sebenarnya?" ucapnya dalam hati.
Tian menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah menuju pintu.
"Tian!" seru seseorang.
Mendengar ada yang menyerukan namanya, Tian menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
Seorang gadis dengan penampilan modis berjalan cepat ke arahnya. Tak lupa senyum manis menghiasi wajahnya yang penuh dengan make up.
Tanpa malu-malu lagi, gadis itu langsung memeluk tubuh Tian. Tian mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi gadis itu memeluknya dengan sangat erat.
"Aku kangen sama kamu Yan," ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.
Tian tak menghiraukan ucapan gadis itu. Pemuda itu berusaha melepaskan pelukan gadis yang telah menjadi masa lalu untuknya itu.
"Aku kangen sama kamu Yan." Gadis itu mengucapkan lagi kalimat itu dengan nada yang sedikit keras.
Tian tersenyum miring mendengarnya. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Seolah enggan untuk menatap wajah gadis itu.
"Tian lihat aku." Gadis itu memegang kedua pipi Tian agar pemuda itu mau menatapnya. Tapi Tian justru menyentaknya dengan kasar hingga tangan gadis itu terlepas dari wajahnya.
"Jangan ganggu hidupku lagi. Pergi dari sini sebelum aku panggilkan satpam untuk mengusir kamu," tegas Tian.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia enggan pergi dari sana walau Tian sudah mengancam dirinya.
"Enggak. Aku tetap mau di sini. Aku kangen sama kamu Yan." Gadis itu kembali menubruk tubuh Tian. Tapi Tian dengan cepat menghindar darinya.
"Pergi dari sini. Aku muak lihat wajah munafik kamu," ucapnya lagi.
Gadis itu kekeh tak ingin pergi dari sana. Dia masih saja memegang tangan Tian dengan eratnya hingga....
"Siapa yang datang Nak?" Seseorang bertanya sambil berjalan menuju teras depan.
Seorang wanita paruh baya tampak keluar dari dalam rumah itu. Dialah Bu Hamidah, ibunda Tian.
Tian dan gadis itu kompak menoleh. Tian melemparkan senyum saat melihat wanita dengan hijab lebarnya itu keluar dari dalam rumah. Sedangkan gadis itu memasang wajah tak suka saat melihat wanita itu keluar.
"Oh kamu," sinis wanita itu.
__ADS_1
Gadis itu menyunggingkan senyum miring saat Bu Hamidah menyapanya dengan sinis.
"Kenapa sih kayak yang benci banget sama aku? Padahal aku nggak pernah lho benci sama Tante?" tanya gadis itu dengan nada yang terdengar kurang sopan.
Bu Hamidah menatap tajam ke arah gadis yang pernah menjadi kekasih anaknya itu. Sejak dulu wanita paruh baya itu tak pernah menyukai sifat gadis itu yang dinilainya tidak sopan dan terkesan kurang ajar.
"Kita masuk Bu. Tian mau mandi setelah itu mau berangkat kerja," ucap Tian.
Tanpa menghiraukan kehadiran gadis itu, Tian dan ibunya masuk ke dalam rumah. Tian tak peduli pada suara sang gadis yang terus meneriakkan namanya.
Tak hanya Tian dan ibunya yang mendapat kejutan tamu tak diundang. Arga dan keluarganya pun juga mendapat kejutan tamu tak diundang.
"Mau ngapain lagi sih?" ujar Arga dengan nada sinis.
Gadis berambut pirang yang beberapa hari lalu mencoba mengintimidasi Citra terdiam di hadapannya. Matanya berkaca-kaca saat menatap Arga.
"Enggak usah jual drama. Enggak mempan buat gue," sentak Arga.
Gadis itu masih terdiam di tempat. Setetes bening tiba-tiba meluncur bebas dari matanya.
Arga tersenyum miring saat melihat air mata gadis itu turun dengan bebas. Tak ada rasa simpati dalam hatinya saat melihat gadis itu menangis.
"Mau elo nangis darah sekalipun, gue nggak peduli Shan. Gue udah muak sama drama yang elo ciptakan. Gue udah muak sama sikap elo yang egois," kata Arga.
"Sekarang gue minta, elo pergi dari sini dan jangan pernah ganggu gue lagi." Arga beranjak dari hadapan gadis itu setelah mengucapkan kalimat bernada mengusir itu.
"Sialan. Arga sama sekali nggak mempan dengan tangisan aku. Padahal dulu dia selalu luluh saat melihat aku menangis," umpatnya dalam hati.
"Ini pasti gara-gara cewek itu. Dasar cewek kampung," geramnya.
"Gimana? Berhasil?" ejek seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Gadis itu menoleh saat mendengar suara seseorang di belakangnya.
Nanda berdiri sambil menatap mata gadis berambut pirang itu dengan tatapan mengejek. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana jeans-nya.
"Udah gue bilang kan. Elo nggak bakalan berhasil ngambil hati Arga lagi. Setelah apa yang elo lakuin sama dia dulu," kata Nanda.
Pemuda itu memang tahu tentang hubungan Arga dengan gadis itu. Dia tahu semua yang terjadi diantara keduanya.
Saat itu Arga baru saja lulus SMP. Dia dan gadis itu awalnya berencana untuk masuk ke SMA yang sama. Tapi karena satu dan lain hal, gadis itu memilih melanjutkan sekolahnya di negara asalnya, Jerman.
Sejak saat itu, mereka berdua menjalani hubungan jarak jauh. Selama dekat dengan Shania, gadis berambut pirang itu. Arga menjadi pribadi yang suka membangkang. Dia tak pernah mau mendengarkan apa kata orang tua. Dia berubah menjadi orang lain selama dekat dengan gadis itu.
Awalnya hubungan keduanya aman-aman saja. Komunikasi keduanya juga lancar. Hingga pada suatu hari, Arga memergoki Shania tidur bersama beberapa lelaki. Dia melihat Shania dengan liarnya melayani laki-laki itu dengan penuh nafsu. Sejak saat itu Arga mulai menjauh dari Shania. Dia tak ingin lagi kenal dengan Shania.
"Aku hamil." Ucapan singkat Shania mengembalikan Nanda ke alam sadarnya.
__ADS_1
Matanya menatap tak percaya pada gadis yang tengah berdiri di depannya itu.
"Apa?!" pelik Nanda tak percaya.
Shania mengangkat wajahnya. Dia menatap Nanda dengan linangan air mata.
"Aku hamil. Dan Arga harus tanggung jawab," ucapnya lagi.
Senyum sinis terkembang di wajah Nanda. "Gue tahu siapa Arga. Dan gue juga tahu siapa elo. Jangan coba-coba menjerat Arga dengan kehamilan lo itu. Karena keluarga kami nggak akan pernah mau menerima perempuan murahan kayak kamu," ucap Nanda.
Shania menatap ke arah Nanda. Dia seolah ingin mengatakan jika dirinya mang benar-benar hamil anak Arga.
"Sebaiknya elo pergi deh sebelum orang tua gue ngusir elo," usir Nanda.
"Aku nggak mau pergi sebelum Arga mau bertanggung jawab pada janinku," ucap Shania.
Lagi-lagi Nanda tersenyum miring. Dia sama sekali tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Shania.
"Terserah!" ucap Nanda.
Setelah itu pemuda tampan itu berlalu pergi dari hadapan Shania. Dia berjalan melewati Shania yang masih berdiri mematung.
"Aku bakalan buktiin kalau aku bisa dapatkan Arga kembali. Kalau aku nggak bisa dapatkan Arga, cewek manapun enggak boleh dapatkan dia," gumamnya.
*****
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Para siswa dan sebagian guru tampak berada di kantin sekolah. Termasuk juga Citra dan Anne. Mereka berdua tampak sedang mengantre untuk membeli makan siang.
"Citra," panggil seseorang.
Citra menoleh dan mendapati Arga berdiri tak jauh darinya. Citra tersenyum saat melihat pemuda itu.
"Udah pesan makanan?" tanyanya.
"Ini baru mau pesan," jawab Citra.
"Kalian duduk aja. Biar aku yang pesankan buat kalian," ucap Arga.
"Enggak usah Ga. Biar kita ngantri sendiri aja," tolak Citra dengan halus.
"Iya Ga. Enggak apa-apa kok." Anne ikut menimpali ucapan Citra.
"Enggak apa-apa. Kalian duduk aja biar aku yang pesankan buat kalian." Arga tetap memaksa. Akhirnya kedua gadis itu mengalah. Mereka berdua akhirnya duduk.
Arga ikut mengantre bersama dengan para siswa yang lain. Sedangkan Citra dan Anne tampak sedang duduk menunggu pesanan mereka datang.
Selesai mengantre, Arga lantas berjalan menuju meja tempat Citra dan Anne menunggu. Senyum terus terkembang di wajahnya. Namun senyumnya langsung surut saat melihat kejadian di depan matanya. Kejadian yang membuat hatinya merasa panas.
__ADS_1