Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 72


__ADS_3

Arga membawa Citra ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Dia mendudukkan tubuh Citra di sebuah kursi dan mengikat kaki serta tangannya dengan sebuah tambang yang sudah ia siapkan.


"Dengan begini kamu nggak akan bisa ke mana-mana. Kamu akan tetap di sini bersama denganku," ucapnya.


Arga mengikat tubuh Citra dengan kencang. Dia tak ingin Citra melarikan diri darinya.


"Nah, selesai! Sekarang kamu nggak akan bisa pergi dari aku." Ucapnya sembari mengelus pipi Citra dengan lembut.


Hari sudah beranjak siang. Arga tampak tertidur di sofa yang tak jauh dari Citra. Sepertinya dia kelelahan karena perjalanan panjang yang ditempuhnya tadi.


Citra melenguh. Dia mengerutkan keningnya. Kepalanya terasa berputar dan badannya terasa sakit semua. Perlahan dia mencoba membuka matanya. Dia edarkan pandangannya ke sekeliling.


"Di mana ini?" Tanyanya sembari matanya meneliti ruangan asing itu.


Citra mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. "Kenapa aku diikat? Siapa yang mengikatku seperti ini?" gumamnya.


Dia masih tak menyadari jika ada Arga yang tertidur di sofa. Citra mencoba melepaskan ikatan itu. Tapi usahanya sia-sia. Ikatan tali itu terlalu kuat sehingga menyulitkan dirinya untuk melepaskan diri.


Citra terus berusaha. Dia tak ingin menyerah. Dia mencoba lagi agar ikatan itu terlepas.


Mendengar suara berisik, Arga terbangun dari tidurnya.


"Citra! Kamu sudah bangun?" Ujarnya sembari mengucek matanya.


Mendengar suara Arga, Citra lantas menoleh. Ada secercah harapan untuk bisa secepatnya keluar dari tempat itu.


"Arga, bantuin aku lepasin ikatan ini. Kita harus secepatnya keluar dari sini." Katanya sambil menunjuk ikatan itu dengan dagunya.


Arga hanya terdiam. Dia menatap Citra tanpa melakukan apapun juga.


"Arga! Kita harus secepatnya keluar dari sini. Sebelum orang jahat itu kembali," ulangnya.


Arga hanya menatap Citra dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Arga!" panggilnya lagi.


Arga masih terdiam. Sedetik kemudian seulas senyum terkembang di wajahnya.


"Kita nggak akan bisa keluar dari sini," ucapnya.


"Hah! Maksud kamu?" tanya Citra.


Arga tersenyum miring. "Iya. Kita akan selamanya di sini. Kita akan memulai hidup kita yang baru bersama di sini," ucapnya.


Citra menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak Ga. Aku mau pulang. Aku mau ketemu sama Papa dan Mama."


"Buat apa Citra? Mereka nggak peduli sama kamu. Buktinya sampai sekarang mereka nggak mencari kamu kan?" ujarnya.


Mendengar itu, Citra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak ingin di tempat ini selamanya. Dia ingin pulang ke rumahnya.


...****************...


Tegar tiba di rumah pak Bayu tepat saat azan magrib berkumandang. Dia segera turun dari mobilnya disusul kemudian oleh sang istri.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum." Ucapnya sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


"Wa'alaikumusalam," jawab pak Bayu dan Tian hampir bersamaan.


"Bagaimana? Apa sudah ada yang mendapatkan kabar dari Citra?" tanyanya tak sabar.


Semua yang ada di sana menggeleng. Tak ada yang bisa menelepon Citra karena ponselnya mati atau sengaja dimatikan.


"Maaf apa Bapak sudah lapor polisi?" tanya istri Tegar.


"Polisi belum bisa memproses laporan karena Citra belum ada 2x24 jam hilangnya," jelas Tian.


Wanita cantik itu hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.


"Apa kalian sudah menghubungi teman-teman Citra? Siapa tahu mereka ada yang sedang bersama dengannya sekarang?" tanya wanita itu lagi.


"Citra bukan tipe anak yang senang menginap atau pergi tanpa pamit kepada siapapun. Dia juga bukan tipe anak yang suka keluar rumah kalau tidak ada perlunya," jelas Tian lagi.


Wanita itu kembali terdiam. Dia memang tak pernah tahu kebiasaan Citra. Dia hanya mendengar ceritanya dari sang suami. Dia tak pernah berbicara langsung dengan Citra sebelumnya.


"Kita harus mencarinya segera. Jangan bergantung pada petugas. Syukur-syukur kita bisa menemukan Citra sebelum kita melaporkan pada petugas," saran Tegar.


"Saya setuju. Kita memang harus bergerak cepat," sahut Tian.


Pak Bayu mengangguk setuju. Pria itu lantas memanggil Azwan dan beberapa pekerjanya untuk membantu mencari Citra.


"Sayang, kamu tunggu di sini ya. Aku sama yang lain mau nyari Citra dulu," pamitnya pada sang istri.


Wanita cantik itu mengangguk setuju. "Kamu hati-hati ya Mas. Semoga Citra segera ketemu," ucapnya.


Sementara itu, Bu Mirna tengah ditenangkan oleh Anne. Gadis itu berulang kali meminta maaf pada sang Mama yang terlihat putus asa.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang.


"Wa'alaikumusalam. Eh Kak Aida," ucap Anne.


Wanita yang dipanggil Aida itu tersenyum. Dia lantas berjalan mendekat ke arah Anne dan Bu Mirna.


"Maaf saya dan Mas Tegar baru tiba sekarang. Karena tadi harus menunggu Mas Tegar pulang apel dulu," jelas Aida.


"Enggak apa-apa Kak. Makasih sudah mau datang ke mari," jawab Anne.


Bu Mirna tampak mengelus foto Citra yang tersimpan rapi di dalam sebuah pigura. Air mata wanita itu terus mengalir membasahi pipinya.


"Citra... kamu di mana Nak? Pulang Nak! Mama kangen sama kamu. Pulang Nak!" Ucapnya sembari mengelus lembut foto itu.


Anne hanya bisa menghela napas panjang. Dia ikut sedih melihat sang Mama yang seperti kehilangan semangat saat mendengar kabar jika Citra menghilang.


"Sejak tadi Mama begini terus Kak! Aku merasa bersalah karena memintanya untuk menemani aku tadi. Seandainya tadi aku nggak...."


"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Aku yakin Citra juga nggak akan nyalahin kamu. Ini musibah Anne. Ini bukan kesengajaan," potong Aida cepat.


"Tapi ini semua memang salah aku Kak. Gara-gara aku Citra jadi celaka. Dulu gara-gara aku, Citra kecelakaan. Sekarang gara-gara aku juga Citra...."

__ADS_1


"Sssttt... udah ya. Jangan salahin diri kamu sendiri. Kakak yakin Citra nggak nyalahin kamu. Citra bukan tipe orang seperti itu kan?" ujar Aida.


Di tempat lain, Citra masih berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Dia berusaha keras walaupun usahanya sering kali menemukan kegagalan.


"Kamu makan dulu ya. Aku suapin." Ucap Arga sembari membuka bungkusan nasi yang dia bawa.


Arga menyendokkan nasi dan menyuapkannya pada Citra.


Citra memalingkan wajahnya. Dia tak mau menerima suapan nasi dari tangan Arga.


"Kamu harus makan. Aku nggak mau kamu sakit," ucap Arga.


Citra terdiam. Dia tetap tak mau membuka mulutnya. Itu membuat Arga murka. Dia melempar bungkusan nasi itu hingga berantakan di lantai.


"MAU KAMU APA? HAH?! AKU BERUSAHA BAIK SAMA KAMU. AKU MAU KAMU MAKAN. TAPI KENAPA KAMU MENOLAKNYA?" teriaknya.


Citra memejamkan matanya rapat-rapat. Air matanya meleleh membasahi pipinya. Dia takut saat mendengar suara keras Arga.


Melihat Citra menangis, Arga mendekat ke arahnya. Wajahnya seketika berubah saat melihat air mata Citra berjatuhan.


"Citra, maafkan aku. Aku nggak bermaksud untuk membentak kamu. Aku cuman reflek aja tadi. Maafin aku Sayang!" Ucapnya sembari mencoba menyentuh pipi Citra.


Citra mencoba menjauhkan pipinya dari jangkauan Arga. Dia tak ingin Arga menyentuh dirinya.


Sementara itu, Tian dan Tegar mencari Citra hingga hampir ke perbatasan.


"Coba kita tanya ke pemilik rumah itu Mas." Ucap Tian sembari menunjuk ke sebuah rumah.


"Kamu yakin?" tanya Tegar.


"Ya yakin nggak yakin sih. Tapi apa salahnya di coba," ucap Tian.


Tegar setuju. Mereka kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju rumah itu dan mengetuk pintunya.


"Assalamu'alaikum. Permisi!" ucap Tian.


"Assalamu'alaikum," ucap Tegar.


Mendengar ada yang mengucapkan salam, Arga bangkit dari tempatnya berjongkok.


"Diam di sini. Aku keluar sebentar. Jangan bersuara atau teriak," ucap Arga.


Setelah mengatakan itu, Arga segera berjalan menuju pintu.


"Arga!" pekik seseorang yang berada di luar.


Arga membelalakkan matanya. Dia ingin menutup pintu itu namun terlambat. Tegar menahannya dengan tangan kekarnya.


"Apa kamu sedang bersama dengan Citra?" tanya Tegar.


Arga tersenyum miring. "Buat apa kalian mencari Citra?"


"Arga! Jawab pertanyaan saya. Apa kamu tahu di mana Citra sekarang?" tegasnya.

__ADS_1


Arga hendak membuka mulutnya saat telinganya mendengar sebuah benda terjatuh.


"Citra!" Pekiknya seraya berlari masuk.


__ADS_2