
"Pasien mengalami kejang Bu," jawab seorang perawat yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
Seketika tubuh Bu Mirna lemas mendengar berita yang dibawa oleh perawat itu. Melihat itu Pak Bayu segera menangkap tubuh sang istri agar tak terjatuh.
"Tenang Ma. Kita berdoa untuk kesembuhan Citra," ucap Pak Bayu.
Air mata kembali menderas membasahi kedua pipi wanita cantik itu. Anne pun juga tampak terkejut dan lemas saat mendengar berita itu.
"Ini semua salah gue. Kalau gue nggak ninggalin Citra sendirian, dia nggak bakalan kecelakaan kayak gini," ucapnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyesali sesuatu yang sebenarnya bukanlah kesalahannya.
"Lo tenang An. Ini bukan salah lo. Gue tahu fakta yang sebenarnya," ucap Azwan menenangkan saudara kembarnya itu.
Anne menoleh. "Maksud lo?" tanyanya keheranan.
"Iya. Gue tahu fakta dibalik kecelakaan yang menimpa Citra," ucap Azwan.
Mata Azwan menerawang jauh. Pikirannya kembali saat dirinya mencari informasi tentang kecelakaan yang menimpa Citra pada penjaga sekolah.
"Ada motor yang mencurigakan waktu itu Mas," kata Pak Dayat memulai penjelasannya.
"Tapi kan kita nggak berani nuduh Mas," lanjutnya.
"Terus Pak, apa lagi yang Bapak tahu?" tanya Azwan.
"Waktu itu Mbak Citra, Mbak Anne, Mbak Maria lagi bercanda-canda di gerbang. Terus saya lihat Mbak Anne kembali masuk ke dalam. Katanya ada barangnya yang ketinggalan. Tinggal Mbak Maria sama Mbak Citra," jelasnya.
"Enggak lama Mbak Maria dijemput sama orang tuanya. Bahkan orang tua Mbak Maria menawari tumpangan pada Mbak Citra. Tapi Mbak Citra menolak," lanjutnya.
Kemudian Pak Dayat menceritakan saat Citra ingin menyeberang jalan. Waktu itu kata Pak Dayat, Citra bermaksud membeli bakso yang ada di seberang jalan. Karena dia sudah lapar katanya..
"Tiba-tiba bruak. Tubuh Mbak Citra terpental Mas. Orang-orang di sini sempat mau ngejar penabraknya. Tapi nggak kekejar Mas. Penabraknya udah kenceng lari ke sana." Pungkasnya sambil menunjuk ke arah selatan.
Azwan manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Dayat.
"Bapak sempat melihat plat nomor yang nabrak Citra nggak?" tanya Azwan.
"Waduh saya nggak lihat Mas. Tapi kayaknya ada yang sempat merekam kejadian itu deh Mas," jawab Pak Dayat.
"Siapa Pak?" kejar Azwan. Pemuda itu ingin tahu siapa dalang dibalik kecelakaan Citra.
Meluncurlah sebuah nama dari mulut Pak Dayat. Lelaki berumur itu juga sempat mempertemukan Azwan dengan si perekam. Azwan pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia meminta file video pada si perekam.
"Keluarga Citra Kusumawardhani," panggil seorang suster. Membuat Azwan kembali ke apa sadarnya.
"Saya mamanya pasien Sus," jawab Bu Mirna.
"Mari ikut saya ke ruangan dokter Bu. Ada yang ingin dokter katakan pada orang tua pasien," ucap Suster itu ramah.
Bu Mirna menganggukkan kepalanya. Kemudian tanpa banyak tanya lagi, Bu Mirna mengikuti langkah suster itu menuju ruang dokter.
"Em... Suster!" panggil Pak Bayu saat suster dan istrinya hampir berjalan menjauh.
"Iya Pak. Ada apa?" Tanya suster itu dengan senyuman.
"Em... boleh saya ikut? Saya juga ingin tahu bagaimana keadaan anak saya," ucap Pak Bayu.
__ADS_1
"Silahkan Pak. Karena dokter ingin berbicara dengan orang tua pasien," jawab Suster itu.
Pak Bayu mengulas senyum. Kemudian dia berbicara pada Anne dan Azwan.
"Kalian tunggu sini ya. Papa sama Mama mau ke ruangan dokter sebentar," ucap Pak Bayu pada kedua anaknya.
"Iya Pa," jawab Anne pendek.
Setelah mendengar jawaban Anne, Pak Bayu segera mengikuti langkah sang istri dan suster itu menuju ruang dokter.
Di ruangannya, Dokter muda itu telah menunggu. Kedua orang tua Citra dipersilahkannya duduk saat keduanya telah masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu.
"Jadi bagaimana keadaan anak kami Dok?" tanya Bu Mirna tak sabar.
Dokter muda itu menatap kedua orang di hadapannya itu secara bergantian. Kemudian Dokter itu tampak membuka sebuah amplop besar yang sejak tadi ada di atas mejanya. Dokter itu mengeluarkan sebuah foto hasil CT SCAN kepala Citra.
Dokter itu melihat hasil itu dan menghela napas panjang. Raut wajahnya tampak serius saat melihat hasil CT SCAN itu.
"Ada gumpalan darah di kepala Citra. Dan itu bisa sangat berbahaya untuk keselamatannya." Dokter itu memulai penjelasannya.
Bu Mirna dan Pak Bayu tampak terkejut saat mendengar penjelasan dari dokter itu.
"Gumpalan darah Dok?" Pak Bayu meyakinkan apa yang didengarnya.
"Betul Pak. Akibat benturan yang sangat keras, membuat kepala pasien terluka cukup parah," jelas Dokter itu lagi.
"Lalu solusinya apa Dok?" tanya Pak Bayu.
Dokter itu menghela napas panjang. "Jalan satu-satu adalah operasi," jawabnya.
Sudah dua hari ini Citra tergolek lemah di atas ranjang. Sudah dua hari ini pula dirinya tak juga membuka matanya. Pak Bayu dan Bu Mirna berharap sangat pada kesembuhan Citra. Mereka tak henti-hentinya berdoa pada Allah agar segera mengangkat penyakit Citra.
"Kalian pulang dulu ya," kata Bu Mirna pada Anne dan Azwan.
"Enggak lah Ma. Aku masih mau di sini jagain Citra," jawab Anne.
"Azwan juga nggak mau pulang Ma. Aku mau jagain Citra juga," sahut Azwan.
"Pulang dulu Nak. Kalian kan harus sekolah. Hari ini kan pembagian rapor kan?" ujar Bu Mirna.
Anne menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi Anne pengin nemenin Citra. Kan hari ini Citra mau operasi Ma," kata Anne. Dia berusaha mempertahankan pendapatnya.
"Azwan juga ah Ma. Azwan mau di sini aja. Mau nemenin Citra," timpal Azwan.
Bu Mirna menghela napas panjang. Wanita itu mengerti sekali kalau kedua anaknya begitu menyayangi Citra.
"Iya Mama ngerti. Kalau kamu nggak masuk, terus yang ngambilin rapornya Citra siapa? Masa iya wali kelas kamu disuruh ke sini nganterin rapor," ucap Bu Mirna.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, Azwan dan Anne mau juga berangkat ke sekolah. Mereka berangkat dengan setengah hati.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Azwan dan Anne tak saling bicara. Mereka berdua saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Makasih Pak Kosim," ucap Anne dan Azwan bersamaan saat mereka berdua sampai di sekolah.
Pak Kosim menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Setelah memastikan kedua anak majikannya masuk ke dalam gedung sekolah, pria paruh baya itu segera melajukan mobilnya menuju rumah sang majikan.
__ADS_1
"Anne!" panggil sebuah suara dari belakang.
Merasa ada yang memanggil, Anne menoleh ke belakang. Tampak Tian dengan langkah tergesa menghampiri Anne.
"Citra mana?" tanyanya saat sudah berdiri di samping gadis itu.
Azwan memasang wajah tak suka pada Tian. Pemuda itu tak suka saat ada cowok yang menaruh perhatian lebih pada Citra.
"Citra di rumah sakit. Dia..."
"Di rumah sakit? Kenapa?" potong Tian dengan cepat.
"Ada orang ngomong tuh dengerin dulu. Jangan asal nyaut aja," ketus Azwan.
"Sorry... sorry. Citra kenapa? Dia sakit apa?" Tian mengulangi pertanyaannya lagi dengan wajah cemas.
"Citra kecelakaan dua hari yang lalu. Sekarang dia mau operasi karena ada darah yang menggumpal di kepalanya," jelas Anne. Matanya berkaca-kaca saat dirinya mengatakan itu pada Tian.
Tian terkejut mendengar berita yang dibawa oleh Anne. Pantas saja dua hari ini dia tak bisa menghubungi Citra. Dia pikir Citra marah padanya karena kejadian di depan ruang guru itu. Ternyata dia sedang berjuang antara hidup dan mati.
Sementara itu di rumah sakit, Citra segera dibawa keluar dari ruang ICU menuju ruang operasi. Saat Citra keluar dari ruang ICU, Bu Mirna mendekat ke arah brankar yang di dorong oleh dua orang perawat.
"Citra, Sayang. Kamu kuat ya Nak. Mama dan Papa di sini, nemenin Citra. Doain Citra supaya cepat sembuh," ucap Bu Mirna. Tangannya menggenggam erat tangan Citra. Matanya menatap wajah Citra yang pucat dengan mata tertutup rapat.
Air mata kembali menetes dari kedua mata wanita cantik itu. Melihat itu Pak Bayu segera menarik tubuh sang istri. Lelaki itu lantas memeluk sang istri dengan eratnya. Bu Mirna semakin menangis dalam pelukan sang suami.
Kedua perawat itu segera membawa Citra ke ruang operasi. Bu Mirna dan Pak Bayu mengikuti langkah kedua perawat itu dari belakang.
"Bapak dan Ibu mohon tunggu di luar ya." Ucap salah seorang perawat sembari menutup pintu di ruang operasi.
"Iya Sus," jawab Pak Bayu. Kemudian lelaki itu membawa istrinya untuk duduk di bangku yang ada di ruang tunggu.
Bu Mirna tak henti-hentinya berdoa. Wanita itu berharap operasi sang anak berhasil dan sang anak bisa kembali pulih seperti sedia kala.
Pak Bayu pun melakukan hal yang sama. Lelaki itu juga tak berhenti berdoa untuk kesembuhan sang anak.
Tak terasa dua jam sudah operasi berjalan. Lampu di depan kamar operasi tiba-tiba mati. Menandakan operasi telah selesai di laksanakan. Seorang dokter tampak keluar dari dalam kamar operasi.
Pak Bayu dan Bu Mirna segera menghampiri dokter itu dan mulai bertanya.
"Gimana Dok? Operasinya berhasil kan?" tanya Bu Mirna.
Dokter itu menghela napas panjang. Dokter itu tampak berat untuk menyampaikan sesuatu terkait operasi yang dijalani oleh Citra.
"Gimana Dok? Operasinya berhasil kan? Anak saya selamat kan Dok?" Bu Mirna kembali mengulangi pertanyaannya saat melihat sang dokter tak juga membuka mulutnya.
Dokter itu menghela napas sekali lagi. Kemudian dokter itu berkata, "maaf Bu, Pak. Kami sudah mengusahakan yang terbaik. Tapi Tuhan berkehendak lain."
"Maksud Dokter apa? Anak kami selamat kan Dok?" Bu Mirna semakin emosional saat mendengar perkataan sang dokter.
"Maaf Bu. Kami tidak bisa berbuat banyak. Tuhan lebih sayang pada anak Bapak dan Ibu."
Seketika tubuh Bu Mirna lemas seolah tak bertulang.
"CITRA....."
__ADS_1