Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 53


__ADS_3

Pak Bayu menatap Citra dengan lekat. "Kalau Tian nggak seperti yang kamu pikirkan selama ini bagaimana?"


Citra mengerutkan keningnya. "Maksud Papa? Citra... Citra nggak ngerti deh?"


Pak Bayu mengulas senyum. Setalah itu Pak Bayu memulai ceritanya. Lelaki itu menceritakan semua yang dikatakan oleh Tian tadi. Tak ada yang dia tutup-tutupi lagi. Lelaki itu berharap setelah mendengar cerita itu, Citra bisa membuka mata dan hatinya untuk melihat kedalam hati Tian.


"Papa nggak mau ikut campur terlalu dalam. Papa cuman bisa kasih kamu saran aja. Semua keputusan tetap ada sama kamu," tukas Pak Bayu.


Citra terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh papanya itu. Dia seolah sedang memikirkan semuanya. Ternyata dia selama ini telah salah menilai Tian. Dia selama ini ternyata telah salah paham pada pemuda itu.


"Citra," panggil Pak Bayu. Tangannya membelai lembur rambut Citra.


"Papa tahu mungkin kamu masih belum bisa melupakan rasa sakit hati kamu. Mungkin juga kamu masih merasa enggan untuk membuka hati kamu untuk orang lain," kata Pak Bayu.


"Tapi Papa minta, jangan sampai rasa itu menutup hati dan mata kamu. Jangan sampai perasaan itu membuat kamu antipati pada lawan jenis," ujar Pak Bayu.


Citra diam. Dia mendengarkan semua perkataan ayahnya itu dengan perasaan campur aduk. Otaknya mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh ayahnya.


"Tian itu pemuda yang baik. Dia sama sekali nggak berniat untuk mempermainkan kamu. Dia tulus sayang sama kamu," lanjut Pak Bayu.


Citra menatap sang ayah dengan pandangan tak percaya. Mana mungkin ada seseorang yang tulus padanya? Mana mungkin ada seorang pangeran yang menyayangi seorang buruk rupa seperti dirinya.


Setelah mendengarkan cerita dari ayahnya, Citra menjadi merasa bersalah pada Tian. Gadis itu merasa dirinya terlalu jahat pada pemuda itu.


"Kamu pikirkan lagi semuanya. Papa harap kamu bisa mengambil keputusan dengan tepat. Sekarang istirahat ya. Besok kan harus kontrol kan?" ujar Pak Bayu.


Citra tersenyum. Kemudian dia mulai merebahkan badannya di atas pembaringan. Pak Bayu kemudian melangkah meninggalkan kamar Citra.


Sepeninggal sang ayah, Citra kembali merenungkan semua perkataan ayahnya. Dia kembali merenungkan apa yang ayahnya katakan tadi.


"Apa benar dia setulus itu sama aku? Apa benar dia mencintaiku tanpa syarat?" ucapnya dalam hati.


Citra mengambil ponselnya yang ia letakkan di lemari kecil di sebelah tempat tidurnya. Dia kemudian mencari kontak milik Tian dan menekannya. Awalnya dia ragu, tapi dia meyakinkan dirinya jika inilah yang harus ia lakukan.


"Assalamu'alaikum," ucap Citra setelah panggilannya diterima oleh Tian.

__ADS_1


Mendengar suara seseorang yang amat ia rindukan, membuat wajah Tian berseri-seri. Hatinya berbunga-bunga saat mendengar suara sang pujaan hati kembali.


"Wa'alaikumusalam," jawab Tian.


Hening. Tak ada yang bersuara setelah Tian menjawab salam. Keduanya diselimuti kecanggungan.


"Em... maaf ganggu waktu istirahat Bapak," ucap Citra.


Tian kembali mengulas senyum. "Enggak apa-apa Citra. Kamu nggak ganggu kok," jawabnya.


Hening kembali menyelimuti keduanya. Hanya suara helaan napas yang sesekali terdengar.


"Ada apa Citra?" Tian memberanikan diri bertanya setelah beberapa saat hanya terdiam.


"Em... saya... saya ingin bicara sama Bapak," jawab Citra dengan suara gugup.


"Bicara soal apa?" Tian bertanya lagi dengan ekspresi heran. Jantungnya berdetak cepat kala Citra mengatakan hal itu.


"Bicara soal... soal... soal kita," lirihnya.


...****************...


Pagi ini Arga dan keluarganya tampak sedang menghias rumah dengan berbagai hiasan dan bunga. Mereka semua tampak sangat bersemangat menyambut anggota keluarga baru.


Ya! Besok adalah hari pernikahan Nanda dan juga Naima. Arga dan keluarganya pantas sibuk karena acara resepsinya diadakan di rumah. Nanda tak ingin acaranya dilaksanakan di gedung atau hotel. Karena dia dan Naima ingin suasana yang nyaman dan juga bersahaja.


"Anne udah kamu kasih tahu kan Ga?" tanya Bu Salman pada anaknya.


"Udah Bun. Dia janji mau datang. Besok juga kan Arga yang jemput dia," jawab Arga.


Bu Salman manggut-manggut mendengar jawaban Arga.


"Em... kalau Citra. Dia... bisa datang nggak besok?" Kali ini Pak Salman yang bertanya.


Arga menatap sang ayah. Sedetik kemudian dia mengangkat bahunya tanda tidak tahu.

__ADS_1


"Dia kan baru aja sembuh Yah. Jadi Arga nggak tahu dia bisa datang atau enggak," jelas Arga.


Ada raut kekecewaan saat Arga mengatakan itu. Pak Salman dan istrinya jelas mengharapkan Citra datang ke acara penting Nanda. Karena mereka sudah menganggap Citra seperti anak kandung mereka sendiri.


"Ya semoga aja Citra cepat sembuh Yah. Biar dia bisa datang ke acara Nanda besok," sahut Bu Salman.


Pak Salman tersenyum sambil menatap ke arah sang istri.


Di tempat yang berbeda, Bu Aminah dan Pak Hamzah tampak sedang bersiap-siap untuk pergi. Sebuah koper besar dan sebuah tas jinjing besar tampak mereka keluarkan dari dalam rumah.


"Sudah semuanya Pak?" tanya Bu Aminah.


"Sudah Bu. Semuanya sudah diangkut ke mobil. Baju-baju dan perabot yang lain juga sudah dimasukkan ke dalam tas," jawab Pak Hamzah.


Bu Aminah tampak menghela napas panjang. Wanita itu terlihat berat saat akan meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu.


"Apa nggak sebaiknya kita pamit sama Citra Pak?" tanya Bu Aminah.


Pak Hamzah menghela napas berat saat mendengar pertanyaan sang istri.


"Sebaiknya kita pamit pada Citra Pak. Ya walaupun Ibu nggak yakin Citra mau menerima kita. Tapi setidaknya memberitahu dia jika kita pindah," ujar Bu Aminah.


Pak Hamzah menghela napas panjang sekali lagi. Benar apa yang dikatakan oleh sang istri. Mereka seharusnya berpamitan pada Citra. Biar bagaimanapun juga, Citra adalah keponakan Bu Aminah.


"Ya sudah kita pamit sama Citra dulu. Sekarang kita ke rumahnya Bayu dan Mirna. Tadi pagi Bayu ngasih tahu kalau dia sedang ada di rumah," ucap Pak Hamzah akhirnya.


Akhirnya kedua orang tua itu berangkat menuju tempat tinggal Citra dan keluarganya. Selama perjalanan, keduanya tak banyak bicara. Hanya helaan napas yang terdengar dari keduanya.


Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumah keluarga Citra. Pak Hamzah dan Bu Aminah segera turun dari mobil dan berjalan menuju pos satpam.


Pak Hamzah tampak berbincang sebentar dengan seorang satpam di sana. Setelah mendapatkan izin, kedua orang tua itu segera masuk ke dalam rumah.


"Tunggu sebentar ya Pak, Bu. Saya panggilkan Bapak Bayu dulu," ucapnya.


Pak Hamzah dan Bu Aminah tersenyum canggung. Mereka sekarang tengah duduk di ruang tamu rumah mewah itu.

__ADS_1


"Bapak. Ibu!"


__ADS_2