
Citra masuk ke dalam dan berjalan menuju dapur. Dia berniat untuk mengambil minuman. Sedangkan Tian, menunggunya di luar. Setelah mengambil dua botol minuman, Citra bergegas untuk kembali ke depan. Ke tempat dimana Tian sedang menunggunya.
"Ini aku bawain...."
Kalimatnya terputus saat telinganya mendengar pembicaraan Tian dengan seseorang di telepon. Pembicaraan yang terdengar intim dan mesra. Tubuh Citra membeku di tempat saat Tian mengatakan masih mencintai masa lalunya.
"Mas Tian!" panggil Citra. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan saking terkejutnya.
Mendengar suara Citra, Tian lantas menoleh. Wajahnya memerah. Dia lantas menghampiri Citra dan mencoba menyentuh tangannya.
"Kamu lagi ngobrol sama siapa?" tanya Citra dengan suara bergetar.
"Tadi... tadi aku ngobrol sama... sama... sama mantan aku," jawabnya.
Citra mengangguk paham. "Oh mantan ya. Masih sering teleponan?" tanyanya lagi.
Tian terdiam. Dia tak lantas menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan oleh Citra.
"Enggak apa-apa kalau masih berhubungan baik dengan mantan. Siapa tahu kan bisa balikan lagi. Merajut kisah yang belum selesai," ucap Citra.
Tian menatap Citra dengan heran. Dia tak mengerti maksud perkataan Citra barusan.
"Maksud kamu apa?" tanya Tian. Dadanya bergemuruh hebat saat Citra mengatakan itu.
Citra mendesah pelan. Dia menatap wajah Tian sekilas.
"Aku tahu kok. Aku juga sadar diri. Enggak mungkin kan ada orang yang tulus sayang sama aku kecuali keluarga aku sendiri," ucap Citra.
"Harusnya dari awal aku sadar. Enggak mungkin kamu yang seorang guru idola para siswa siswi di sekolah tiba-tiba jatuh cinta pada itik buruk rupa kayak aku. Tiba-tiba jadi bucin banget sama aku," lanjutnya.
"Selesaikan cerita masa lalu kamu. Selesaikan kisah kalian. Sebelum itu selesai, jangan pernah temui aku lagi. Terimakasih untuk semuanya. Aku nggak akan lupain ini semua. Terimakasih karena udah pernah mengisi hari-hari ku dengan canda tawa dan cinta," pungkasnya.
"Cit, kamu salah paham. Kisah aku sama mantan aku udah lama selesai. Aku sama dia enggak...."
Citra mengangkat tangannya. Memberi isyarat agar Tian diam.
"Cukup! Aku nggak mau dengar apa-apa lagi dari kamu. Maaf kalau selama ini aku cuman jadi penghalang buat cinta kalian," ucap Citra.
"Citra kamu salah paham. Please dengarkan penjelasan aku. Aku sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Cuman kamu yang ada di hati aku sekarang," jawab Tian.
"Tolong percaya sama aku. Aku nggak ada niatan untuk kembali merajut kisah dengan Marta, mantan aku!" lanjutnya.
"Mungkin aku bisa percaya sama kamu. Tapi maaf aku nggak bisa bersama dengan kamu lagi. Aku nggak mau merasakan luka yang semakin dalam di sini." Tunjuknya ke arah dadanya.
"Sekarang lebih baik, kita jalan sendiri-sendiri. Kita jalani kehidupan kita masing-masing. Anggap aja kita sedang introspeksi diri. Anggap aja kita sedang berpikir kembali untuk terus melanjutkan hubungan ini," ucap Citra.
"Dan ini! Aku kembalikan cincin ini. Aku nggak mau semakin terluka saat melihat cincin itu masih ada sama aku. Jika suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk berjodoh. Cincin itu akan menuntun kamu kembali sama aku." Citra mengembalikan cincin pertunangannya dengan Tian.
Tian menolak. Tapi Citra terus memaksanya. Dia tak ingin semakin terluka jika melihat cincin itu. Setelah berkata demikian, Citra segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Hatinya hancur. Cintanya terbakar hangus oleh pengkhianatan.
"Kenapa Allah timpakan ini semua sama aku? Kenapa Allah nggak izinin aku bahagia bersama orang yang aku cintai? Kenapa?" pekiknya. Air matanya menetes kian deras. Kenangan bersama Tian seolah diputar kembali dalam ingatannya.
...****************...
__ADS_1
Pagi ini matahari tak menampakkan sinarnya. Dia bersembunyi di balik awan hitam yang bergelayut di langit. Tetes demi tetes air hujan terdengar turun dan menghantam genting serta jalanan.
Citra bangkit dari tidurnya. Kepalanya terasa berat. Matanya juga terasa bengkak dan perih. Citra terduduk di atas lantai. Ternyata sejak semalam dirinya tertidur di lantai kamarnya.
"Kenapa semua ini terjadi sama aku? Kenapa aku harus mengalami ini," lirihnya.
Air matanya kembali menetes saat teringat kenangan yang pernah ia lalui bersama dengan Tian. Air matanya kembali menderas saat ia teringat kembali kejadian tadi malam.
Bunyi ketukan pintu membuat Citra bangkit dari duduknya. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dia tak ingin ada orang lain yang melihat air matanya.
"Iya Ma." Citra menjawab panggilan mamanya sembari membuka pintu kamarnya.
"Iya Ma. Ada apa?" tanyanya.
Bu Mirna menatap Citra dengan heran. Dia merasa ada yang aneh dengan anak gadisnya itu.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Bu Mirna.
Citra mengerutkan keningnya. "Citra baik-baik aja kok Ma. Citra nggak kenapa-kenapa kok," jawab Citra meyakinkan.
Bu Mirna tampak tak mempercayai ucapan Citra. Wanita itu terus menatap wajah sang anak lekat-lekat. Seolah ingin memastikan kebenaran ucapan anak gadisnya itu.
"Itu mata kamu kenapa bengkak gitu?" tanya Bu Mirna.
"Oh ini... ini... ini karena Citra nonton drakor semalaman. Jadi kurang tidur dan jadinya mata Citra bengkak deh," jawab Citra.
"Beneran karena nonton drakor? Bukan karena kamu menangis?" Bu Mirna bertanya sambil menatap mata sang anak lekat-lekat.
Melihat tatapan mamanya, Citra segera menundukkan kepalanya. Menyembunyikan luka yang tiba-tiba terasa perih.
Citra melihat ke arah jari-jari tangannya. "Itu Ma. Semalam jari Citra gatal. Jadi Citra lepas dulu cincinnya," jawab Citra berbohong.
Bu Mirna menghela napas panjang. Wanita itu tampaknya mengetahui sesuatu tapi dirinya enggan untuk mengatakannya pada Citra.
"Ya sudah. Kamu cuci muka dulu gih. Terus sarapan," ucap Bu Mirna.
Citra menganggukkan kepalanya. Kemudian dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Nanti saja lah aku bicara dengan dia." Gumamnya sambil menatap sebuah cincin di tangannya.
Bu Mirna melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Di sana anak-anak dan suaminya sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
"Citra mana Ma?" tanya Pak Bayu.
"Sebentar lagi dia turun. Lagi cuci muka dia," jawab Bu Mirna.
Tak berapa lama, Citra tampak turun dari lantai atas. Dia lantas berjalan menuju ruang makan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Citra begitu dia tiba di ruang makan.
"Selamat pagi Sayang," balas Pak Bayu.
Anne menatap saudarinya itu dengan pandangan curiga. Dia merasa ada yang aneh dengan Citra.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa Cit?" tanya Anne setengah berbisik.
"Enggak apa-apa kok," jawab Citra.
Anne menatap lekat-lekat wajah saudarinya itu. Dia ingin memastikan apa yang dikatakan Citra adalah benar.
"Mata kamu kenapa bengkak?" tanya Anne.
"Oh ini. Semalam aku nonton drakor. Baru subuh tadi aku tidur. Jadi bengkak deh mata aku," jawab Citra lagi-lagi berbohong.
Anne manggut-manggut mendengar jawaban Citra. Walaupun tak yakin dengan jawaban Citra, Anne tak bertanya lagi. Dia memilih untuk menikmati sarapannya pagi ini.
"Ma, Pa! Citra boleh minta izin nggak?" ujar Citra.
"Mau minta izin ke mana Sayang?" tanya Bu Mirna.
Citra diam sejenak. Kemudian dia menjawab, "Citra mau minta izin untuk potong rambut. Udah lama Citra nggak potong rambut."
Pak Bayu dan Bu Mirna saling bertukar pandang. Mereka merasa heran dengan permintaan sang anak gadis. Biasanya Citra akan menolak jika ada yang akan memotong rambutnya. Tapi sekarang....
"Citra pengin nyobain model rambut pendek. Biar lebih fresh aja," lanjutnya.
Bu Mirna tersenyum. "Boleh dong Sayang. Memangnya kamu mau potong rambut di mana? Di salon langganan Mama aja mau? Nanti biar Mama dan Anne yang anterin," ucap Bu Mirna.
"Makasih Ma. Papa gimana? Boleh nggak Citra potong rambut?" tanya Citra pada ayahnya.
Pak Bayu menghela napas panjang. "Jujur aja Papa lebih senang lihat kamu berambut panjang kayak gini. Tapi kalau kamu pengin nyoba model rambut baru, Papa nggak bisa nolak," jawab Pak Bayu.
Citra mengulas senyum. Dia sangat senang karena kedua orang tuanya mengizinkan dirinya memotong rambut panjangnya.
"Ya udah. Siap-siap gih. Kita berangkat sekarang," kata Bu Mirna.
Citra dan Anne mengangguk bersamaan. Mereka berdua lantas bangkit dari tempat duduknya dan segera berlalu dari ruang makan.
Satu jam kemudian, Bu Mirna, Citra, dan Anne telah tiba di salon langganan Bu Mirna. Wanita itu segera masuk ke dalam dan berbicara pada resepsionis salon.
"Jeng Mirna, apa kabar? Udah lama nggak main ke sini," ujar wanita pemilik salon itu.
"Alhamdulillah baik, Jeng Dewi. Iya nih lagi sibuk ngurus anak-anak," jawab Bu Mirna.
Wanita yang dipanggil Jeng Dewi itu tersenyum. Kemudian matanya beralih pada kedua gadis yang sejak tadi hanya diam di samping Bu Mirna.
"Oh iya mau perawatan apa nih Jeng? Kebetulan kita sedang ada promo," ujar Jeng Dewi.
Kemudian wanita cantik itu memberitahukan promo yang sedang berlangsung saat ini.
"Kebetulan, Citra pengin potong rambut," ucap Bu Mirna.
"Mau dipotong model apa?" tanya Jeng Dewi.
"Di smoothing aja dulu Tante. Terus habis itu dipotong sebahu. Terus dikasih poni," jelas Anne mewakili Citra.
Jeng Dewi paham permintaan Anne. Kemudian wanita itu memanggil karyawannya untuk mengerjakan apa yang diminta oleh Anne.
__ADS_1
"Mau merubah penampilan seribu kali pun, elo nggak bakalan bisa menarik perhatian orang lain," sindir seseorang.