
Tak terasa sebulan sudah Citra pergi meninggalkan rumah Bu Aminah dan Pak Hamzah. Sebulan sudah dia tinggal bersama dengan Pak Bayu dan Bu Mirna. Sebulan juga mereka tak saling komunikasi.
"Bagaimana kabar Citra ya Pak? Ibu kangen sama dia," ucap Bu Aminah.
Pak Hamzah tampak menghela napas panjang. Lelaki itu juga sama kangennya dengan sang istri. Mereka kangen pada keponakan yang sudah dianggapnya anak sendiri oleh mereka.
"Kita doakan saja semoga Citra baik-baik saja Bu. Dia anak yang baik. Pasti dia bisa diterima di lingkungan barinya." Pak Hamzah mencoba menghiburnya.
"Iya Pak. Dia memang anak yang baik. Lemah lembut seperti almarhumah ibunya. Dia tak pernah membentak orang lain. Tak pernah juga membalas perlakuan buruk orang-orang padanya," imbuh Bu Aminah.
Kedua orang tua itu ingat betul bagaimana Citra kecil tumbuh tanpa sosok ibu kandungnya. Sosok Citra kecil yang tumbuh di antara orang-orang yang tak menyukai kehadirannya. Tapi Citra kecil mampu bertahan dan tak pernah mengeluh walaupun dirinya dihina oleh orang lain.
"Kapan-kapan kita ke rumahnya Bayu. Kita jenguk Citra!" ajak Pak Hamzah.
Mendengar itu, mata Bu Aminah berbinar. Senyum terkembang di wajahnya. Wanita itu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan usul sang suami.
"Halah! Ngapain sih masih mikirin Citra? Dia aja nggak mikirin kita kok?" sahut Wiwit yang mendengar percakapan kedua orang tua angkatnya.
Pak Hamzah dan Bu Aminah menoleh dan menatap Wiwit dengan perasaan campur aduk. Antara marah, kesal, dan kecewa.
"Kalau dia mikirin kita, dia pasti udah hubungin kalian kan? Lah ini apa? Dia sama sekali nggak hubungin kalian kan," lanjutnya.
Pak Hamzah dan Bu Aminah memilih diam dan tak merespon ucapan Wiwit yang bernada provokatif. Kedua orang tua itu memilih kembali fokus pada pekerjaan keduanya.
"Sudah Pak?" tanya Bu Aminah.
"Sudah Bu. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Pak Hamzah pada sang istri.
Mereka berdua berjalan meninggalkan Wiwit yang masih saja mengomel tak jelas. Mereka memilih segera pergi dari sana dan meninggalkan Wiwit.
Sementara itu, Citra tampak sedang menikmati sarapannya bersama dengan keluarganya. Citra menatap makanannya dengan perasaan sedih. Dia teringat akan kedua orang tua angkatnya.
"Citra kenapa Sayang?" Tanya Bu Mirna saat kedua matanya melihat Citra yang tampak bersedih.
"Eh eng-enggak apa-apa kok Ma. Citra cuman... Citra cuman lagi...."
"Kamu sakit?" potong Azwan cepat.
Citra menggeleng dan mencoba tersenyum. "Aku baik-baik aja kok. Aku nggak sakit," jawab Citra.
"Kamu kepikiran sesuatu?" Kali ini Anne yang bertanya. Dia merasa khawatir karena saudaranya itu tampak bersedih.
Citra menatap Anne. Dia menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Anne.
"Aku cuman lagi kangen aja," jawab Citra.
"Kangen sama siapa?" Anne bertanya sambil tersenyum simpul. Dalam bayangannya, Citra sedang kangen pada Tian.
Lagi-lagi Citra menghela napas panjang. "Aku lagi kangen sama... sama Bapak dan Ibu," lirih Citra.
Seketika senyum Anne luntur saat mendengar suara lirih Citra. Tak hanya Anne yang langsung terdiam seketika. Pak Bayu, Bu Mirna, dan Azwan kompak terdiam. Mereka tak menyangka jika itu yang akan keluar dari mulut Citra.
"Kamu mau ketemu sama Pak Hamzah dan Bu Aminah?" tanya Bu Mirna. Tangannya mengisap lengan Citra dengan lembut.
Citra menganggukkan kepalanya. "Iya Ma. Citra pengin banget ketemu sama mereka," jawabnya.
__ADS_1
Bu Mirna tersenyum. "Kamu udah kangen banget ya sama mereka?" tanyanya lagi.
Citra lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Dia memang sudah sangat kangen pada mereka. Tapi dia tak berani mengatakannya pada keluarganya. Dia takut mereka akan marah jika Citra mengatakan itu.
"Kamu mau ketemu sama mereka?" tanya Bu Mirna lagi.
"Emangnya boleh Ma?" Citra tampak antusias saat Bu Mirna menanyakan itu padanya.
"Tentu saja boleh Sayang. Nanti sepulang sekolah, kita mampir ke sana ya," kata Bu Mirna.
Seulas senyum terbit di wajah Citra. Hatinya terasa bahagia mendengar dirinya boleh menjenguk Bu Aminah dan Pak Hamzah.
"Makasih Mama," ucap Citra.
"Oh jadi yang dikasih ucapan terimakasih Mama doang nih? Kita-kita nggak dikasih ucapan terimakasih?" ujar Pak Bayu pura-pura marah.
Citra tersenyum. "Makasih Papa. Makasih semuanya. Makasih banget udah izinin Citra menjenguk Bapak sama Ibu," ucap Citra.
"Sama-sama Nak. Kita bahagia kalau lihat kamu bahagia. Karena bagi kami kebahagiaan anak-anak adalah yang utama," sahut Bu Mirna.
Citra tersenyum semakin lebar. Hatinya lega karena keluarganya mengizinkannya untuk menjenguk orang tua angkatnya.
*****
Tak terasa hari sudah beranjak siang. Tian dan beberapa guru tampak baru saja keluar dari ruang guru. Para guru sedang melaksanakan rapat sebelum pembagian rapor dan libur sekolah.
Tian menghela napas lega saat keluar dari ruang rapat.
"Lega banget nampak?" tegur salah seorang rekannya.
"Bisa makan siang apa bisa jalan sama doi?" kata rekannya itu.
"Memangnya Pak Tian sudah punya pacar?" tanya seorang guru muda.
Tian hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari rekannya itu.
"Udah deh Pak Tian. Sikat ajalah. Kan sama-sama jomblo," ucap rekannya tadi.
"Sikat! Sikat! Dikata gigi kali ya main sikat aja," sahut Tian.
Guru itu tertawa mendengar sahutan Tian. Kemudian dia menambahkan, "kan sama-sama jomblo Pak. Ngapain sih lama-lama jomblo. Mending sikat aja yang ada di depan. Bu Luna juga jomblo kan? Cantik lagi."
Guru muda yang dipanggil Luna itu hanya tersenyum malu-malu. Wajahnya merona saat ada yang memujinya cantik.
Tian hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Dia tak menanggapi perkataan rekannya itu.
"Saya permisi dulu ya. Udah lapar banget ini," ucap Tian.
Kedua rekannya itu mengangguk. Tapi baru beberapa langkah, Luna memanggilnya.
"Iya Bu Luna ada apa?" tanya Tian.
"Em... saya boleh ikut makan siang bareng sama Pak Tian?" Luna memberanikan diri untuk bertanya pada Tian. Karena sejujurnya dia menaruh hati pada pemuda itu.
Tian terdiam. Dia menatap gadis berambut panjang dengan kacamata menghiasi matanya.
__ADS_1
"Gimana Pak? Boleh saya ikut makan siang bersama dengan Bapak?"
Tian masih terdiam. Dia tak segera menjawab pertanyaan tekan kerjanya itu. Tepat saat itu ekor matanya melihat bayangan Citra. Gadis itu menatap Tian dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Citra!" gumamnya lirih.
"Hah! Nama saya Luna Pak bukan Citra!" ujar Luna dengan agak kesal.
Tian menoleh ke arah Luna. "Maaf Bu Luna. Saya nggak bisa makan siang bareng sama Bu Luna. Karena saya ada janji dengan orang lain. Permisi," ucap Tian.
Tanpa menunggu jawaban Luna, Tian segera berlalu dari hadapan Luna. Dia berjalan menuju arah lain. Pemuda itu tampaknya akan ke perpustakaan.
Luna berdecak kesal. Gagal sudah rencananya mendekati Tian. Padahal dia mencari-cari waktu agar bisa berduaan dengan Tian. Tapi nyatanya? Tian tak semudah itu ia dapatkan. Kemudian gadis manis itu berlalu pergi dari sana.
Tian terus berjalan dan mencari Citra. Pemuda itu takut jika Citra salah paham dengannya.
"Anne!" panggil Tian saat dirinya berpapasan dengan Anne.
"Iya Pak. Ada apa?" tanya Anne.
"Kamu lihat Citra nggak? Saya cari-cari kok nggak ada?" tanya Tian.
Anne menggeleng. "Maaf Pak. Saya nggak tahu. Soalnya saya dari tadi nggak sama dia," jawab Anne.
"Oh gitu ya. Makasih ya Anne," ucap Tian.
"Iya Pak sama-sama," jawab Anne.
Tian kemudian kembali melanjutkan langkahnya mencari di mana Citra. Tapi baru beberapa langkah, Anne kembali memanggilnya.
"Coba Bapak cari di perpustakaan. Biasanya dia ada di sana Pak," ucap Anne.
Tian mengacungkan dua jempolnya. Kemudian dia berjalan menuju perpustakaan. Tempat di mana biasanya Citra berada.
Anne tersenyum melihat tingkah gurunya itu. Dia tak menyangka orang secuek Pak Tian bisa sebucin itu pada perempuan.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Arga yang tiba-tiba berdiri di samping Anne.
Anne menoleh dan tersenyum. "Tuh si pangeran bucin lagi nyariin putri solo," jawab Anne.
Kedua alis Arga terpaut sempurna. "Pangeran bucin? Putri solo? Siapa tuh?" tanyanya.
"Siapa lagi kalau bukan Pak Tian sama Citra Yang," jawab Anne.
Arga menyunggingkan senyumnya. "Bisa aja kaku ini." Arga mencubit gemas hidung kekasihnya itu.
"Kalau mereka pasangan pangeran bucin dan putri solo. Berarti aku pangeran kalem dan putri galak dong?" ujar Arga.
Anne mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian dia melotot tajam ke arah sang kekasih.
"Enak aja. Aku nggak galak ya. Aku cuman bawel aja." Anne berkata sambil mengulas senyum malu-malu.
Arga mengacak rambut kekasihnya itu. Kemudian keduanya tertawa bersama.
Sementara itu, Tian masih terus berusaha mencari keberadaan Citra. Dia ingin segera bertemu dengan Citra dan menjelaskan semuanya. Begitu sampai di perpustakaan, pemuda itu langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ternyata di sini?"