
Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Tian. Pemuda itu sedikit terlonjak kaget saat mendengar ponselnya berdering.
Tian mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Tian membaca nama yang tertera di layar ponselnya itu. Seketika senyum bahagia terukir kala melihat siapa yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum," sapa sebuah suara.
Hati Tian berbunga-bunga kala mendengar lembut suara itu. Jantungnya ikut berdetak lebih cepat dari biasanya kala mendengar suara yang sudah dia hari ini tak ia dengarkan.
"Wa-wa'alaikumusalam Citra," jawab Tian dengan suara gugup.
Citra mengulas senyum saat mendengar jawaban dari Tian. Kemudian dia berkata, "aku kangen sama kamu Mas."
Tian terkejut saat mendengar Citra bilang kangen. Tubuhnya seolah melayang ke angkasa. Hatinya dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Sedangkan jantungnya berdetak puluhan kali lebih cepat dari biasanya.
"Aku juga kangen sama kamu Citra," ucapnya.
"Hah! Apa Pak? Pak Tian bilang apa?" tanya Citra.
"Aku juga kangen sama kamu Citra," ulangnya.
Citra mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan perkataan Tian.
"Kangen? Siapa yang kangen sama Bapak?" ujarnya.
Senyum Tian surut seketika saat Citra mengatakan itu. Dia kemudian menarik ponselnya dari telinganya. Dia baca sekali lagi identitas yang tertera di layar ponselnya.
"Eh itu... anu... saya tadi... cuman...."
Citra semakin mengerutkan keningnya. Dia tak habis pikir dengan tingkah gurunya itu.
"Saya cuman mau bilang makasih. Karena udah mau jenguk saya di rumah sakit. Dan makasih juga karena udah mau repot-repot mengambil rapor saya," ucap Citra.
"Oh... Iya sama-sama. Saya senang bisa membantu kamu," ucapnya akhirnya.
Hening kembali menyelimuti keduanya. Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya. Hanya sesekali terdengar helaan napas dari keduanya.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Tian setelah beberapa saat terdiam.
"Alhamdulillah udah mendingan. Sekarang udah bisa jalan sendiri," jawab Citra.
Tian menarik napas lega saat mendengar penuturan Citra.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu. Kapan boleh pulang ke rumah?" tanya Tian.
"Belum tahu. Masih nunggu hasil pemeriksaan besok. Kalau semuanya udah bagus, kemungkinan lusa sudah boleh pulang," jawab Citra.
Tian manggut-manggut mendengar jawaban Citra. Dalam hati dia berdoa agar Citra segera pulih dari sakitnya.
"Em... saya tutup dulu teleponnya Pak. Saya mau istirahat," kata Citra.
"Iya. Istirahat yang cukup ya. Biar bisa segera pulang ke rumah," sahut Tian.
Citra tersenyum. "Iya Pak. Sekali lagi makasih ya Pak. Sudah mau jenguk dan doain saya."
"Sama-sama Citra."
"Semoga Bapak dan Bu Luna bahagia," lirih Citra.
Tian tercekat saat mendengar suara lirih Citra. Walaupun lirih, tapi Tian masih bisa mendengarnya.
"Kamu salah paham. Saya sama Bu Luna nggak...."
"Tut... tut... tut!" telepon terputus.
"Halo Citra! Halo!"
Tian mengusap wajahnya dengan kasar. Ada setitik rasa bersalah yang bersarang dalam dirinya. Kenapa tak ia jelaskan saja tentang hubungannya dengan Luna? Kenapa tak ia jelaskan saja siapa yang merajai hatinya saat ini.
"Aaarrrggghhh!"
Tian berteriak marah. Dadanya terasa sesak mendapati kenyataan di depan matanya. Kini dia merasa takut jika Citra akan benar-benar menjauh darinya. Dia takut jika Citra akan berpaling darinya. Dia tak sanggup jika harus berjauhan dengan gadis itu.
...****************...
Tian melewati malam dengan segala gundah dalam dadanya. Semalaman dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya tertuju pada ucapan terakhir Citra sebelum menutup teleponnya.
"Citra pasti salah paham sama aku. Aku harus meluruskan apa yang sebenarnya terjadi sama Citra. Aku nggak mau dia menyimpulkan sesuatu yang salah," niatnya.
Menjelang subuh, Tian baru bisa memejamkan matanya. Tapi dia tak berniat untuk tidur kembali. Pemuda itu merasa bersalah pada Citra. Pemuda itu merasa harus ada yang ia jelaskan pada gadisnya.
"Mau ke mana Yan? Kok udah rapi?" But Hamidah bertanya sembari meneliti tubuh sang anak dari atas hingga bawah.
"Mau kencan kali Bu," sahut seorang perempuan dengan gamis lengkap dengan hijab lebarnya.
__ADS_1
Tian menoleh dan hanya mencebikkan bibirnya pada perempuan yang kini berdiri di samping sang ibu.
"Cewek mana sih Yan yang lagi kamu deketin?" tanya perempuan yang ternyata adalah kakak Tian itu.
Tian tersenyum. Tanpa menjawab pertanyaan kedua wanita tersayangnya itu, dia kembali melanjutkan kegiatannya. Setelah selesai, pemuda itu lantas membalikkan badannya dan melihat ke arah kedua wanita tersayangnya.
"Tian pergi dulu ya Bu, Mbak." Tian mencium punggung tangan sang ibu dan juga sang kakak.
"Iya Nak. Hati-hati ya," ucap Bu Hamidah.
Setelah berpamitan, Tian segera keluar dari dalam kamarnya menuju garasi. Dia kemudian mengeluarkan motornya dan segera memacu kendaraannya menuju tempat Citra.
Di tempat lain, Wiwit tampak sedang menghitung sesuatu. Wajahnya tampak sumringah melihat lembaran-lembaran uang yang ada di tangannya.
"Lumayan juga ya. Dengan uang ini aku bisa pergi dari tempat ini. Aku bisa memulai hidupku di luar kota," ucapnya.
Wiwit mulai membayangkan senangnya hidup di luar kota. Dia mulai membayangkan hidupnya akan tenang jika dirinya berasa jauh dari kedua orang tua angkatnya. Dia juga berpikir akan terbebas dari jeratan hukum jika Citra melaporkan kejadian tabrak lari waktu itu.
"Dengan uang ini aku bisa mencari Mas Tegar. Aku bisa mencari dia dan mencoba mendekatinya lagi. Dan yang pasti, aku bisa lepas dari bayang-bayang Citra dan kedua orang tua s****n itu," gumamnya.
Wiwit terus bergumam sambil menghitung lembaran-lembaran merah itu. Bibirnya tak berhenti tersenyum. Matanya tak lepas dari kertas bernominal di tangannya.
"Wit, bisa bantu ibu..." Bu Aminah menghentikan kalimatnya saat melihat apa yang dilakukan oleh Wiwit.
Melihat sang ibu datang mendekat, Wiwit segera menyembunyikan apa yang sedang ia pegang.
"Eh i-iya Bu. Kenapa Bu?" Tanya Wiwit dengan suara bergetar karena gugup.
"Apa yang kamu sembunyikan itu Wit?" tanya Bu Aminah tanpa memperdulikan pertanyaan Wiwit padanya.
"Apa sih Bu? Wiwit nggak... Wiwit nggak sembunyikan apa-apa kok," tukas Wiwit. Manik matanya bergulir ke sana ke mari karena merasa gugup.
Bu Aminah menatap tajam ke arah anak angkatnya itu. Wanita itu mencurigai sesuatu. Tapi wanita itu tak bisa menuduhnya tanpa bukti.
Wiwit membalas tatapan sang ibu dengan pandangan orang yang salah. Wiwit kemudian memalingkan wajahnya.
"Ibu mau apa? Buruan ngomong? Aku sibuk!" ujarnya tanpa menoleh ke arah ibunya.
Bu Aminah masih terdiam. Dia masih menelisik wajah Wiwit. Wanita itu seolah ingin menemukan sesuatu yang disembunyikan oleh Wiwit.
"Buruan ngomong Ibu mau apa? Aku sibuk sekarang," bentaknya.
__ADS_1
Bu Aminah masih terdiam. Wanita itu masih tak juga membuka suaranya. Hingga terdengar suara seseorang dari luar rumah.
Wiwit yang merasa kesal pada sang ibu, segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Wiwit tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat membuka pintu rumahnya. Tubuhnya seolah membeku di tempat.