Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 80


__ADS_3

Citra dan Azwan kompak menoleh dan mendapati Tian sedang berdiri di ambang pintu yang menuju ke halaman belakang.


"Seru banget kayaknya. Sampai-sampai enggak sadar ada orang di sini," ucapnya dengan nada dingin.


Citra mengulas senyum tipis. Sedangkan Azwan tertawa lirih saat mendengar ucapan Tian. Dia tahu Tian sedang dilanda cemburu.


"Cit! Aku masuk dulu ya. Dadah...!" Azwan berkata seraya mencium pipi Citra.


Tian membelalakkan matanya kala melihat itu. Dia tampak terkejut saat dengan beraninya Azwan mencium Citra di depan matanya.


"Eh pipi satunya belum. Nih aku cium lagi. Biar nggak iri pipinya." Azwan mencium pipi kanan Citra.


Tian semakin kesal dibuatnya. Dia lantas menarik tangan Citra ke dalam pelukannya dan mengusap kedua pipi Citra dengan tangannya.


"Aku bersihin pipinya. Biar nggak terkontaminasi kuman," ucap Tian asal.


Azwan tertawa melihat itu. "Enggak apa-apa. Yang penting aku udah ngasih tanda di pipi Citra." Azwan mencibir Tian seraya meleletkan lidahnya.


Tian semakin kesal. Dia menatap tajam ke arah Azwan yang telah lari masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba....


BRUGHHH!


"Aduh! Hati-hati dong kalau jalan!" sungut Anne. Dia memegangi pantatnya yang sakit akibat terjatuh tadi.


"Lagian ngapain sih lari-lari segala? Kurang kerjaan banget sih?" Anne masih menggerutu sambil menatap ke arah Azwan.


Azwan nyengir saja mendengar gerutuan Anne. "Sorry! Gue dikejar sama orang yang lagi cemburu. Makanya gue lari," jelas Azwan.


"Orang yang lagi cemburu? Siapa?" Anne mengerutkan keningnya seraya bertanya.


Azwan menunjuk dengan dagunya ke arah Citra dan Tian yang berjalan masuk ke dalam rumah. Anne mengikuti arah tunjuk Azwan. Seulas senyum tipis terbingkai di wajahnya.


"Emang elo apain Citra sampai-sampai Pak Tian cemburu?" tanya Anne penasaran.


"Gue sengaja nyium pipi Citra." Azwan tertawa setelah mengatak itu.


Anne ikut tertawa saat mendengar ucapan Azwan. Dia tahu betul seberapa bucinnya Tian pada Citra. Seberapa protektifnya Tian pada kekasihnya itu.


"Terus aja ketawa! Ulangan besok hati-hati aja." Tian berkata saat mendengar tawa dari kedua anak didiknya itu.


"Dih nggak asik deh ancamannya? Masa gitu doang pengaruh ke nilai sih, Pak?" ujar Azwan.


Tian mencebikkan bibirnya. "Pengaruh lah. Apalagi kalian masih manggil saya Bapak saat diluar jam sekolah!" sahut Tian.


Anne dan Azwan saling lempar pandang. Mereka terheran-heran mendengar ucapan Tian barusan.


"Lah kita harus manggil apa dong? Ibu gitu?" tanya Azwan.


"Iya, Pak. Kita harus manggil apa? Manggil nama doang kan nggak sopan, Pak. Iya nggak Wan?" timpal Anne.


Tian sudah akan menjawab ucapan kedua anak didiknya itu saat bu Mirna dan pak Bayu menegur mereka. Akhirnya Tian mengurungkan niatnya itu.


...****************...


Malam hari begitu cepat datang. Tian tampak sedang bersiap-siap untuk menjemput Citra. Mereka berencana untuk kencan malam ini.


"Waduh... waduh... Mau ke mana Yan?" tanya bu Hamidah.


Tian menoleh sekilas lalu membalikkan badannya kembali ke arah cermin.


"Mau jemput Citra. Mau ajak dia keluar malam ini," jawab Tian.


Bu Hamidah mengulas senyum. "Hati-hati ya. Jangan sampai pulang terlalu larut. Enggak enak sama pak Bayu dan keluarga," ucap bu Hamidah.

__ADS_1


"Beres, Bu. Tian nggak akan bikin Citra pulang larut malam kok," jawab Tian.


Bu Hamidah tersenyum mendengar jawaban anaknya itu.


Tian mengerti arti senyuman itu. "Tian pamit dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum." Tian berpamitan seraya mencium punggung tangan sang ibu.


"Wa'alaikumusalam. Hati-hati. Jangan pulang malam-malam," ucap sang ibu.


Tian mengacungkan kedua jempolnya. Dia lantas berjalan keluar dari dalam kamarnya. Namun saat hampir mencapai pintu, Tian berbalik arah. Dia tak jadi keluar dari rumahnya.


"Kenapa balik lagi?" Bu Hamidah merasa heran dengan sikap sang anak.


Tian menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya. "Jangan keras-keras. Di luar ada murid Tian. Dia...."


"Murid kamu? Temuin aja dulu kalau gitu," potong bu Hamidah.


Tian menghela napas panjang. "Dia itu ngejar-ngejar Tian. Enggak di sekolah, enggak di mana pun juga. Dia selalu pengin dekat sama Tian."


"Sekarang, tolong temuin dia dulu. Bilang aja kalau Tian lagi nggak ada di rumah. Tian nggak mau Citra salah paham lagi sama Tian," jelasnya.


Bu Hamidah mengangguk paham. Wanita itu kemudian berjalan keluar rumah untuk menemui orang yang dimaksud oleh Tian.


"Maaf cari siapa ya?" tanya bu Hamidah.


Silvi menoleh ke belakang. Dengan ketusnya dia menjawab, "gue nyari Pak Tian. Ada kan? Panggilin gih."


Bu Hamidah mengerutkan keningnya. Dia terkejut mendengar nada ketus yang keluar dari mulut seorang gadis yang berdiri di depannya.


"Tian nggak ada. Dia lagi keluar sama calon istrinya," jawab bu Hamidah tak kalah ketusnya.


Silvi menatap ke arah bu Hamidah dengan pandangan tak percaya. Dia yakin Tian ada di dalam.


"Gue nggak percaya. Panggilin bentar kenapa sih? Atau elo mau gue aduin ke Pak Tian, biar dipecat!" ucapnya.


"Udah dibilang nggak ada ya nggak ada. Lagian maksa banget sih mau ketemu sama anak saya?" ujar bu Hamidah.


Tian keluar dari rumahnya melalui pintu belakang. Dia berjalan mengendap-endap agar tak menimbulkan suara berisik yang mengundang kecurigaan benalu cilik itu.


"Nah, aman deh! Sekarang tinggal pesan taksi online deh," gumamnya.


Tian lantas membuka ponselnya dan mulai memesan taksi online. Dia tak peduli pada keributan yang terjadi. Yang terpenting sekarang dirinya aman dari gangguan Silvi.


Tak berapa lama, taksi online yang dipesan oleh Tian tiba di titik penjemputan. Tian segera masuk ke dalam mobil.


"Selamat malam Mas. Sesuai aplikasi ya Mas!" ucap sang supir taksi.


Tian menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Mobil kembali melaju. Menembus jalanan yang mulai padat merayap.


Citra menunggu dengan gelisah. Dia sesekali melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Belum datang juga Cit?" tanya bu Mirna.


"Belum Ma. Mungkin sebentar lagi," jawab Citra.


Bu Mirna mengangguk. Tak berapa lama setelah bu Mirna bertanya, terdengar suara bel berdering.


"Nah, itu pasti Tian," ucap bu Mirna.


Wanita itu lantas berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Assalamu'alaikum Ma." Tian mengucapkan salam sembari tersenyum pada sang calon mertua. Kemudian dia meraih tangan bu Mirna dan mencium punggung tangan wanita itu.

__ADS_1


"Wa'alaikumusalam, tumben nggak bawa...."


"Lama banget sih!" sela Citra.


Bu Mirna hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan sang anak gadis.


"Ya sudah Mama tinggal. ke dalam ya," ucap bu Mirna.


"Iya Ma. Sekalian saya mau pamit. Mau ngajak Citra jalan-jalan," sahut Tian.


Bu Mirna tersenyum. "Iya. Jangan malam-malam ya pulangnya," ucap bu Mirna.


Tian dan Citra menganggukkan kepala mereka bersamaan.


"Kita pamit dulu ya Ma. Assalamu'alaikum," ucap Citra.


"Iya. Wa'alaikumusalam," balas bu Mirna.


Keduanya lantas berjalan menuju taksi online yang sudah menunggu di depan.


"Tumben nggak bawa motor?" tanya Citra. Saat ini mereka berdua berada di dalam taksi.


"Iya. Lagi kepengin aja naik kendaraan umum," jawab Tian.


Citra membulatkan bibirnya. Taksi terus berjalan membelah jalanan kota. Tak berapa lama, mereka telah sampai di sebuah kafe yang sedang hits saat ini. Kafe yang mengusung tema outdoor dengan desain seperti taman kota itu, memang selalu ramai dikunjungi muda mudi.


Tian mengajak Citra untuk duduk lesehan di samping jendela. Tian sengaja memilih tempat duduk lesehan agar lebih romantis.


"Mau pesan apa Sayang?" tanya Tian. Dia menyodorkan buku menu pada Citra.


Citra membolak-balik buku menu yang ada di hadapannya. Dia tampak kebingungan memilih menu yang tersedia di kafe itu.


"Em... aku mau pesan kentang goreng aja deh. Terus minimnya es cappucino," jawab Citra.


"Kok minum es kopi sih? Kan sama dokter nggak boleh minum kopi. Yang lain aja ya," ujar Tian.


"Apa dong? Aku lagi kepengin minum itu. Enggak mau yang lain," jawab Citra.


"Kalau nggak boleh minum itu, ya udah nggak usah pesan minum aja," rajuknya.


"Kok ngambek sih? Ya udah iya. Boleh deh minum itu. Tapi janji jangan sering-sering ya." Tian akhirnya mengalah agar Citra tak merajuk.


Citra mengulas senyum. Dia merasa menang karena Tian mau menuruti perkataannya.


Tian memanggil waiters. Dia memesan makanan serta minuman seperti permintaan Citra. Waiters itu mencatat pesanan Tian dan segera berlalu dari mejanya ketika dia sudah memastikan lagi pesanan Tian.


"Tadi kenapa lama banget?" tanya Citra. Saat ini mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.


"Maaf ya. Tadi ada sedikit masalah di rumah. Jadi aku agak telat jemput kamu," jawab Tian.


"Masalah apa?" tanyanya lagi.


Tian menghela napas. Dia berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Citra. Dia harus bisa menjelaskan agar Citra tak salah paham lagi padanya.


"Kenapa diam? Mantan kamu datang ke rumah lagi?"


"Bu-bukan. Bukan masalah mantan aku. Tapi masalah...."


"Masalah cewek lain lagi?" tebak Citra.


Tian menatap Citra dengan pandangan heran. Dia tak menyangka jika Citra bisa menebak dengan jitu apa yang sedang terjadi tadi.


"Maafin aku. Tapi aku nggak...."

__ADS_1


"Oh ternyata Pak Tian ada di sini?" sela seseorang tiba-tiba.


__ADS_2