
Tak terasa satu bulan telah berlalu. Kini Citra sudah mulai bisa beraktifitas seperti biasanya. Dia tak lagi sering merasa pusing sekarang. Hanya jika kelelahan, kepalanya akan berdenyut sakit.
"Citra, kamu bawa buku yang kemarin itu nggak?" tanya Maria.
Sekarang Maria tak pernah lagi membully Citra. Dia justru menjadi teman Citra dan menjadi orang pertama jika Citra di bully.
"Buku apa?" Citra bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Itu lho, novel kamu. Aku mau pinjam," jawab Maria.
"Ooh buku itu. Aku hari ini nggak bawa. Besok ya. Atau kalau kamu mau, nanti pulang sekolah ikut ke rumah aja," kata Citra.
"Yaah nggak bawa ya. Ya udah deh. Nanti pulang sekolah aku ikut kamu ya," ucap Maria.
Citra tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya.
"Wah... wah... ada pengkhianat nih di kelas kita," sindir Sasha. Matanya menatap tajam ke arah Maria yang kini tengah duduk di samping Citra.
Sasha berjalan menghampiri keduanya sambil berkacak pinggang. Maria menatap Sasha dengan pandangan tak suka. Sedangkan Citra tampak tertunduk karena takut.
"Elo kasih pelet apa ke Maria sampai-sampai dia nurut sama lo?" tanya Sasha.
Citra hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak berani sedikitpun menatap wajah bengis Sasha yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Udah deh Sha. Jangan gangguin dia lagi. Kita udah banyak dosa lho sama Citra. Selama ini kita udah sering banget bully dia. Kita hina dia," ucap Maria.
"Waw... waw... waw!" Sasha menatap maria sembari tersenyum sinis.
"Sudah pinter ya lo sekarang? Udah pinter ceramahin orang ya lo sekarang?" sindir Sasha.
"Lo lupa siapa yang nolongin elo waktu itu? Elo lupa siapa yang tiap hari bawain elo makanan karena Nyokap Bokap lo nggak ada duit buat beli makanan? Hah! Elo lupa?" ujar Sasha.
Maria mendengus kesal. Dia tak suka masa lalunya diungkit-ungkit lagi. Dia tak suka ada orang yang mengingatkannya pada masa lalunya yang kelam.
"Kenapa elo diem? Elo utang banyak sama gue Mar. Elo dan keluarga lo utang banyak ke keluarga gue. Dan gue nggak segan-segan untuk menagih itu semua!" ucap Sasha.
Citra yang tak tahu menahu soal itu hanya bisa diam. Dia tak mau ikut campur urusan orang lain.
"Oh jadi selama ini elo dan keluarga lo nggak ikhlas nolong orang lain? Jadi selama ini pengorbanan gue buat elo juga belum sepadan sama apa yang udah lo lakuin buat gue?" balas Maria.
Matanya menatap tajam ke arah Sasha. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Bukan untuk mengejek atau menantang. Dia hanya ingin Sasha tahu, jika tak selamanya orang lain itu suka sama dia. Orang lain akan terus mau merangkak di kakinya.
"Jangan lupa, gue juga pernah nolong elo. Gue pernah jadi saksi atas apa yang pernah lo lakuin dulu," ucap Maria.
Mendengar ucapan Maria, Sasha menjadi sedikit takut. Dia takut Maria akan membocorkan rahasia kelamnya pada orang lain. Dia takut Maria akan membongkar kebusukannya di masa lalu.
"Tutup mulut lo! Atau...."
"Atau apa?" tantang Maria.
Melihat sikap Maria yang sama sekali tak merasa takut padanya, membuat Sasha beringsut mundur. Dia menjadi ragu untuk mengancam Maria. Karena kartu matinya ada pada Maria.
"Mending elo segera taubat deh sebelum terlambat," ucap Maria lagi.
Mari bangkit dari duduknya. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Sasha.
"Hati-hati sama ucapan lo. Karena sekali elo ngancem gue atau berbuat kurang ajar sama gue. Rahasia lo akan tersebar ke seluruh sekolah," bisik Maria.
__ADS_1
Mata Sasha membelalak tak percaya. Dia tak menyangka Maria berani mengancam balik dirinya. Sasha merasa tak punya nyali lagi untuk mengancam Maria. Dia merasa jika Maria bisa membocorkan semuanya sewaktu-waktu.
...****************...
Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Tian. Sejak lagi dia terlihat senyum-senyum sendiri. Sebuah kotak kecil berwarna merah tampak di depan matanya.
"Selangkah lagi. Cinta kami akan bersatu," ucapnya dengan nada girang.
"Yan!" panggil Bu Hamidah.
"Udah siap?" tanya perempuan dengan gamis dan jilbabnya.
Tian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat ke arah sang ibu.
"Berangkat sekarang Bu?" tanya Tian.
Bu Hamidah tersenyum mendengar pertanyaan sang anak.
"Cie... cie... si bucin mau ngelamar anak orang lho sekarang," goda Amanda.
Tian hanya mencebikkan bibirnya mendengar gurauan sang kakak.
"Udah siap semuanya?" tanya seorang lelaki dengan rambut cepak. Dia adalah Tristan, suami Amanda.
"Udah Mas. Langsung berangkat aja sekarang," jawab Tian.
"Udah nggak sabar tuh dia," ucap Amanda menggoda sang adik.
Tian hanya tersenyum. Saat ini hatinya dipenuhi bunga-bunga indah yang bermekaran. Jantungnya juga berdetak kian cepat karena perasaan gugup.
Sementara itu, Citra sedang berdandan dengan Anne. Anne memaksa Citra untuk menggunakan make up di hari spesialnya kali ini. Dia ingin Citra tampil beda dari biasanya.
"Iya.Udah deh kamu diem aja. Pokoknya kamu bakalan cantik banget deh," sahut Anne.
Citra menurut saja. Dia tak membantah ucapan Anne. Tapi sesekali dia melayangkan protes saat dirasanya make up nya terlalu tebal atau berlebihan.
"Udah. Sekarang tinggal pakai lipstik deh. Eemm... pakai warna apa ya?" gumam Anne. Matanya meneliti setiap lipstik yang ada di kotak make up nya.
"Pakai yang nggak terang aja ya. Jangan pakai yang warna menyala," kata Citra.
Anne tersenyum mendengar perkataan Citra. Kemudian dia mengambil lipstik warna nude.
"Warna ini mau nggak?" Anne mengoleskan lipstik itu di tangannya kemudian menunjukkannya pada Citra.
"Emm.... terserah kamu aja. Yang penting jangan warna terang. Soalnya aku nggak PD," ucap Citra.
Anne mengangguk paham. Gadis itu mulai mengoleskan pewarna bibir itu ke bibir Citra. Dia memasangkannya dengan hati-hati agar tak belepotan ke mana-mana.
"Nah udah deh. Sekarang tinggal pakai baju aja kamu. Bisa kan pakai sendiri?"
"Bisa. Insha allah," jawab Citra.
"Ya udah. Nanti rambutnya biar Mama aja yang nata. Soalnya aku masih belum ahli soal menara rambut." Kekeh Anne.
Citra tersenyum mendengarnya. Tanpa menunggu lama, Citra langsung meraih baju yang sudah dipersiapkan oleh Bu Mirna. Dia segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Keluarga Tian baru saja sampai di depan rumah Citra. Tian segera turun dari mobil dan mengajak keluarganya untuk turun.
__ADS_1
"Bener yang ini rumahnya Yan?" tanya Tristan.
"Iya Mas. Ini benar rumahnya," jawab Tian.
Tristan mengedarkan pandangannya. Sepertinya dia tak asing lagi dengan rumah mewah yang berdiri di depan matanya ini.
"Masa iya sih? Ah mungkin aja kebetulan model rumahnya sama," ucap Tristan dalam hati.
"Tapi alamatnya kan sama dengan rumah Pak Bayu," ucapnya lagi.
Mendengar suara orang berbicara, Pak Bayu segera keluar dari dalam rumah. Lelaki itu menyambut tamu yang datang ke rumahnya.
"Lho kok nggak langsung masuk Yan?" tegur Pak Bayu.
Mendengar teguran itu, Tristan lantas menoleh. Dia terkejut saat melihat bosnya berdiri di depannya.
"Berani benar ini anak ngedeketin anak bos?" gumam Tristan.
"Lho Pak Tristan?" Pak Bayu mendekat ke arah tekan kerjanya itu dan merangkulnya.
Tristan membalas rangkulan itu dan tersenyum. "Apa kabar Pak Bayu?" tanya Tristan.
"Alhamdulillah baik," jawab Pak Bayu.
Mereka asik bercengkrama hingga Pak Bayu lupa mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.
"Eh sampai lupa. Mari silahkan masuk!" Pak Bayu mempersilahkan tamu-tamunya masuk ke dalam rumah.
"Jadi, Pak Tristan ini masih saudara sama Tian?" tanya Pak Bayu saat mereka semua berasa di dalam rumah.
"Iya Pak. Saudara ipar. Istri saya ini kakak kandungnya Tian," jawab Tristan.
Pak Bayu manggut-manggut mendengar jawaban Tristan.
Pembicaraan mereka berlanjut. Ada saja yang mereka bicarakan. Mulai dari pekerjaan hingga masalah umum yang terjadi sekarang. Bu Mirna yang baru saja selesai menara rambut Citra segera turun dan bergabung bersama dengan mereka.
"Sebelumnya kami minta maaf pada Pak Bayu dan keluarga. Karena kedatangan kami yang mendadak dan keroyokan begini," ucap Tristan memulai penjelasannya.
Pak Bayu tersenyum mendengar ucapan tekan kerjanya itu.
"Ah nggak apa-apa. Kami malah senang lho Pak Tristan dan keluarga mau mampir ke gubuk kami," jawab Bu Mirna merendah.
"Kedatangan kami ke mari, pertama untuk silaturahmi. Dan yang ke dua, saya mewakili adik saya, Tian. Ingin meminang putri Bapak, Citra," kata Tristan.
Pak Bayu tersenyum. "Saya sangat tersanjung mendengarnya. Jujur saja saya sangat menyukai Tian. Dia adalah pemuda yang sopan dan selalu bisa menempatkan dirinya di manapun dia berada," ucap Pak Bayu.
Tian tampak tersenyum malu-malu saat mendengar Pak Bayu memuji dirinya.
"Saya bisa saja langsung menerima pinangan Tian. Tapi saya tidak bisa seegois itu. Saya harus bertanya dulu pada anaknya. Karena kedepannya dialah yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya," ucap Pak Bayu.
Tanpa menunggu lama lagi, Pak Bayu segera menyuruh sang istri memanggil Citra. Pak Bayu ingin Citra menjawab pinangan itu. Walaupun Pak Bayu sudah tahu apa jawaban Citra.
Citra segera turun dari kamarnya. Dia berjalan dengan diapit oleh Bu Mirna dan Anne. Saat matanya bertemu pandang dengan Tian, dia buru-buru menundukkan kepalanya. Dia merasa malu dan canggung.
Citra duduk di sofa yang ada di depan Tian. Mata Tian tak lepas dari wajah cantik yang kini sedang tersipu malu itu.
"Citra, Nak Tian dan keluarga datang ke mari untuk meminang kamu menjadi istri Tian," ucap Pak Bayu.
__ADS_1
"Apa kamu bersedia menerima pinangan Nak Tian?"