Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 58


__ADS_3

Luna merasa kesal melihat kebersamaan Tian dan Citra. Hatinya terasa panas seolah ada yang membakarnya dari dalam. Matanya menatap tajam ke arah pasangan yang sebenarnya tak mengumbar apapun itu.


"Kalau kita nggak suka sama dia, jangan kotori hati dengan kebencian dan iri hati. Doakan saja dia. Semoga kita merasakan bahagia seperti yang dia rasakan." Ucap seseorang sambil menatap Tian dan Citra.


Luna menoleh. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang sama. Dingin dan penuh dendam. Tanpa berkata apa-apa, Luna beranjak dari tempat itu dan berjalan menjauh.


"Heh! Susah kalau udah cemburu buta. Padahal yang jalan nggak cuman berdua. Tapi masih aja dicemburuin," gumam orang itu. Kemudian dia juga beranjak dari sana dan masuk ke ruang guru.


Di kantin, Citra dan yang lainnya tampak sedang memesan makanan. Mereka menyebutkan pesanannya masing-masing kepada penjaga kantin.


"Oh jadi cewek udik dan kampungan itu sekarang deketin Pak guru," sindir sebuah suara.


Mereka berempat menoleh dan mendapati Karin berdiri sambil berkacak pinggang.


"Dikasih gratis ya Pak sama Citra? Kok sampai mau-maunya sih jalan sama nih cewek?" Karin menoyor kepala Citra sambil menatapnya dengan penuh rasa iri.


Maria bangkit dari duduknya. "Benci sama orang boleh. G****k jangan!" balasnya.


Karin menatap Maria dengan pandangan tak suka. "Enggak usah ikut campur ya lo. Lagian ngapain elo ikut sama cewek halu ini?" ujar Karin.


Maria melipat kedua tangannya di dada. Senyum sinis tergambar di wajahnya.


"Karena gue sadar. Semakin gue bully orang hidup gue semakin jauh dari Tuhan. Tapi semakin gue baik sama orang lain dan mengakui semua kesalahan gue, Tuhan juga baik sama gue."


"Sebaiknya elo taubat deh. Bilang juga tuh sama si Sasha. Segera taubat sebelum nyawa melayang," ucap Maria.


Karin mendengus kesal. Kemudian tanpa berkata apa-apa dia segera berlalu dari hadapan Maria dan menjauhi meja mereka.


"Elo kesurupan ya Mar?" tukas Anne.


"Maksud lo?" tanya Maria.


"Ya kesurupan. Elo segitunya negbelain saudara gue," jawab Anne.


"Saudara? Maksud lo? Gue nggak ngerti deh?" tanya Maria.


"Anne," panggil Citra. Dia tak ingin ada orang yang tahu semuanya. Dia tak ingin orang merasa takut berdekatan dengannya.


Anne tersenyum. Kemudian dia menjelaskan siapa Citra sebenarnya. Dan apa hubungan Citra dengan keluarganya. Maria membelalakkan matanya tak percaya saat mendengar penjelasan Anne.


"Jadi, selama ini yang gue bully itu...."


Tian yang sudah tahu sejak awal tak merasa kaget lagi. Tapi ada satu hal yang dia tidak tahu. Anne juga tak menceritakan hal itu pada siapapun termasuk pada Tian.


"Makanya kalau mau bully orang lihat-lihat dulu," cibir Tian.

__ADS_1


"Ye si Bapak. Mentang-mentang udah tahu aja nyindir-nyindir saya. Kan saya cuman ikut-ikutan aja dulu Pak," jawab Maria.


"Udah... udah! Enggak usah dibahas lagi ya. Yang penting sekarang kamu udah nggak bully orang lain lagi. Udah berubah jadi lebih lagi," ucap Citra menengahi.


Keduanya lantas terdiam saat mendengar suara Citra. Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Anne dan Maria segera menyerbu pesanan mereka berdua.


"Makasih ya Pak. Sering-sering deh kayak gini," ucap Maria.


Tian hanya tersenyum mendengar ucapan anak didiknya itu.


"Nanti pulang sekolah kamu ikut ya!" ajak Tian.


"Ke mana?" tanya Citra.


"Ikut aja deh. Nanti juga kamu bakalan tahu sendiri," jawab Tian.


Citra mengangguk saja. Walaupun dia tak tahu Tian akan membawanya ke mana.


...****************...


Citra tampak sedang menunggu Tian di gazebo yang ada di taman. Dia tak sendiri. Ada Maria dan juga Anne yang menemani.


"Kalian mau kencan ya?" goda Maria.


"Cie... cie... Lagi ngehalu ya?" sahut seseorang.


Ketiganya menoleh ke belakang. Tampak Karin sedang berdiri dengan angkuhnya di sana.


"Cie... cie... yang ngakunya cantik tapi kalah saing," sindir Anne.


Maria menahan tawanya kala mendengar kalimat sindiran itu.


Karin melotot tajam ke arah Anne dan Maria. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto pada Citra.


"Tuh lihat. Cowok yang elo haluin!" ucap Karin.


Citra melihat foto itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Makanya kalau mimpi jangan tinggi-tinggi. Nanti kalau jatuh sakit. Nangis deh!" ejek Karin.


Citra terdiam mematung. Dia tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi dia tak percaya dengan foto itu. Tapi di sisi lain, foto itu terlihat bukan editan.


"Enggak usah kompor deh lo. Cuman foto doang bisa diedit kali," ucap Anne.


Karin tersenyum sinis. "Ya udah kalau nggak percaya. Yang jelas itu foto gue ambil pas gue nggak sengaja lewat depan ruang guru," ucap Karin lagi.

__ADS_1


Anne dan Maria hendak menyerang Karin lagi. Tapi Citra dengan cepat mencegahnya.


"Kita pulang aja ya. Kepalaku pusing," ucap Citra.


Anne membantu Citra bangkit dan menuntunnya. Maria pun mengikuti langkah keduanya.


"Awas lo!" Maria masih sempat mengancam Karin saat kakinya melangkah.


"Enggak usah sok-sokan ngancem gue lo. Gue nggak takut sama ancaman lo," pekik Karin.


Maria menatap tajam ke arah Karin. Dia tak bisa tinggal diam dengan kelakuan mantan teman segengnya itu.


Di ruang guru, Tian tampak berusaha untuk melepaskan tangannya dari Luna. Tapi gadis itu menggenggam lengan Tian demikian eratnya.


"Maaf Bu Luna. Ini di sekolah. Enggak seharusnya kita seperti ini," ucapnya.


"Kenapa? Apa saya kurang menarik di mata Pak Tian? Apa saya kurang cantik? Atau kurang seksi?" tanya Luna.


Tian menghela napas panjang. "Tolong Bu. Saya ada janji dengan seseorang. Dia pasti sedang menunggu saya sekarang," ucap Tian.


"Saya nggak akan lepaskan tangan saya. Sebelum Pak Tian bersedia menjadi kekasih saya," balas Luna.


Tian mengusap kasar wajahnya. Dia ingin sekali mendorong tubuh gadis berkacamata itu hingga jatuh. Tapi dia tak bisa menyakiti perempuan.


"Maaf Bu. Saya tidak bisa menjadi seperti yang Ibu inginkan," jawab Tian tegas.


Luna menjadi emosi saat mendengar jawaban Tian. Dia tak terima dirinya ditolak oleh seorang lelaki.


"Kenapa? Apa kurangnya saya dimata Bapak?" tanya Luna.


Tian menghela napas sekali lagi. "Bu Luna nggak kurang apa-apa. Bu Luna cantik. Tapi...."


"Tapi apa Pak? Apa karena ada orang lain di hati Bapak?"


Tian terdiam. Dia berusaha untuk meredam amarah yang bersarang dalam hatinya. Dia tak ingin emosinya ikut meledak saat mendengar ucapan Luna.


"Iya. Ada hati yang harus saya jaga. Ada seseorang yang harus saya sayangi setulus hati, karena saya telah memilih dia." Tian berkata sembari mengangkat tangannya. Dia menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.


Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia tak percaya pada pendengarannya. Dia tak percaya pada penglihatannya. Dia tak bisa terima penolakan ini.


"Maaf Bu. Saya permisi. Saya ada janji dengan tunangan saya," ucap Tian lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Luna berusaha mencegah Tian pergi. Dia tak ingin Tian meninggalkan dirinya begitu saja.


"Jangan mengemis pada lelaki. Hargai dirimu sendiri. Jangan rendahkan harga dirimu pada lelaki yang tak bisa kamu miliki."

__ADS_1


__ADS_2