
Citra mengerutkan keningnya. Dia merasa tak mengenal gadis yang kini berdiri di hadapannya. Seorang gadis bermata biru dan berambut pirang panjang. Dia sama sekali tak mengenali gadis itu. Bahkan dia baru kali ini melihat gadis itu.
"Siapa ya?" Citra mengulangi pertanyaannya.
Namun gadis itu masih terdiam di tempatnya. Matanya masih menyorot tajam. Dia tak suka pada Citra. Dia tak suka pada kelembutan dan juga ketenangan yang Citra tunjukkan.
"Jauhi Arga." Hanya itu yang keluar dari mulut gadis pirang itu. Matanya menyorot tajam ke arah Citra.
Citra menautkan kedua alisnya. Dia tak yakin memahami apa yang diucapkan oleh gadis itu.
"Maksud kamu?" tanya Citra polos.
Gadis berambut pirang itu tersenyum sinis. Dia seolah mencibir Citra yang tak memahami kata-katanya.
"Ternyata kamu aslinya bodoh sekali ya. Kamu ternyata nggak sepintar yang aku kira," ucap gadis berambut pirang itu.
"Jauhi Arga. Karena dia dan aku sudah lama bertunangan. Dan setelah lulus SMA kami akan segera menikah," kelas gadis itu.
Citra dan Anne saling lempar pandang. Mereka berdua tak percaya pada apa yang gadis itu ucapkan. Wajah Citra memerah karena menahan tawa. Sedangkan Anne tertawa lepas saat mendengar ucapan gadis bule itu.
"Kalian mengejekku?" Tanyanya dengan aksen Inggris yang kental.
Anne segera menutup mulutnya. "Ops sorry Sis. Gue nggak bermaksud ngetawain elo. Tapi omongan lo lucu banget. Asli lucu banget," ucap Anne.
Mata gadis itu membelalak tak percaya. Dia menatap tajam ke arah Anne yang sedang berbicara padanya.
"Dasar orang kampung," sarkasnya.
"Ngomong apa Lo?" ketus Anne. Gadis itu tak terima dikatakan anak kampung oleh bule itu.
Gadis berambut pirang itu tersenyum mengejek. "Dasar anak kampung. Pantas saja otak kalian nggak ada. Pantas saja kalian nggak ngerti sama bahasa manusia," ucap gadis itu lagi.
Anne sudah siap untuk membalas ucapan gadis itu. Tapi dengan cepat Citra menahannya. Dia menggelengkan kepalanya. Memberikan isyarat pada Anne agar tak membalas ucapan gadis itu.
"Maaf ya Mbak cantik. Orang kampung mau makan siang dulu. Kalau memang masih mau ngobrol, yuk ikut kami makan siang," ucap Citra.
Entah mendapat keberanian dari mana, Citra berani mengeluarkan kata-kata itu. Biasanya dia hanya bisa diam saat ada yang merundungnya.
Gadis pirang itu melotot ke arah Citra. "Aku peringatkan sekali lagi. Jauhi Arga. Atau...."
"Atau apa? Mbak cantik ngancam saya?" potong Citra.
"Maaf-maaf nih ya Mbak. Saya udah kebal diancam begitu. Jadi kalau mau saya menjauhi Arga, sebaiknya Mbak cantik ngomong langsung sama orangnya. Tuh orangnya lagi melihat ke sini." Tunjuk Citra pada sosok Arga yang tengah menatap ke arahnya dengan senyum terkembang.
__ADS_1
Gadis itu mengikuti arah tunjuk Citra. Wajahnya seketika berubah saat melihat Arga yang tengah menatap ke arahnya.
"Lain kali, cari tahu dulu siapa lawan kamu. Biar nggak terlalu malu," cibir Citra. Senyuman sinis tergambar jelas di wajahnya.
Setelah berkata demikian, Citra membalikkan badannya dan beranjak dari hadapan gadis berambut pirang itu.
"Makanya jangan bangunkan singa yang tertidur. Gini kan akibatnya." Anne ikut mencibir tindakan yang dilakukan oleh gadis berambut pirang itu.
Setelah itu, Anne mengikuti langkah Citra yang sudah menjauh dari tempat itu. Dalam hati, Anne memuji keberanian Citra membalas tindakan itu.
Gadis berambut pirang itu mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa geram karena tak berhasil mengintimidasi Citra.
Di lain tempat, Azwan tampan sedang berkumpul dengan Dirga dan juga para pemain basket lainnya. Mereka tampak sedang menikmati minuman masing-masing.
"Jadi gimana? Besok kita tetap datang atau enggak?" tanya Arya pada rekan-rekannya.
Dirga terdiam di tempatnya. Dia menatap ke satu arah dengan tatapan kosong. Dia sama sekali tak menghiraukan pertanyaan Arya tadi.
"Kok pada diam aja sih? Kalau kayak gini ngapain kita ngumpul di sini? Mending gue pulang deh," ucap Arya dengan kesal.
Dirga dan yang lainnya kompak diam saja. Mereka tak ada yang menyahuti ataupun merespon ucapan Arya barusan.
"Gimana Wan? Elo kan yang biasanya banyak ide dan masukan," tanya Arya pada Azwan.
"Kalau menurut gue sih, lebih baik kita datang aja. Menang atau kalah itu urusan belakangan. Sementara ini kita jangan mikirin menang dulu deh." Azwan mencoba menyuarakan pendapatnya.
Arya manggut-manggut mendengar jawaban Azwan. Dia kemudian menatap wajah rekan-rekannya yang lain secara bergantian.
"Gimana? Kalian pada setuju nggak?" tanya Arya pada yang lain.
"Gue setuju. Kalau kita nggak datang, mereka pasti bakalan makin besar kepala nanti," jawab Beni.
"Iya gue juga setuju. Menang atau kalah urusan belakangan. Yang penting tanding aja dulu," sahut Irfan.
"Iya gue juga setuju. Apapun hasil akhirnya yang penting kita udah ngasih yang terbaik," timpal Danu.
Satu per satu anggota tim basket menyuarakan pendapatnya. Sekarang tinggal Dirga yang belum memberikan suaranya. Saat ditanya pun Dirga hanya diam saja. Tak seperti biasanya yang dengan semangat dia akan memberikan suaranya.
"Gue anggap elo setuju sama keputusan ini. Dan terserah elo, besok mau ikut tanding atau enggak," ucap Arya lagi.
Dirga masih tetap diam di tempatnya. Dia tak menanggapi ucapan Arya. Dia hanya diam menatap kosong ke satu arah.
Setelah berdiskusi tentang pertandingan besok. Mereka semua membubarkan diri. Mereka bangkit dari tempat duduk masing-masing. Mereka keluar dari ruangan itu tanpa terkecuali.
__ADS_1
*****
Malam ini ribuan bintang tersebar di langit yang menampilkan warna gelap. Berkelap kelip seperti lampu di kejauhan. Rembulan pun tak mau kalah. Sang dewi malam itupun menampakkan sinarnya yang lembut dan menenangkan.
"Bahagia banget deh kalau jadi bulan. Dia selalu ditemani ribuan bintang. Walaupun langit gelap, tapi dia tak sendirian," gumam Citra.
Tegar yang duduk di sampingnya tampak mengulas senyum. Kemudian tangannya merangkul pundak Citra dan mengelusnya lembut.
"Kayak kamu dan aku," ucap Tegar.
Citra menatap wajah Tegar dengan alis terpaut. Dia tak mengerti dengan ucapan Tegar barusan.
"Maksud Mas Tegar?" tanya Citra.
Tegar tersenyum mendengar pertanyaan Citra. Dia menatap Citra dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Iya. Aku selalu ada dan menemani kamu setiap saat," ucap Tegar. Kedua matanya menatap Citra dengan tatapan yang lain dari biasanya.
"Citra, izinkan aku berada di dekatmu selalu. Izinkan aku melindungi mu dari orang-orang yang membenci dirimu," ucap Tegar.
Citra terdiam mendengar ucapan Tegar matanya masih menatap Tegar dengan pandangan heran dan juga penuh tanya.
"M-maksud Mas Tegar apa?" Citra bertanya dengan gugup.
Tegar meraih tangan Citra dan menggenggamnya dengan erat.
"Izinkan aku menyayangi kamu dan mencintai kamu segenap jiwa raga ku," ungkap Tegar. Genggaman tangannya semakin erat terasa.
"Mas Tegar ngomong apaan sih?" ujar Citra dengan nada suara bergetar.
"Aku serius Cit. Aku sayang sama kamu lebih dari sekadar adik dan kakak. Aku cinta sama kamu," jawab Tegar.
"Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu Citra. Aku nggak bisa lagi bohongi perasaan aku sendiri. Aku nggak bisa menahan perasaan aku ke kamu," lanjutnya.
"Mas Tegar ngomong apaan sih? A-aku nggak ngerti deh," ucap Citra. Suaranya semakin terdengar bergetar karena menahan sesuatu dalam hatinya.
"Izinkan aku mengisi kekosongan hati kamu. Izinkan aku menjadi seseorang yang spesial untuk kamu. Dan izinkan aku menjadi imam masa depanmu," ungkap Tegar.
Citra terdiam mendengar ungkapan cinta Tegar. Jantungnya berdetak puluhan kali lebih cepat dari biasanya. Lidahnya terasa kelu. Kata-kata yang sudah ia siapkan menguap entah ke mana.
"Citra, aku mencintaimu. Aku mencintai dirimu. Aku mencintai kamu," ucap Tegar lagi.
Mata Citra berkaca-kaca mendengar ungkapan cinta dari Tegar. Tak pernah ia rasakan getaran seperti saat sekarang ini. Bahkan saat bersama dengan Azwan dulu, dia tak merasakan getaran seperti ini.
__ADS_1
"Bersediakah kamu menjadi pasangan hidupku, Citra Kusumawardhani?"