Cidro (Antara Cinta Dan Luka)

Cidro (Antara Cinta Dan Luka)
Bab 82


__ADS_3

Tian segera dibawa ke rumah sakit. Mukanya tak seberapa parah. Tapi karena dia pingsan, jadi dia dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Silakan tunggu di luar ya. Kami akan mengusahakan yang terbaik," ucap salah seorang perawat.


"Iya Sus! Tolong berikan yang terbaik untuk dia," jawab Citra.


Perawat itu menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menutup pintu UGD.


"Sebaiknya kalian ke sekolah. Tolong kabarin ke kepala sekolah kalau Pak Tian kecelakaan. Nanti biar aku yang hubungi keluarga Pak Tian," ucap Citra.


"Terus kamu gimana?" tanya Anne.


"Aku bakalan di sini nemenin Pak Tian sampai keluarganya datang," jawab Citra.


"Kamu nggak apa-apa kami tinggal di sini sendirian?" tanya Azwan. Dia merasa khawatir karena harus meninggalkan Citra seorang diri di rumah sakit.


"Enggak apa-apa. Udah kalian ke sekolah aja. Tolong bilang juga sama guru piket kalau aku izin sehari ini. Tolong ya, Anne, Azwan!" ucap Citra.


Anne dan Azwan menganggukkan kepalanya bersamaan. Mereka tak bisa menolak permintaan tolong dari Citra.


"Makasih ya," ucapnya lagi.


"Ya udah. Kami tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa segera telepon aku atau Azwan." Anne menggenggam tangan Citra sembari memperingatkan saudarinya itu.


Citra mengangguk. "Pasti. Aku akan hubungi kalian kalau ada apa-apa," ucapnya.


Setelah berbicara sebentar, Anne dan Azwan berpamitan untuk pergi ke sekolah. Mereka akan mengabarkan berita itu pada kepala sekolah mereka.


Sepeninggal Anne dan Azwan, Citra mengambil ponselnya dan menghubungi orang tua Tian. Lama dia menunggu bu Hamidah mengangkat teleponnya.


"Assalamu'alaikum Citra," sapa sebuah suara.


"Wa'alaikumusalam, Bu!" jawab Citra.


"Ada apa Nak? Tumben telepon Ibu?"


"Maaf, Bu. Cuman mau ngabari kalau Mas Tian kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit," ucap Citra.


"APA?!" pekik wanita itu.


"Rumah sakit mana Nak? Biar Ibu ke sana sama Amanda."


Citra menyebutkan rumah sakit tempat Tian dirawat. Kemudian dia mematikan sambungan teleponnya setelah mengabari keluarga Tian.


"Semoga Mas Tian nggak kenapa-kenapa. Semoga nggak ada luka dalam," harapnya dalam hati.


Setelah mengabari keluarga Tian, Citra juga menelepon mamanya. Dia mengabari bahwa Tian kecelakaan dan sekarang sedang ada di rumah sakit. Tak lupa dia menelepon pihak sekolah untuk meminta izin tidak masuk hari ini.


"Iya Citra. Kami turut prihatin ya! Semoga Pak Tian lekas membaik," ucap seorang guru piket.


"Terimakasih Bu," jawab Citra.


Setelah itu, Citra kembali menutup teleponnya. Dia kembali duduk di kursi ruang tunggu. Tak berapa lama seorang dokter keluar dari ruang UGD.


"Bagaimana keadaan Pak Tian, Dok?" Citra bertanya sembari bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Anda siapanya pasien?" tanya dokter itu.


"Saya... saya... muridnya Pak Tian," jawab Citra.


"Keluarganya?" tanya dokter itu lagi.


"Masih dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Citra.


Dokter itu menghela napas panjang. "Keadaan pasien baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Hanya luka lecet saja di bagian tangan dan kaki pasien," jelas dokter itu.


Citra menarik napas lega saat mendengar penjelasan dari sang dokter.


"Boleh saya masuk, Dok?" tanya Citra.


"Silakan!" ucap dokter itu.


Citra mengulas senyum. Setelah mengucapkan terimakasih, Citra masuk ke dalam ruangan itu. Di sana ia melihat Tian sedang tertidur di atas pembaringan.


Sementara itu di sekolah, terjadi keributan kecil antara Silvi dengan Anne. Keributan itu bermula ketika Silvi menghina Citra di depan teman-temannya. Tanpa dia tahu siapa Citra sebenarnya.


Anne merasa tak terima saat ada yang menghina Citra. Dia melabrak Silvi dan terjadilah keributan itu. Untung saja keributan itu segera bisa diatasi.


...****************...


Sepulang sekolah, Anne, Azwan, dan Maria berkunjung ke rumah sakit. Mereka membawakan buah dan makanan untuk Citra dan Pak Tian.


"Cit, kamu di mana? Masih di UGD atau udah pindah?" tanya Anne di telepon.


"Aku ada di ruangan Anyelir I. Alhamdulillah Pak Tian udah dipindah ke kamar perawatan biasa," jawab Citra.


"Oke. Aku sama anak-anak ke sana ya. Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Anne sebelum menutup teleponnya.


"Enggak sopan banget sih!" gerutunya.


Citra menyimpan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Dia lantas duduk di samping tempat tidur Tian.


"Siapa yang telepon?" tanya Tian.


"Anne. Dia mau ke sini sama anak-anak katanya," jawab Citra.


Tian membulatkan bibirnya. "Kamu udah makan?" tanyanya lagi.


"Udah tadi pagi," jawab Citra.


"Sekarang?"


Citra menggeleng. "Enggak usah terlalu mikirin aku. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kanu," ucap Citra.


"Kesehatan kanu juga penting. Aku nggak mau kamu sakit gara-gara terus jagain aku," sahut Tian.


Citra menghela napas panjang. "Habis ini aku makan," ucap Citra akhirnya.


Tian mengulas senyum setelah mendengar ucapan Citra barusan.


"Sayang, maafin aku ya!" ucap Tian.

__ADS_1


"Maaf untuk apa?" Citra bertanya dengan dahi berkerut.


Tian menghela napas panjang. Dia meraih jemari Citra dan menggenggamnya. Kemudian dia mencium punggung tangan kekasihnya itu dengan lembut dan mesra.


"Maaf karena aku nggak dengerin omongan kamu tadi. Aku nggak mau pas kamu nawarin untuk berangkat bareng," ucapnya lagi.


Citra menarik tangannya. Dia menghela napasnya dan menatap Tian dengan tatapan tajam.


"Kamu marah sama aku?" tanya Tian.


Citra tak menjawab pertanyaan Tian. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sayang!" panggil Tian.


Citra menoleh sekilas. Kemudian dia memalingkan wajahnya lagi.


"Maafin aku. Aku mengaku salah. Tolong maafin aku!" ucap Tian.


Dia memohon pada Citra agar gadis itu mau memaafkan kesalahannya. Tapi sepertinya dia harus berusaha keras untuk mendapatkan maaf dari Citra.


"Citra!" panggilnya lagi.


"Aku minta maaf. Aku---"


Ucapan Tian terpotong saat ada yang membuka pintu dan mengucapkan salam. Ternyata Anne dan yang lainnya datang menjenguk.


"Selamat siang Pak Tian!" sapa Maria.


Tian tersenyum mendengar sapaan dari Maria. Kemudian matanya beralih menatap ke arah Azwan. Pemuda yang membuatnya iri karena bisa 24 jam bersama Citra.


"Selamat siang kakak ipar." Kali ini Azwan yang menyapa Tian.


Tian memutar bola matanya dengan malas saat mendengar sapaan dari Azwan.


Azwan tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Tian. Dia lantas menggoda gurunya itu.


"Citra udah makan? Mau aku suapi?" tanya Azwan.


Mendengar itu, Tian segera menarik lengan sang kekasih. Dia kemudian duduk di atas pembaringannya.


"Biar aku aja yang menyuapi Citra," ketus Tian.


Anne dan Maria tampak menahan tawanya. Sedangkan Azwan tampak tak bisa menahan tawanya lagi. Dia tertawa melihat berapa protektifnya Tian terhadap Citra.


"Aku mau ke toilet dulu," ucap Citra.


"Aku anterin ya Cit!" kata Azwan.


Tian memelototkan matanya kala mendengar perkataan Azwan.


"Enggak usah cari perkara deh. Mentang-mentang aku nggak bisa lari ngejar kamu," ucap Tian.


Azwan meleletkan lidahnya. Dia tak peduli pada ucapan guru sekaligus calon kakak iparnya itu.


"Enggak usah! Toiletnya kan deket. Aku bisa sendiri kok," tolak Citra.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari kedua pemuda itu, Citra segera berlalu dari kamar Tian. Dia berjalan menuju toilet yang ada di samping kamar Tian. Saat akan membuka pintu toilet, dia dikejutkan oleh seseorang yang akan keluar dari dalam toilet.


"Citra!"


__ADS_2