
Citra dan Tian kompak menoleh. Seketika wajah Citra berubah kala melihat siapa yang datang.
Anne menatapnya dengan tatapan tajam. Begitu pula dengan Azwan dan Maria. Mereka berdua menatap tajam ke arah Citra.
"Katanya mau pulang! Enggak tahunya malah pacaran di sini!" sindir Maria.
Citra menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tak berani menatap wajah-wajah di depannya itu.
"Kalau pamit pulang itu ya pulang! Jangan malah pacaran!" sahut Anne.
Citra semakin menundukkan kepalanya. Dia semakin takut untuk mengangkat kepalanya dan menatap ke arah mereka bertiga.
Melihat itu, Tian menjadi gerah. Dia tak ingin Citra terus disalahkan. Dia hendak membuka mulut saat Anne memberikan kode padanya agar dia diam saja.
"Citra!" panggil Anne.
Citra tak merespon panggilan itu. Dia tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Heh! Dengar nggak sih dipanggil?" ujar Anne.
Citra tetap terdiam. Dia tak mengangkat wajahnya sedikitpun. Dia masih merasa takut berhadapan dengan Anne yang seharian ini mendiamkan dirinya.
"Kalau dipanggil tuh jawab. Jangan diam aja!" sahut Maria.
Tiba-tiba Anne berjongkok di depan Citra dan menyentuh lembut tangan saudaranya itu.
"Aku nggak marah kok sama kamu." Dia berkata sambil mengulas senyum.
Citra menatap Anne yang masih duduk berjongkok di hadapannya. Dia menatap mata saudaranya itu untuk mencari kebenaran ucapannya.
"Aku udah nggak marah lagi sama kamu. Tadi memang aku sempat kesal sama kamu. Tapi sekarang udah nggak lagi," lanjutnya. Senyum masih menghiasi paras cantiknya.
Citra tersenyum lega saat Anne mengatakan itu. Dia kemudian memeluk Anne dengan erat. Dia tadi sangat takut jika Anne marah padanya. Dia takut Anne akan membenci dirinya karena perkataannya sendiri.
"Maafin aku ya. Aku nggak bermaksud untuk buat kamu marah," ucap Citra tanpa melepaskan pelukannya.
Anne menganggukkan kepalanya dalam dekapan Citra. Senyum juga masih menghiasi wajahnya.
Tian yang tidak tahu apa-apa hanya bisa tersenyum melihat itu. Dia berpikir mungkin Citra salah bicara sehingga Anne merasa tersinggung dengan perkataannya.
"Nah, sekarang kita ke kafe. Kita tinggalin mereka berdua. Biar bisa bulan madu," celetuk Maria.
Anne dan Citra melepaskan pelukan mereka. Kemudian mereka tertawa mendengar celetukan Maria yang asal itu.
"Udah sana pergi. Kalian ganggu aja sih dari tadi!" Tian mengusir mereka bertiga dengan tatapan pura-pura marah.
"Yah! Kita diusir Wan. Enggak ada takut-takutnya nih orang," ucap Maria.
__ADS_1
"Pulang entar lewat mana Pak?" tanyanya dengan gaya preman.
"Lewat jalan lah. Mau lewat mana?" sahut Azwan.
"Iya, gue tahu. Jalan mana tapi?" tanya Maria.
"Emang kenapa Mar?" Tian balik bertanya pada Maria.
"Enggak ada. Mau nebeng kali aja searah kita." Maria menjawab sembari menaikturunkan alisnya.
Semua yang ada di sana tertawa mendengar jawaban Maria. Termasuk Anne dan Citra. Mereka tertawa bahagia sampai tak ada yang menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh.
...****************...
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa sekolah sudah dimulai hampir satu bulan. Tak ada hal mengejutkan yang terjadi di sekolah selama ini. Dirga dan teman-temannya masih saja menghina Citra saat mereka berpapasan.
Hubungan Citra dengan Tian pun sudah memasuki tahap serius. Bahkan Tian berencana untuk menikahi Citra setelah acara kelulusan nanti.
"Boring banget nggak sih guys hari ini? Enggak ada kejadian luar biasa yang bikin gue tercengang gitu ya!" ucap Maria asal.
"Wan! Elo kan bestie gue nih. Tolong beliin es teh dong. Haus nih!" Maria berkata sambil memegangi lehernya.
"Ye... beli aja sendiri!" tugas Azwan.
"Ayolah Wan! Masa elo tega sih ngebiarin seorang putri kehausan?" rengek Maria.
Anne dan Citra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.
Tiba-tiba dari arah lain, terdengar suara ribut-ribut. Tak lama kemudian tampaklah Dirga dengan pakaian yang tak karuan. Di belakang Dirga ada dua orang lagi yaitu Sasha dan Shintya. Keduanya juga berpakaian tak karuan. Bahkan rambut mereka pun tampak acak-acakan.
Mereka bertiga tampak di gelandang oleh Tian dan guru BK. Ada juga Pak Dayat dan anaknya yang mengikuti mereka di belakang.
"Ada apaan sih itu?" tanya Maria.
"Nah itu Mar. Katanya pengin ada kejadian heboh! Buruan tuh diliput," ujar Anne.
"Emang mereka kenapa?" tanya Maria lagi.
Anne mengangkat bahunya tanda dia tak tahu.
Sementara itu, Dirga, Sasha, dan Shintya terus dibawa ke ruang BK.
"Duduk!" perintah guru BK itu.
Ketiga anak muda itu duduk dengan kepala tertunduk. Entah apa yang sedang mereka rasakan. Apakah mereka malu atau malas bertatapan dengan guru di depannya?
"Bapak mau tanya. Apa yang kalian lakukan di toilet tadi?" tanya pak guru itu.
__ADS_1
Dirga, Sasha, dan Shintya kompak terdiam. Mereka tak ada yang membuka mulutnya untuk bersuara.
"Dirga! Sasha! Shintya! Jawab pertanyaan Bapak. Apa yang kalian lakukan di toilet tadi?"
Pria berperawakan tinggi tegap itu tampak berusaha menahan emosinya saat tak ada satupun dari mereka bertiga yang membuka suaranya.
"JAWAB! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SANA?"
Pria itu tak bisa menahan emosinya lagi kala ketiganya tak menjawab pertanyaannya.
"Saya... saya sedang buang air kecil Pak," jawab Shintya takut-takut.
"Saya... saya sedang ganti pembalut Pak," sahut Sasha.
Dirga masih menutup mulutnya. Dia masih terdiam saat kedua temannya itu menjawab pertanyaan dari sang guru.
"Lalu apa yang kamu lakukan di toilet perempuan Dirga?" tanyanya dengan suara serak.
Dirga berdecak kesal mendengar pertanyaan itu. Dia menatap gurunya itu dengan tatapan kesal dan marah.
"Di toilet ya kencing lah. Mau ngapain lagi?" ujarnya tak sopan.
Wajah guru itu merah padam mendengar jawaban dari anak muridnya itu.
"Terus video ini apa maksudnya?" Kali ini Tian yang bertanya.
Dia sejak tadi mengecek ponsel ketiganya dan mendapati video tak senonoh di salah satu ponsel mereka.
Dirga tersenyum miring. "Bapak nggak tahu apa cuman pura-pura doang? Atau jangan-jangan Bapak udah begituan sama pacar Bapak?" ejeknya.
Tian berusaha menahan diri agar tak terpengaruh perkataan Dirga. Dia tak ingin terpancing emosinya hanya karena perkataan bernada provokatif dari anak didiknya itu.
"Jawab Dirga! Maksud video ini apa?" Tian mengulangi pertanyaannya sembari menunjukkan video itu ke hadapan Dirga.
Lagi-lagi Dirga tersenyum miring. Dia tak pantas menjawab pertanyaan dari gurunya itu.
"Jawab Dirga!" bentak guru BK.
"Kalau saya nggak mau jawab. Bapak mau apa?" tantangnya.
Wajah guru BK itu merah padam. Dia sudah merasa geram dengan tingkah anak didiknya yang terkenal pembuat onar itu.
Tiba-tiba....
PLAK! PLAK!
"Dasar anak tak tahu diri!"
__ADS_1