
"Grisella, jika kamu berani menoleh sedikit kebelakang berarti kamu adalah seorang penghianat besar! terus belajar... jangan pedulikan dia." gumam Grisella.
Nathan, kembali mencoba untuk bangkit, dan mengejar Grisella. Itu semua Nathan, lakukan karena ia tidak ingin kehilangan nya begitu saja. "Aku harus mengejarnya! sebelum aku mengetahui namanya akan aku cari dia sampai dapat. Ini adalah sumpah ku!"
Nathan, sempat mengejar Grisella, dengan keadaan kakinya yang masih terkilir, dan karna hal itulah ia kurang cepat untuk mengejar Grisella, di tambah dengan keramaian orang-orang di pesta, itu semua hanya menambah hambatan Nathan untuk mengejar Grisella.
"Tunggu! aku mohon! beri tau namamu saja agar aku tau. Kenapa kamu begitu enggan untuk memberitahu ku?!" ujar Nathan,
Lagi-lagi Grisella, hanya terdiam dan terus berjalan menjauh dari Nathan, tanpa melirik ke belakang sedikit pun. Namun di balik itu hati Grisella, merasakan detakan jantung yang begitu hebat, ia bertanya pada dirinya sendiri, "apakah aku benar-benar sedang merasakan jatuh cinta kepada anak dari musuh keluarga ku sendiri?"
Namun, ia tetap memaksakan hatinya untuk dapat melawan itu semua, dan mengelak bahwa ia menyukai Nathan. Grisella, pun memutuskan untuk kembali ke rumah saja, karna itulah jalan terbaik bagi dirinya.
"Tidak, tidak, tidak! aku sama sekali tidak mencintai Nathan, di hatiku hanya ada Harry, seorang. Sebaiknya aku pulang saja untuk menghindari kejaran Nathan." ujar Grisella, yang kelihatan nya sangat tergesa-gesa untuk segera keluar dari asrama.
Akan tetapi lagi-lagi Nathan, melihat Grisella, yang sedang buru-buru keluar dari asrama, ia pun berusaha kembali untuk mengejar Grisella, namun Lidia tiba-tiba datang dan menghadang nya.
"Nathan! kamu mau kemana?" tanya Lidia.
"Minggir! aku mau ngejar seseorang." jawab Nathan.
"Siapa? wanita cantik itu? kenapa kamu malah jadi seperti ini Nathan? mana harga dirimu?"
"Harga diri? aku sudah tak punya lagi harga diri Lidia! kenapa kamu terus-menerus menghalangiku?" dengan suara yang tegas Nathan, bertanya.
"Aku hanya melakukan hal yang baik untuk mu Nathan! wanita sombong sepertinya tidak perlu kamu kejar! kenapa Nathan? kenapa? kenapa kamu tidak pernah melihat ku sedikit pun?!"
"Belum tentu hal yang baik menurutmu itu baik juga untuk ku Lidia! wanita yang sombong di sini adalah kamu Lidia! dan karna kesombongan mu itu juga yang membuat diriku sengsara seperti ini." bentak Nathan.
"Na-Nathan... apa maksudmu? hiks..." tanya Lidia, yang mulai meneteskan air matanya.
Di karenakan Nathan, paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis, akhirnya ia pun menurun'kan emosinya, dan langsung menggendong Lidia, ke lantai dua. "Lidia... jangan menangis aku mohon, maafkan aku karna telah membentak mu terlalu keras. Ayo sini aku bawa kamu ke lantai dua, sudah yah jangan menangis lagi."
Di karenakan para tamu melihat Nathan, yang menggendong Lidia menuju ke lantai dua seketika membuat kehebohan di aula. Mereka mengatakan bahwa Nathan, memanglah sangat cocok jika bersanding dengan Lidia.
"Lihatlah di sana, bukankah itu Nathan Jian? siapa wanita yang ia gendong itu?" tanya para tamu di sana.
"Ouh apakah itu adalah Lidia Tang? anak dari wakil kepala di asrama ini?" jawab tamu lainnya.
"Wah mereka sangat cocok yah... seorang putra tunggal di keluarga besar, bersanding dengan seorang putri wakil kepala asrama yang bermartabat."
"Iyah kamu benar sekali."
__ADS_1
Sebenarnya Nathan, semakin merasa sedih karna ia tidak dapat mengejar wanita yang baru saja membuat hatinya merasakan hangatnya cinta yang sesungguhnya. "Andaikan aku tidak melakukan hal yang terburu-buru, mungkin sekarang aku sudah mengetahui namanya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di lantai dua, Nathan meminta izin pada Lidia, untuk menenangkan fikiran nya bersama teman-temannya. Namun Lidia menolak, dan malah sebaliknya meminta Nathan untuk menemani nya sebentar. Mau tidak mau Nathan, pun harus menuruti apa yang di ingin kan oleh Lidia.
"Lidia, tenangkan lah dirimu. Sudah yah jangan menangis lagi?" ujar Nathan, yang mengusap sebagian air mata Lidia, yang terjatuh ke pipinya.
"Eumm baiklah. Habisnya Nathan, keliatan sangat menakutkan kalo lagi marah kaya tadi." jawab Lidia.
"Iyah-iyah maafkan aku yah? yasudah kalo begitu aku akan menenangkan fikiran ku dulu di kamar bersama teman-teman ku."
"Apakah kamu tidak bisa menemani ku lebih lama?" tanya Lidia.
"Baiklah, aku akan menemani mu selama lima belas menit, setelah itu panggilah teman-teman mu untuk ke sini. Kamu juga tidak mau kan jika aku membentakmu seperti tadi? maka izinkan aku untuk menenangkan fikiran ku." jawab Nathan, yang mengalah demi Lidia.
"Baiklah, yang terpenting sekarang adalah Nathan, mau menemani ku terlebih dahulu."
"Iyah akan aku temani." ujar Nathan.
Lalu singkatnya lima belas menit kemudian. Lidia, segera memanggil teman-teman nya untuk naik ke lantai dua.
"Sudah lima belas menit, aku pergi dulu." ujar Nathan, yang segera meninggalkan Lidia, sendirian.
Nathan, hanya terdiam dan tidak berkata apapun lagi pada Lidia, ia hanya fokus untuk berjalan menuju ke kamarnya.
"Sebaiknya aku menelfon teman-teman ku sekarang, karena ada gosip terbaru yang harus aku ceritakan." gumam Grisella.
...Isi pembicaraan di telefon...
"Halo Dhea?"
^^^"Halo Lidia, ada apa? aku di lantai satu."^^^
"Naiklah ke lantai dua, dan temani aku di sini."
^^^"Lhoh kok? bukah kamu tadi sama Nathan, ke atas?"^^^
"Ceritanya panjang, sekarang temenin dulu aja sini."
^^^"Si Wulan ajak jugakan?"^^^
__ADS_1
"Yaiyalah... walaupun dia itu rada o'on, tapi dia juga masih temen kita."
^^^"Hahahaha... oke-oke, aku kesana sekarang."^^^
Sesampainya Dhea, dan Wulan, di lantai dua. Lidia, langsung menceritakan semua hal tentang apa yang baru saja terjadi.
"Ah kalian lama banget, sini duduk aku mau cerita." ujar Lidia.
"Cerita apaan? gas aja." jawab Wulan.
"Jadi tadi tuh aku liat si Nathan, lagi ngejar-ngejar gadis cantik itu, nah trus aku gak terimakan? yaudah aku hadanglah dia. Trus Nathan, malah marah-marah sama aku gara-gara dia juga ga terima kalo main di hadang-hadang kaya gitu, akhirnya karna aku udah bingung harus gimana, yaudah aku langsung cari cara buat bikin Nathan gak marah lagi sama aku, dan jalan akhirnya adalah aku nangis deh hahaha... dia langsung baik lagi sama aku, hebatkan?"
"Ouh iyah, si Nathan'kan paling sensitif ngeliat cewe nangis, jadi pantes aja dia langsung jadi baik lagi sama kamu." ujar Dhea.
"Aku sangat beruntungkan punya kekasih seperti dia." ujar Lidia, yang seketika langsung menjadi sombong.
"Iyah deh iyah."
Namun, di sisi lain Nathan segera masuk ke dalam kamarnya, dan meminta Agam, untuk memijat kakinya karena ia mulai merasa sangat kesakitan.
"Agam! Dias!" teriak Nathan.
Krek...
Agam, membukakan pintu. "Eh... kamu kenapa Than? berantem?"
Dias, langsung segera datang ke depan pintu ketika ia mendengar Agam berkata seperti itu. "Bawa masuk dulu Agam! lu mah ah... temen lagi kesakitan juga."
"Ou ya maaf-maaf, biar aku bantu kamu berjalan." ujar Agam, yang mulai memapah Nathan, untuk berjalan.
"Gam, please... tolong pijitin." ujar Nathan, sambil memohon.
"Tapi sambil cerita ya?" jawab Agam.
"Iyah-iyah, jadi ceritanya aku tuh bawa perempuan cantik itu ke taman yang kita buat, eh mungkin dia risih karna sikap yang aku tunjukin tuh terlalu terburu-buru, dan singkatnya dia ngedorong aku sampe jatoh, dan jadinya ke kilir kaya gini, trus dia tiba-tiba kabur gitu aja. Aku berusaha buat kejar tuh, pas lagi ngejar si Lidia malah ngalang-ngalangin, mana kaki sakit banget, bikin emosi aja'kan? trus gak sengaja kebentak eh... malah nangis, yaudah gak ada jalan lagi selain ngajak dia ke atas, gendong deh sampe lantai dua."
"Hahaha... makannya jadi orang jangan terlalu mengasihani orang, jadinya gini kan." ujar Agam.
"Repot sendirikan jadinya? ntar lagi liat dulu cewe mana yang lagi nangis, si Lidia mah paling cuman akting." sambung Dias.
"Ah yaudahlah bodoamat, yang penting pinjitin dulu kaki." seru Nathan.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa Like + Komen + Share and Vote🖤