Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 25 : Rasa cemburu Harry


__ADS_3

"Grisella... kenapa harus Rangga, yang lebih berharga? sedangkan aku yang mencintaimu tak pernah kamu lihat sedikit pun. Apa kelebihan nya? dia belum tentu mencintaimu Grisella! hanya aku yang dapat mencintaimu setulus ini." gumam Harry, yang sedang merasa sangat cemburu ketika melihat Grisella, yang menggandeng erat tangan Rangga, dengan senyuman manis yang terpampang di pipinya.


Grisella, melakukan aktifitas nya seperti biasa, seolah tidak ada Harry, sebagai beban nya selama ini. Ia seketika langsung begitu sangat sibuk untuk mempersiapkan makan siang untuk Rangga.


"Rangga... Aga! Aga! cepet sini Aga!" panggil Grisella, sambil terus berteriak.


"E-eh... eh... turunkan nada suaramu, ada apa? tumben sekali kamu memanggil dengan nama panggilan itu." ujar Rangga.


"Eumm... karna lucu, aku suka panggilan itu, hanya saja aku belum berani untuk mengatakan nya." jawab Grisella.


Rangga, dengan gemasnya langsung mencubit pipi Grisella. "Utututu... kenapa harus malu? aku ini sepupu mu lhoh! apakah karna kamu mencintaiku? jadi kamu merasa malu, hahaha..."


Wajah Grisella, langsung berubah menjadi merah karna malu. "Eh tidak! tidak! mana mungkin aku akan menikahi anak dari adik ibuku Wle!"


"Siapa bilang yang mau menikah? aku hanya mengatakan apakah kamu mencintaiku. Hmm... sepertinya benar, kamu mencintaiku kan?" ujar Rangga, yang semakin menyudutkan Grisella.


"Aga! jangan gitu, lihat saja nanti aku akan menemukan seorang calon suami yang lebih tampan darimu! ya atau aku akan mengambil salah satu teman mu saja, ingat itu!" seru Grisella.


"Hahaha... iyah deh iyah, aku tunggu pembuktian nya."


"Udah deh diem! aku mau masak."


"Yaudah sini di bantuin."


Harry, yang melihatnya dari jauh hanya bisa diam, dan menunggu dirinya di panggil oleh Grisella. Namun setelah beberapa saat ia menunggu, tiba-tiba ia mendengar suara Grisella, dan Rangga, yang sedang membicarakan perencanaan kaburnya Grisella, dari rumah.


"Aga, bagaimana dengan rencana yang sudah kita buat? apakah akan berjalan dengan lancar?" tanya Grisella.


"Kita coba saja nanti malam oke? semuanya pasti aman. Karna para penjaga juga manusia, mereka pasti merasa mengantuk di jam tiga subuh, jadi kita akan melarikan diri sekitar jam tiga subuh, oke?" jawab Rangga.


"Hahaha... oke!"


Harry, yang tidak sengaja mendengar hal itupun, segera langsung melaporkan rencana mereka pada ayah Grisella. "Rencana? apakah dia sedang membicarakan sebuah rencana untuk melarikan diri dari rumah? ya... aku benar, sudah tidak salah lagi. Sebaiknya aku langsung melaporkan hal ini pada ayah Grisella."


Harry, dengan segera langsung masuk ke dalam ruangan kerja ayah Grisella, untuk memberitahunya. "Om... apakah aku boleh masuk ke dalam? ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu."


"Baiklah, masuk." ujar ayah Grisella, dari dalam ruangan.


Krek...


Harry, masuk ke dalam ruangan ayah Grisella, dan segera menutupnya kembali. "Om ini sangat gawat!"


"Ada apa Harry?" tanya ayah Grisella, yang kebingungan dengan sikap yang di tunjukan oleh Harry.


"Rangga, dan Grisella om! mereka berdua sedang mempersiapkan rencana untuk pelarian mereka dari rumah ini!" seru Harry.


ayah Grisella, pada awalnya masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang di katakan oleh Harry, akan tetapi berita yang di sampaikan olehnya berhasil membuat ayah Grisella, begitu sangat marah pada Rangga, karena telah berani menentang keputusan nya, dan berniat untuk membawa putrinya pergi dari rumah yang menandakan sebuah penghianatan pada dirinya.


"Apakah yang di katakan olehmu itu benar?" tanya ayah Grisella, dengan mata yang menyala kejam.


"Benar om, aku tidak salah mendengar lagi. Tadi mereka membicarakan nya di dapur." jawab Harry, dengan penuh percaya diri.


"Baiklah, sekarang juga aku tetapkan bahwa kamu adalah tunangan Grisella, dan mulai sekarang panggil aku ayah!" seru ayah Grisella, yang sangat bergejolak kemarahan nya.

__ADS_1


Harry, tersenyum licik. "Hmm... baiklah Ayah!"


Dengan segera ayah Grisella, keluar dari ruangan nya bersama Harry, untuk menemui Rangga, dan Grisella, yang sedang ada di dapur.


Tap... tap...


Suara langkah kaki ayah Grisella, yang mulai memasuki dapur.


"Ayah! lihatlah aku membuat apa untukmu." ujar Grisella, yang langsung menyambut ayahnya dengan baik.


Prang... !!!


Piring yang di pegang oleh Grisella, di tepas begitu saja oleh ayahnya.


"A-ayah! kau kenapa? tidak biasanya kau memperlakukan makanan yang aku buat seperti ini." ujar Grisella, yang terkejut dengan perlakuan ayahnya yang cukup kasar padanya.


"Paman... kenapa anda menjatuhkan makanan yang sudah kami buat dengan susah payah..." ujar Rangga, yang segera membantu Grisella, untuk membereskan pecahan kaca.


"Diamlah! Dasar Kalian Berdua Adalah Penghianat!" bentak ayah.


Seketika Rangga, dan Grisella, melirik dengan cepat ke arah ayah Grisella, dengan keadaan hati yang mulai berdetak dengan cukup keras.


"Maksud mu ayah/paman!" ucap Rangga, dan Grisella, secara bersamaan.


"Aku sudah tau semuanya! kalian sudah merencanakan tentang pelarian kalian dari rumah ini kan? sudah ku duga Rangga! kau adalah pengacau di rumah ini. Tidak tahu terimakasih! keluarga Yudisti lah yang telah merawatmu selama ini." ujar ayah Grisella, yang semakin naik amarahnya.


"Ma-maafkan aku paman, tapi aku harus melakukan hal ini demi Grisella." Rangga, segera berdiri, dan menggendong Grisella, di pangkuan nya.


"Kenapa kamu malah menggendong Grisella?" tanya Harry.


"Karna aku takut kakinya terluka karna pecahan piring, dan juga aku takut jika ia akan di jodohkan dengan paksa dengan mu, maka oleh sebab itu aku harus melakukan... ini..." Rangga, langsung berlari ke arah pintu belakang dapur untuk melarikan diri.


"Sial! kejar bajingan kecil itu, cepat!" seru ayah Grisella.


"Baik ayah!" jawab Harry, yang segera berlari mengejar mereka.


Namun, karna kepintaran yang di miliki oleh Rangga, ia sudah mempersiapkan semuanya dari awal. Setelah berlari sekitar tiga meter ke arah semak-semak ia langsung menaiki kuda untuk keluar dari gerbang, dan untung saja ia pun sudah memberitahu kepada para penjaga gerbang, jika suatu saat ia menaiki seekor kuda bukakanlah gerbang dengan segera. Dan akhirnya iapun dapat kabur dengan sangat mudah.


Hiya... !!!


Rangga, segera melajukan kudanya dengan cepat ke arah gerbang yang sudah di bukakan oleh para penjaga.


"Apakah semua ini sudah di rencanakan juga oleh si Rangga?" Gumam Harry, yang masih terus berusaha untuk mengejar Grisella, dan Rangga.


Di sisi lain Grisella, dan Rangga, yang telah berhasil keluar dari rumah pun tertawa bahagia, karna akhirnya ia dapat merasakan hawa udara segar di luar rumah. Namun tidak lupa Rangga, tetap harus merahasiakan identitas Grisella, sebelum ia berhasil sampai di rumah nya dengan cara memakaikan Grisella, sebuah cadar untuk menutupi sebagian wajahnya.


"Hahaha... aku sangat senang! akhirnya kita bisa kabur dari rumah." seru Grisella.


"Ya tapi aku sangat bingung, dan juga sempat putus asa bahwa rencana ini tidak akan pernah berhasil." jawab Rangga.


Grisella, langsung memeluk lembut badan Rangga. "Selama kita bekerja sama semuanya pasti akan berjalan dengan lancar, Aga."


"Eumm ya pasti." jawab Rangga.

__ADS_1


Mereka berdua melarikan diri ke arah hutan utara, yang di kenal sebagai hutan terindah yang ada di kota itu.


"Ini namanya hutan, apakah kamu suka dengan pemandangan nya?" tanya Rangga.


"Aku sangat menyukainya! terimakasih Aga." jawab Grisella.


"Sama-sama keponakan ku yang seumur, hahaha."


Namun sayang nya baru saja mereka menempuh setengah perjalanan. Tiba-tiba Harry, dapat menemukan mereka yang sedang melajutkan perjalanan dengan keadaan kuda yang melaju sedikit lambat ke arah hutan selanjutnya.


Dengan hati-hati Harry, mempersiapkan anak panah nya untuk memanah kuda yang di tumpangi oleh mereka berdua, dan ketika keadaan di sekitar sudah aman, dengan segera ia pun langsung menembak kedua kaki kuda itu dengan dua panah, yang seketika membuat Grisella, terlempar dari atas kuda dan langsung terperosok ke dalam jurang.


Wush...


Harry, meluncurkan anak panahnya. "Tidak akan pernah ku biarkan kalian dapat bersama!"


Hiya... !!!


Seketika kuda itu langsung meluncurkan mereka berdua jatuh, akan tetapi berbeda dengan Grisella, yang terlempar ke sisi jurang.


"Aga!" teriak Grisella.


Rangga, melihat ke sekitar, dan melihat Grisella, yang ada di ujur akar pohon yang menjalar. "Tunggu aku! aku akan menyelamatkan mu!"


Rangga, segera berusaha untuk kembali berdiri, walau rasanya cukup sakit, namun semua usaha nya cukup lambat bagi Grisella, yang akhirnya ia meminta maaf terlabih dahulu sebelum terjatuh.


"Rangga! cepat! sebentar lagi aku akan jatuh hiks..."


"Iyah tunggu! aku sedang berusaha untuk merangkak dan berdiri!" jawab Rangga, yang semakin memaksakan diri.


"Aga! maafkan aku, karna aku kau dalam masalah... selamat tinggal, aku sudah tidak kuat untuk menahan nya."


Wush... Brak!


"Grisella!" teriak Rangga, yang histeris melihat Grisella, yang jatuh di depan matanya sendiri.


Tap... tap...


Harry, mulai melangkah mendekat ke arah Rangga. "Lihatlah Rangga! karna mu wanitaku harus jatuh ke jurang. Jika aku tidak bisa mendapatkan nya, maka kau juga tidak!"


Melirik ke arah Harry, dengan keadaan mata yang merah, badan yang masih bergetar dengan cukup hebat, dan tangis yang mulai membasahi pipinya. "Bajingan! bukan karna diriku semua ini terjadi! jika saja kau tidak menembak kaki kuda kami dengan menggunakan anak panah... Grisella, pasti akan selamat sampai tujuan!"


"Berhentilah berbicara! dasar bodoh!" seru Harry.


Bug...


Harry, langsung memukul kepala Rangga, menggunakan kayu hingga ia langsung jatuh pingsan. "Diamlah! atau akan ku buat kau diam selamanya."


"Penjaga! cepat turun ke jurang, dan cari Grisella. Segera bawa ke kediaman Jonathan, lalu panggil dokter Daniel, untuk menyelamatkan nya, jika tidak bisa bunuh saja dokter itu." ujar Harry, yang langsung memerintahkan para pengawal untul menyelamatkan Grisella.


"Baik tuan Harry!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2