
Nathan, segera mengantar Grisella, pulang sebelum matahari tenggelam. Di saat Nathan, telah beranjak dari kamarnya seketika Agam, segera mengatakan bahwa mereka harus segera menceritakan kebenaran topeng itu kepada Nathan.
Brak!
Agam, menggeprak meja yang ada di depan nya. "Teman-teman! kita harus segera membicarakan soal topeng yang kita temukan itu pada Nathan, dengan segera!"
Dengan raut wajah yang terkejut Dias, langsung membentak Agam. "Astaga! Agam! kenapa harus mukul meja segala sih? bikin was-was orang aja."
"Ya siapa suruh punya jantung lemah begitu? Rangga, biasa aja tuh." jawab Agam.
"Sudah-sudah... benar kata Agam, akan tetapi hanya caranya saja yang salah. Coba bayangkan bagaimana perasaan Nathan, setelah mengetahui kebenaran ini?" ujar Rangga.
"Tentu saja ia akan merasa sangat bahagia, karna firasat nya selama ini ternyata benar kenyataan nya." jawab Dias.
"Betul sekali, menurut kalian berdua rencana apalagi yang akan Nathan, rencanakan untuk kedepan nya?" tanya Rangga.
Agam, menjawab dengan percaya diri. "Menurutku Nathan, pasti akan segera mengungkap identitas aslinya, dan setelah itu menjadikan Sella, sebagai kekasihnya."
"Kalo menurutmu Dias?"
Dias, menjawab dengan bijak. "Menurutku Nathan, akan mengambil sebuah ancang-ancang untuk mengupas sedikit demi sedikit dari identitas Sella, dengan cara mengumpulkan bukti, dan menurutku jika Nathan, langsung menjadikan Sella, sebagai kekasihnya itu sangatlah tidak mungkin, karena sejauh penilaian ku Sella, adalah tipe seorang wanita yang tidak gampang untuk percaya pada seorang pria."
Agam, mengerutkan alisnya, dan berkata di dalam hatinya. "Kalian berdua hanya tidak tau saja... bagaimana mereka berdua begitu sangat akrab di dapur."
__ADS_1
Rangga, pun akhirnya menyimpulkan kedua jawaban dari sahabatnya itu. "Baiklah akupun percaya bahwa Nathan, tidak akan jauh membuat rencana seperti apa yang kalian katakan."
"Yaps... marilah kita tunggu ia kembali." ujar Agam, yang menyanggahkan kakinya ke atas meja.
"Ngopi dulu nggak?" tanya Rangga.
"Boleh tuh." jawab Agam, dan Dias, secara bersamaan.
"Baiklah, tunggu sebentar biar aku buatkan langsung dengan hasil tangan ku sendiri." ujar Rangga, yang segera pergi meninggalkan kamar Nathan, untuk membuat kopi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nathan, pasti akan sangat bahagia jika ia mengetahui bahwa wanita bertopeng di pesta itu adalah memanglah Grisella.
"Sell..." panggil Nathan, yang ingin berbasa-basi sebentar dengannya.
"Ya ada apa? terimakasih telah mengantarku sampai ke rumah." jawab Grisella, sambil turun dari mobil.
"Eumm... ya sama-sama. Sella, jika kau butuh jemputan untuk pergi ke asrama, kau boleh kabari aku." ujar Nathan, dengan raut wajah yang sedikit grogi.
Grisella, yang mendengarbnya begitu sangat tersanjung dengan tawaran nya, akan tetapi ia pun kembali tersadar bagaimana perasaan Harry, nantinya.
Maka oleh sebab itu Grisella, pun hanya menjawab nya dengan singkat. "Ya kapan-kapan saja."
__ADS_1
"Kok kapan-kapan?" tanya Nathan.
"Eumm... a-aku pasti akan menghubungimu jika aku membutuhkan kendaraan." jawab Grisella, yang seketika langsung salah tingkah saat melihat tatapan Nathan, yang begitu dalam padanya.
"Bagaimana bisa kau akan menghubungiku jika kau saja tidak memiliki nomerku?"
"O-oh... iyah lupa... lupa... maaf yah, kalo gitu berapa nomer mu biar aku save ke dalam handphone ku."
Nathan, tersenyum manis di hadapan Grisella. "Eum baiklah 0xxxxxx, coba lihat apakah kau benar-benar menyimpan nya atau tidak."
Grisella, menyodorkan handphone nya pada Nathan. "Lihatlah sendiri."
Mengecek-mengecek. "Baiklah... terimakasih, kalo begitu aku pulang dulu yah. Berhati-hatilah di rumah."
Grisella, melambaikan tangan nya ke arah Nathan. "Da-dah... Nathan, sampai jumpa besok."
Grisella, pun segera masuk ke dalam rumahnya tanpa ada rasa curiga bahwa rumahnya telah berhasil di geledah oleh teman-teman Nathan.
Bersambung...
Jangan lupa mampir yah ke novel di bawah ini.
__ADS_1