
Waktu masuk kelas pun akhirnya tiba. Nathan, masuk ke dalam kelas bersama teman-temannya. Nathan, hanya terdiam, dan kelihatan nya sangat murung ketika memasuki kelas. Grisella, yang melihatnya pun mencoba untuk bertanya.
Grisella, memutarkan badan nya ke belakang, yang tujuan nya adalah untuk mengajak ngobrol Nathan. "Ketua osis, apa yang telah terjadi padamu? tumben sekali kamu kelihatan nya sangat murung."
"Tidak apa-apa, kau juga tumben bertanya padaku, apakah sikap ku terlalu mencolok?" jawab Nathan, yang bertanya balik pada Grisella.
"Eum... iyah sedikit mencolok, terus apakah kaki mu baik-baik saja?"
"Apa itu juga sangat mencolok yah? kaki ku sedang sakit."
"Ke-kenapa? apakah kaki mu itu terkilir? atau bengkak?" tanya Grisella, yang sedikit hawatir.
"Hanya terkilir, kemarin juga udah di pijitin sama Agam, besok juga sembuh." jawab Nathan.
Grisella, seketika langsung merasa bersalah karena telah mendorong Nathan, sangat keras tadi malam. Ia pun bergumam di dalam hatinya. "Gawat! sepertinya aku mendorong nya terlalu keras, maafkan aku Nathan, aku sungguh tidak sengaja."
"Apakah kamu sedang menghawatirkan ku?" tanya Nathan, sambil menyanggahkan kepalanya di tangan.
"Tidak! tidak! aku hanya ingin bertanya, karena ekspresi mu itu sangat berbeda dari yang biasanya." jawab Grisella.
"Memang nya kamu sudah bersekolah berapa lama di sini? hingga kamu dapat menilainya seperti itu?"
"Ya aku udah mau satu minggu di sini, memang nya kenapa? bukan berarti karena baru satu minggu aku tidak dapat menilai mu yah!" seru Grisella.
"Hahaha... baiklah, aku hanya bercanda."
"Oh ya ketua osis, ada hal yang mau aku tanyakan padamu."
"Boleh, apa yang akan kamu tanyakan, pasti akan aku jawab."
"Tentang pengumuman yang kamu umumkan itu, kenapa kamu bisa sampai senekat itu untuk mencari wanita yang ada di pesta semalam? apakah dia sangat berharga untukmu?" tanya Grisella.
__ADS_1
Nathan, pun menjawab, "Iyah dia sangatlah barharga untuk ku, dan aku ingin menemuinya sekali lagi, untuk melihat wajah cantik di balik topeng itu."
Kata-kata yang di ucapkan oleh Nathan, itu membuat hati Grisella, semakin bergetar. "Eumm begitu, tapi bagaimana jika ternyata di balik topeng itu wajahnya sangat jelek, hahaha..."
"Kamu jangan menghina wanitaku yah!" seru Nathan.
"Dih wanita mu? gadis itu belum tentu mau dengan mu hahaha..."
"Sembarangan yah kalo ngomong!"
Namun, sayang nya di saat Grisella, dan Nathan, sedang tertawa bersama lagi-lagi Harry tak sengaja melihat kedekatan diantara kekasih nya, dengan seorang dari musuh dari keluarga nya sendiri.
Tak tahan lagi ia dengan amarahnya Harry, tiba-tiba masuk ke dalam kelas Grisella, dan meminta Grisella, untuk menemui dirinya di taman setelah jam pelajaran selesai.
"Wanita itu malah tertawa bersama lelaki lain?! apalagi dia adalah musuh nya, kenapa Grisella? kenapa? tak bisa di biarkan." gumam Harry, terlihat sangat jelas di matanya penuh dengan amarah pada Grisella, dan Nathan, sampai-sampai tangan nya terus bergetar karna berusaha untuk menahan amarah nya itu.
"Lupakan saja! aku sudah tidak tahan lagi." ujar Harry, yang langsung masuk ke dalam kelas Grisella.
Brak...
"Harry! itu Harry, kenapa dia tiba-tiba datang, dan membuat keributan?" bisik salah satu teman sekelas Grisella.
"Dan kenapa dia malah memanggil nama Sella?! sebenarnya apa yang telah ia lakukan? bisa-bisanya ia malah membangun kan singa tenang yang sedang tertidur." sambung salah satu teman yang lainnya.
Grisella, langsung terkejut dengan kedatangan Harry, yang secara tiba-tiba ke dalam kelasnya. "A-ada apa Harry? kenapa kamu mendadak memberitahu hal ini, apakah kita punya masalah?"
"Sudahlah pada intinya temui aku!" jawab Harry, dan dengan langsung nya ia pun segera meningginggalkan kelas Grisella.
"Sella! apa yang telah terjadi? apakah kamu telah menyinggung Harry? bahaya kalo gitu." tanya salah satu teman di kelasnya.
"Iya Sella, kamu jangan main-main lhoh sama Harry!" seru teman lainnya, yang menjadi propokator.
__ADS_1
"Hahaha... kalian lihat sendiri bukan? baru saja ia menyinggung Lidia, dan ternyata sebelum itu ia sudah menyinggung Harry, terlebih dahulu. Tak ku sangka wanita yang berpenampilan sepertinya sangat suka menimbulkan perselisihan, apalagi mereka berdua memiliki status sebagai keluarga bermarga besar." ujar Dhea, yang malah menambah panas suasana kelas.
"Jaga bicara mu Dhea! aku sama sekali tidak pernah menyinggung Harry, dan mungkin saja ia hanya ingin menemui ku." seru Grisella.
"Tapi sebelum nya aku pernah mendengar dari kelas lain bahwa mereka pernah melihatmu di taman bersama Harry, dan kelihatan nya hubungan mu dengan Harry, itu sangatlah akrab. Akan tetapi kenapa sekarang malah seperti ini?" tanya salah satu teman di kelas Grisella, yang pernah mendengar gosip tentang Grisella.
"Waktu di taman aku dan Harry, hanya sekedar menyapa sekaligus saling menukar nama, itu hanya berita bohong, jangan gampang percaya." jawab Grisella.
"Dia benar kok Sella, dia juga tidak menyebarkan berita bohong! karena aku pun ikut melihatnya sendiri, dan kelihatan nya kamu sangat bahagia di saat Harry, menyapa mu." ujar Dhea.
"Hanya sekedar menyapa, apakah tidak boleh? dan benar katamu bahwa aku merasa bahagia saat di sapa oleh Harry, aku sangat bahagia karena kami bisa bertemu kembali, dan berpura-pura sebagai orang yang asing dengan cara saling menukar nama. Memang nya kamu tidak tau bahwa aku pernah bekerja di rumah Harry?!" seru Grisella.
"Hah? be-bekerja?" tanya Dhea.
Grisella, terpaksa untuk memperpanjang kebohongan nya itu, karena sudah tidak ada jalan keluar lagi baginya untuk menyangkal segala tuduhan yang mereka tujukan untuknya.
Nathan, yang sudah tidak tahan ingin membela Grisella, pun akhirnya mengeluarkan pembelaan nya. "Sudah cukup! jangan di perpanjang lagi, jika itu memang kebahagiaan Sella, kenapa kalian harus ikut campur?"
Lidia, yang awalnya hanya terdiam seketika ikut angkat bicara. "Iyah sudahlah Dhea, biarkan saja."
"Lidia? ka-kamu kok malah belain dia?" tanya Dhea.
"Aku tidak membela siapa-siapa di sini, tapi sudah cukup. Sekarang sudah waktunya masuk kelas, dan guru pun akan segera datang, jika tidak di selesaikan ini akan membuat perdebatan yang panjang." jawab Lidia.
Dhea, yang telah mendengar penjelasan dari Lidia, pun seketika terdiam, dan memilih untuk menuruti apa yang ia katakan padanya.
"Baiklah, semuanya diam, tidak ada keributan lagi!" seru Nathan.
Grisella, pun langsung berubah menjadi murung, dan terdiam. Padahal pada awalnya ia sudah sangat ceria, namun tiba-tiba hal ini terjadi, yang membuat hatinya seketika menjadi hancur.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa Like + Komen + Vote + Share 🖤
Di tunggu up bab selanjutnya.