
Di sisi lain Abi, yang melihat Grisella, dengan mata kepalanya sendiri bahwa ia di gendong oleh Nathan, keluar masuk kamarnya segera memberitahukan hal itu pada Aditya.
"Gawat! Nona muda malah bisa-bisanya tidak berontak setelah ia di gendong bulak-balik keluar-masuk kamar seperti itu. Pokoknya aku harus segera memberitahukan hal ini pada Tuan muda." Gumam Abi, yang segera mengeluarkan handphone nya untuk menelfon Aditya.
"Pokoknya aku harus menelfon Tuan muda sekarang juga."
Drtt... berdering...
^^^"Ya ada apa Abi? apakah ada informasi penting?" tanya Aditya.^^^
"Tuan! ini sangat penting... karena aku melihat Nona Muda, di gendong oleh Tuan Muda Tunggal keluarga Jian. Terus apalagi sampe keluar masuk kamar, apakah anda tidak akan menghawatirkan hal ini?" jawab Abi, yang berbisik-bisik.
Ketika Aditya, di beritahu mengenai hal itu ia pun segera menebak rencana Grisella, bahwa sebenarnya adiknya itu hanya sedang memanipulasi keadaan untuk mendekatkan diri pada Nathan.
__ADS_1
^^^"Kau jangan hawatir, adikku itu sangat bisa di andalkan, ia hanya sedang melaksanakan tugasnya saja, dan berusaha untuk mendalami karakter yang sedang ia mainkan sekarang." jawab Aditya, dengan nada suara yang tenang, tanpa ada rasa hawatir seperti apa yang di bayangkan oleh Abi.^^^
"Tuan... Mengapa kau begitu mempercayai adikmu itu?"
^^^"Karna hanya dialah yang dapat aku percayai sekarang. Selain Ibu, aku hanya percaya padanya."^^^
"Baiklah. Oh ya! Tuan, aku ingin memberitaumu bahwa ternyata Rangga, sudah kembali ya... lebih tepatnya ia sudah berada di sini lagi, dan sepertinya ia adalah sahabat dekatnya Tuan Muda Tunggal."
Secara tiba-tiba pupil mata Aditya membesar karna ia merasa sangat terkejut dengan informasi kedua yang di sampaikan oleh Abi, itu. Ia pun tersenyum tipis dengan raut wajah yang tak senang, karna ia tahu bahwasanya Aditya, tidak akan mengenali wajahnya dan juga wajah Grisella, lagi.
^^^"Emm... baiklah, aku matikan telfonnya, lanjutkan saja pekerjaan mu." ujar Aditya, yang segera matikan telfonnya karna ia sudah tidak dapat menahan air matanya lagi.^^^
Tutt...
__ADS_1
"Tu-tuan Muda... kebiasaan kalo belum beres ngomong pasti main langsung matiin aja." gumam Abi.
Rangga, mungkin dapat melupakan bentuk rupa wajah mereka akan tetapi ia masih mengingat semua memory yang pernah ia lalui, hanya saja ia sangat kesulitan jika di paksa untuk mengingat semua rupa wajah mereka.
Aditya, begitu sangat menyayangi kedua adiknya itu, sampai-sampai ketika mereka masih kecil Aditya, selalu memberikan barang yang sama kepada mereka berdua, tujuan nya agar salah satu dari mereka tidak ada yang merasa iri dengan pemberian nya.
Namun, ia ingat bahwa semua hal yang sedang ia fikirkan sekarang itu hanyalah tinggal kenangan, entah apa yang harus Aditya lakukan akan tetapi lebih baik ia menyimpan perasaannya ini sendirian.
Dengan air mata yang mulai mengalir Aditya bergumam. "Bagaimana aku tak merindukan kalian berdua? karna kalian berdua selalu menghiasi hatiku setiap harinya. Mungkin aku ini adalah seorang kakak yang paling buruk untuk kalian berdua. Walaupun aku hanyalah kakak sepupu bagi Rangga, akan tetapi ia sudah ku anggap sebagai adik kandungku sendiri."
"Aku percaya padamu Rangga, walau kau melupakan wajah kami akan tetapi perasaan mu itu tetap sama, dan gambaran buram yang ada di fikiran mu itu akan tetap ada bentuk dan warnanya. Cepatlah sembuh Rangga, dan bantulah kakak untuk menyelamatkan mu masuk kembali ke dalam keluarga kami."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa mampir yah ke novel di bawah ini