
Singkatnya mereka bertigapun sampai di kediaman Jian. Namun, di saat mereka mulai berjalan menaiki tangga rumah untuk menuju ke kamar Nathan, tiba-tiba ada suara tangis yang terlintas di telinga mereka.
Hiks... hiks...
Agam, yang mendengarnya segera menanyakan perihal suara tangis itu pada Rangga. "Ra-Rangga... apakah kamu mendengar suara seseorang yang sedang menangis? atau... jangan-jangan di rumah Jian ini ada hantunya?"
Puk...
Dias, penepuk pundak sahabatnya itu. "Heh! kamu ini laki-laki atau perempuan? ya jelas-jelas kami juga dengar."
"Hadeuh Agam-Agam, berapa usiamu sekarang?" ujar Rangga, yang mulai meledek Agam.
"Diam kau! la-lalu suara siapa itu?" tanya Agam, sekali lagi.
"Untuk lebih jelasnya, mari kita ke lantai dua." jawab Rangga.
"Ba-baiklah." ujar Agam, yang tiba-tiba bersembunyi di belakang badan Dias.
"Dih badan doang yang gede, tapi mental kerupuk." ledek Dias.
"Ah diam! sudah jalan saja." seru Agam.
Sampai di lantai dua, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Lidia, yang sedang menangis, dan tertunduk diam di kursi yang ada di depan pintu kamar Nathan.
"Lidia!" seru mereka bertiga.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? dan kenapa kamu malah menangis di depan pintu kamar Nathan?" tanya Dias.
__ADS_1
"Ya benar... apa yang kau lakukan disini? ada keperluan apa?" sambung Agam.
Rangga, yang memiliki rasa simpati yang tinggi pun akhirnya memutuskan untuk sedikit menenangkan Lidia.
Fyuh...
Rangga, menghembuskan nafasnya terlabih dahulu sebelum ia bertanya pada Lidia. "Apa yang telah terjadi?"
Lidia, dengan spontan langsung memeluk erat tubuh Rangga, dengan tangan nya yang terus bergetar.
Wush...
Karna rasa simpati nya lagi Rangga, langsung mengusap kepala Lidia, dengan lembut dan mencoba untuk menenangkan hatinya agar ia dapat menjawab semua pertanyaan yang mereka tanyakan padanya.
"Tenanglah, jangan takut, aku disini. Bisakah kamu menjawab pertanyaan ku sekarang?" tanya Rangga, sambil terus mengusap kepala Lidia, dengan lembut.
Setelah mendengar jawaban Lidia. Rangga, langsung memeluk balik Lidia, untuk lebih menenangkan hatinya.
"Baiklah-baiklah, sekarang kau boleh tenang, ada aku disini yang akan membantumu. Namun, sebaiknya kau pulang terlebih dahulu saja, karna Nathan, juga butuh menenangkan dirinya untuk dapat memaafkan kesalahan mu, karna aku tau dengan jelas bahwa Nathan, tidak akan bertindak seperti itu jika kau tidak melakukan kesalahan."
Perlakuan Rangga, yang sangat manis kepada Lidia, yang seketika berhasil membuatnya tersanjung, dan langsung menuruti apa yang di katakan oleh Rangga.
"Umm... baiklah, kalo begitu." jawab Lidia.
"Baiklah kalo begitu biar aku antar sampai gerbang depan."
"Te-terimakasih."
__ADS_1
Mereka berduapun akhirnya turun bersama. Namun, pemandangan tadi membuat Agam, dan Dias yang melihatnya begitu merasa jiji karena tak di sangka mereka berdua memiliki dua orang sahabat (Nathan, dan Agam) yang sama-sama dapat dengan mudahnya di bodohi oleh wanita ular seperti Lidia, hanya karna sebuah air mata.
Hoek...
"Jiji liatnya sumpah!" seru Agam.
"Hahaha... kali ini aku setuju denganmu." jawab Dias.
"Sudahlah, hiraukan saja dia. Ayo kita ke kamar Nathan, saja." ujar Agam.
"Heem... cape liat orang polos yang berkedok pandai itu." sambung Dias.
Plak...
Agam, memukul tangan Dias, dengan cukup keras. "Bodoh! mereka berdua memang pandai, hanya saja mereka itu sangat polos, mirip seperti anak usia lima tahun."
Plak...
Balas Dias, yang kembali memukul tangan Agam. "Jelas-jelas apa yang aku katakan tadi itu sama intinya dengan apa yang kau katakan barusan."
"Ouh ya? hehehe... maaf-maaf." ujar Agam, dengan sikapnya yang selalu membuat orang tertawa akan tetapi membuat Dias, kesal.
Bersambung...
Jangan lupa Like - Komen - Suport - Vote and Share❤
Waktunya iklan
__ADS_1