
Brak... !!!
Suara barang yang tak sengaja di jatungkan oleh Agam.
"Agam! bisa kerja gak sih? udah tau semua hal ini harus selesai kita kerjakan besok!" ujar Dias, yang membentak Agam.
"Ya maaf-maaf aku ga sengaja, lagian kenapa sih si Nathan, harus menyewa apartemen segala? padahal dia punya rumah lain di kota ini." keluh Agam.
Rangga, menjawab. "Jika rumah yg ia tempati begitu besar, dan layak, itu pasti akan di curigai oleh Sella."
"Agrh... melelahkan." ujar Agam, yang kembali mengeluh.
Akhirnya mereka pun kembali membereskan barang-barang yang harus mereka bereskan. Namun di tengah-tengah itu Rangga, tiba-tiba menerima telfon dari rumahnya untuk meminta nya cepat pulang karna ayahnya sedang sakit, dan ia sangat ingin menemui Rangga.
Drtt... Drtt...
"Tuh handphone siapa yang bunyi? suara telfon ku bukan bergetar seperti itu." tanya Agam.
"Ouhh nenek ku yang menelfon, sebentar." ujar Rangga, yang segera mengangkat telfon.
...Isi pembicaraan di telfon...
"Ya nek? ada apa?" tanya Rangga.
"Cepatlah pulang! kondisi ayahmu semakin parah, ia terus menerus memanggil nama mu. Cepatlah pulang sayang." jawab sang Nenek.
"Emm baiklah, aku akan segera pulang sekarang." ujar Rangga, dengan raut wajah yang seketika langsung memucat.
"Ada apa Rangga? mengapa wajahmu seketika langsung berubah menjadi sangat pucat?" tanya Agam.
"A-ayahku... penyakit jantungnya semakin parah. Aku di minta oleh nenek ku untuk segera pulang." jawab Rangga.
"Apa?!" seru mereka berdua yang terkejut.
__ADS_1
"Lalu apalagi yang lau tunggu?! cepat pergi, dan temui ayahmu!" seru Dias.
"Eumm ya terimakasih, aku serahkan pekerjaan ini pada kalian, aku pergi dulu." ujar Rangga, yang segera pergi dari apartemen.
"Aku mulai menghawatirkan nya." gumam Agam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua puluh menit kemudian.
Singkatnya Rangga, akhirnya sampai di rumahnya.
"Nenek! Kakek! dimana ayah?!" teriak Rangga, yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Tuan muda... Nyonya, dan Tuan Pratama, sudah berada di dalam kamar Tuan besar." jawab salah satu pembantu di rumah Rangga.
"Baik bi, terimakasih." Rangga, dengan segera langsung masuk ke kamar ayah nya. Ketika Rangga, masuk ke dalam kamar ayahnya ia langsung melihat Nenek, dan Kakenya sudah menangis haru yang membuat hati Rangga, semakin cemas.
Namun, kedatangan Rangga, seketika merubah suasana hati ayahnya itu. Rangga, pun segera mendekat ke arah ayahnya, dan ayahnya dengan seketika langsung memeluk erat anaknya itu.
"Ayah tenanglah... beristirahatlah dengan benar." ujar Rangga, yang segera melepas pelukan ayahnya dengan berlahan.
"Kemana saja kamu selama ini? ayah sangat merindukan mu. Jangan sesekali kau lakukan lagi oke? ayah tidak ingin kehilangan mu."
"Ayah, tidak ada waktu untuk membicarakan hal itu, hal yang terpenting sekarang adalah aku sudah ada di sini oke?"
"Eumm baiklah. Ayah... Ibu... apakah aku boleh berbicara dengan anak ku? eumm maksudku hanya aku, dan Rangga." ujar ayah Rangga, yang meminta izin kepada Nenek, dan Kakeknya Rangga.
"Tentu saja boleh." ujar Nenek Rangga, yang segera mengajak Kakek untuk keluar.
Ayah Rangga, seketika langsung mengeluarkan pulpen, dan kertas untuk menulis surat wasiat. Lalu ia menulis bahwa semua perusahaan yang ia miliki sekarang akan di wariskan kepada Rangga.
Rangga, yang mengetahui bahwa ayahnya sedang menulis surat wasiat'pun segera memarahi nya. "Ayah! mengapa ayah malah menulis surat ini?! kau pasti akan segera sembuh percayalah! tak sepantasnya kau membuat surat ini dahulu."
__ADS_1
"Rangga, dengar... aku harus membuatnya karna umur itu tidak ada yang tau." jawab ayahnya, dengan singkat akan tetapi langsung membuat Rangga, terdiam.
"Eumm... baiklah."
Sepanjang ayahnya menulis surat secara tiba-tiba di akhir ia selesai menulis badannya langsung bergetar dengan cukup hebat. Rangga, sempat akan berteriak akan tetapi ayahnya langsung berkata. "Jangan dulu! ayah mau mengatakan sesuatu padamu, mengenai adik sepupumu, ibumu, dan juga kakak dari ibumu."
Rangga, seketika langsung terdiam, dan siap mendengarkan dengan baik. Ayah pun mulai berbicara dengan ucapan nya yang semakin terbata-bata. "I-ibumu adalah wanita yang sangat... baik, dan ju-juga lemah lembut. Apakah kau ingatkan namanya?... Bella, nama ibumu bagus bukan? ia adalah wanita satu-satunya yang ayah cintai. La-lalu... mengenai kakak dari ibumu, temuilah dia di salah satu pedesaan yang berada di bukit atar, di dekat sungai yang mengalir di bukit itu terdapat 4 rumah, dan salah satunya adalah rumah kakak dari ibumu."
Rangga, pun segera bertanya "Kenapa kakak ibu berada jauh disana?"
ayahnya pun menjawab. "Dua tahun yang lalu ia menjadi gila karna rencana mu untuk melarikan diri dengan putrinya, dirinya begitu tertekan dan akhirnya hilang akal, apakah kau bisa mengingat dengan jelas kejadian itu?"
Rangga, menjawab. "Ya akan tetapi aku tidak mengingat jelas wajah mereka termasuk wajah ibu."
Ayah Rangga, segera mengeluarkan foto istrinya di saat masih muda. "Ini adalah wajah almarhum ibumu, maafkan aku karna selama ini aku telah membohongimu, dan memberitahumu bahwa kami tidak memiliki foto ibumu sama sekali. Asal kau tau saja hanya foto inilah yang dapat ayah selamatkan karna nenek mu lah yang telah membakar foto-foto ayah, dan ibu..." lalu ayah nya berkata lagi dengan nafas yang mulai terengah-engah.
"Huh... huh... si-simpan lah dengan baik foto ibumu itu, karna hanya itu yang ayah punya selama ini, ayah begitu mencintainya, maka oleh sebab itu simpan lah foto ini demi ayah, dan carilah kakak dari ibumu itu, bawalah ia pulang dengan segera... uhuk... uhuk..." ujar ayah Rangga, dengan kondisi yang semakin melemah.
"Ayah... minumlah dahulu." ujar Rangga, yang segera memberikan air minum pada ayahnya.
"Pelan pelan ayah." ayahnya pun meninumnya sedikit.
"Terimakasih, dan yang terakhir nama sepupumu itu adalah Grisella, putri yang selama ini keluarga Yudisti sembunyikan dari pablik. Asal kau tau dahulu keluarga Jian, dan keluarga Yudisti, pernah berteman dengan sangat baik Uhuk... a-akan tetapi perpecahan itu di mulai dari ayah Putra Tunggal Jian, namun ayah tau jelas bahwa... uhuk... uhuk... yang memecahkan mereka... adalah... keluarga bermarga uhuk... uhuk..." Batuk ayah nya itu semakin parah, dan mulai mengeluarkan darah dari mulutnya.
Tanpa fikir panjang Nathan, pun segera memanggil dokter karna panik. "Nenek! kakek! panggilkan Dokter segera!"
Ayah Rangga, mencoba untuk berbicara akan tetapi suaranya terlalu kecil sehingga ia pun berusaha untuk meraih tangan Rangga, akan tetapi ia malah terjatuh. Rangga, yang melihatnya segera menggendong ayahnya itu untuk kembali ke atas ranjang akan tetapi ayahmya kembali menyela.
Dengan senyuman tipis ayahnya berbisik. "Sudah ayah bilang jangan panggil dulu mereka... dasar anak b0d0h haha..ha. Baik dengarkan ayah dulu! uhuk... uhuk... uhuk... ayah mohon persatukan kembali kedua keluarga itu karna ayah sudah tidak mampu lagi, da-dan bongkarlah ke-jahatan dari keluarga..."
Tiba-tiba ayahnya menutup mata dengan senyuman yang menghiasi pipinya. "Ayah! ayah! ayah! keluarga? keluarga apa? ayah! aku mohon buka matamu ayah! kau tidak boleh meninggalkan ku seperti ini ayah! hiks... ayah! aku mohon bangunlah.... Ibu, telah meninggalkan ku maka oleh sebab itu kau tidak boleh aku secepat ini!"
Tim Dokter, Nenek, dan Kakenya pun segera masuk, lalu memindahkan ayahnya kembali ke atas ranjang. Rangga, langsung membentak Tim Medis untuk menyelamatkan nyawa ayahnya kalo tidak ia akan membunuh mereka, akan tetapi Nenek, dan Kakenya pun segera menarik Rangga keluar untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Bersambung.....