Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 29 : Ciuman pertama


__ADS_3

"Emm baiklah, akan tetapi tunggu sebentar aku akan membereskan ruang tamunya dulu." Sebenarnya Grisella, sangat ingin menolaknya mentah-mentah, akan tetapi jika ia menolaknya ia takut akan di curigai. Oleh sebab Grisella, mau tidak mau harus menjamu mereka.


"Eumm baiklah." ujar mereka berempat secara bersamaan.


Grisella, segera menutup pintu, dan segera kembali ke dalam rumah untuk menyembunyikan gaun, dan topeng biru langitnya di bawah ranjang kasur.


"Astaga mereka berempat sangat merepotkan ku." Gumam Grisella.


Setelah itu Grisella, pun kembali membukakan pintu, dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


Krek...


"Ayo silahkan masuk, eumm maaf rumah ku terlalu kecil untuk kalian berempat yang memiliki latar belakang keturunan orang kaya." Ujar Grisella.


"Ah... tidak apa-apa Sella, tenang aja kita berempat gak mandang harta kok." jawab Agam.


"Hahaha... baiklah kalo begitu silahkan masuk."


"Baik terimakasih."


Mereka berempat'pun akhirnya masuk ke dalam rumah Grisella, dengan senyuman gembira di pipi mereka masing-masing, karena mereka telah berhasil menjalankan rencana sesuai dengan ekspetasi.


"Apakah kalian ingin makan cemilan, dan teh?" ujar Grisella, yang menawarkan camilan.


"Ah... sepertinya enak tuh, mau dong mau!" seru Agam, yang bersemangat jika hal itu tentang makanan.


Bag...


Rangga, yang merasa malu seketika langsung menyiku perut Agam. "Kau ini sangat memalukan!"


"Ugh... Ga! biasa aja dong, sakit nih." bentak Agam.


"Sudah-sudah, tidak apa-apa Rangga, tenanglah. Tamu adalah raja, jadi biar aku siapkan dulu cemilan nya ke dapur." ujar Grisella, yang terpaksa harus memperlihatkan senyum palsunya.


Kesempatan ini di gunakan oleh mereka untuk menyelidiki keseluruhan dalam rumah Grisella. Apakah akan ada suatu barang, atau bukti yang dapat mengungkap sesuatu?. Sedangkan Nathan, ia dengan cepatnya langsung menyusul Grisella, ke dapur dengan modus ingin menanyakan kamar mandi.


Tap... tap...


Suara langkah kaki Nathan, yang mulai menyusul Grisella, ke dapur. "Sella, kamar mandi? dimana ya?"


"Ouh... kamar mandi ada di sebelah kiri dari arah ruang tamu." jawab Grisella.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih." ujar Nathan.


Sepuluh menit kemudian.


Nathan, akhirnya selesai dari kamar mandi, dan ia pun segera kembali ke dapur untuk menghampiri Grisella, kali ini dengan modus untuk membantunya menyiapkan, dan membawa cemilan beserta minuman ke ruang tamu.


"Sella..." panggil Nathan.


"Yah? ada apa Nathan?" jawab Grisella, yang bertanya.


"Butuh bantuan? biar aku bantu kau menyiapkan nya." ujar Nathan, dengan sikap membujuknya.


"Eumm... baiklah." jawab Grisella, yang mengizinkan.


"Baiklah terimakasih. Wah-wah... makanan nya banyak sekali, apa ini tidak apa-apa? bagaimana dengan mu nanti?"


"Ayah ku pernah mengatakan bahwa kita harus berlaku baik pada seseorang, sekaligus menjamu orang lain tanpa memikirkan bagaimana jika sisa makanan kita akan habis oleh mereka, karena rezeki itu pasti akan turun kembali." ujar Grisella, sambil tersenyum karena mengingat ayahnya.


"Ayahmu itu sangat bijaksana, aku jadi ingin tau siapa ayahmu." ucap Nathan, sambil terus menyiapkan cemilan.


Grisella, seketika langsung melirik ke arah Nathan, dan juga ia tidak sengaja menggenggam tangan Nathan, yang sedang bersandar di meja dapur.


Puk...


"Kedua bola mata Sella, begitu sangat indah." gumam Nathan, di dalam hatinya


Karna melihat kesempatan ini Nathan, segera menyatukan kedua tangan Grisella, dengan satu genggaman tangan nya, dan segera menyudutkan Grisella, ke tembok dengan keadaan tangan nya yang ia simpan di atas kepalanya.


Bugh...


"Nathan! apa yang kau lakukan?! aku peringatkan untuk menjaga sikapmu!" ujar Grisella, yang sempat membrutal atas tindakan Nathan, akan tetapi brutalan nya seketika langsung terhenti ketika Nathan, mulai mencium bibirnya.


"Stt, diam lahh... cup... muach."


Gleg... ah...


Sambil menutup kedua matanya, sensasi yang cukup asing baginya itu membuat Grisella, berubah sembilan puluh derajat yang awalnya brutal menjadi menikmati ciuman yang di berikan oleh Nathan, itu. "Umm... apa ini?! apakah aku sedang berciuman dengan Nathan? jadi benar kata orang-orang bahwa ciuman itu sangat nikmat rasanya? hmm tapi Harry, belum pernah mencium ku sebelumnya."


Nathan, membuka sedikit matanya untuk melihat Grisella. "Apakah dia kenikmati ciuman ini? apa baginya ini adalah yang pertama sama sepertiku? baiklah kalo begitu, akan ku buat kamu semakin menikmatinya."


Nathan, mulai memainkan lidahnya ke atas lihat Grisella. Muach... huh... ah... Nathan, melakukan nya semakin ganas sehingga Grisella, hampir saja susah untuk bernafas.

__ADS_1


Nathan, yang merasakan nafas Grisella, yang mulai tersenggah akhirnya melepaskan ciuman nya.


Fuh... Fuh... Fuh...


Dengan wajahnya yang semakin memerah, dan memanas Grisella, menatap kedua mata Nathan.


"Astaga... ini sangat nikmat sampai-sampai aku lupa cara bernafas." ujar Grisella, yang terus bergumam di dalam hatinya.


Nathan, yang merasa bergairah segera menurunkan kepalanya ke leher Grisella, dan mulai mencium leher Grisella, dengan penuh semangat.


Muah... Fyuh... Muach...


"A-ah... Nathan! hentikan itu, ini membuatku..."


"Membuatmu apa?" tanya Nathan, yang berhenti sejenak.


"Membuatku basah! tolong hentikan sekarang juga!" seru Grisella.


Nathan, segera kembali menegakan badannya tanpa menurunkan kedua tangan Grisella, dengan senyuman licik ia bertanya. "Apakah kamu menikmati ciuman ku? dan apakah boleh aku melakukan nya sekali lagi?"


Dengan wajah yang semakin merah Grisella, menganggukan kepalanya.


"Hmm... baiklah, akan aku lakukan sekali lagi dan kau boleh menikmatinya lagi. Akan aku buat kamu semakin basah." bisik Nathan.


Muachh... cup... muah...


Namun sayang nya kejadian itu tiba-tiba hancur ketika Agam, langsung menghampiri mereka ke dapur dengan mendadak.


"Ayolah Sella, apakah kamu sudah sele... Maafkan Aku! Sungguh Aku Tidak Melihat Apa-Apa!" seru Agam, yang segera kabur kembali ke ruang tamu.


"Ahh... !!! lepaskan aku!" ujar Grisella, yang langsung mendorong Nathan.


Agam, cukup terkejut karna baru pertama kalinya ia melihat Nathan, mencium seorang wanita, dan langsung bergairah seperti itu.


"Nathan! aku mohon maafkan aku, jika saja aku tidak memintamu untuk mencium ku lagi, ini semua tidak akan pernah terjadi. Eumm... ayo kita segera ke depan untuk memberikan cemilan ini untuk mereka, aku hawatir mereka akan merasa kelaparan karna kita yang terlalu lama."


"Baiklah." jawab Nathan, yang masih setengah sadar dalam bayangan *** nya.


Bersambung...


Waktunya iklan jangan lupa mampir

__ADS_1



__ADS_2