Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 42 : Pendekatan


__ADS_3

Kembali ke suasana di dalam kamar Nathan.


"Rangga, apakah ini masih membutuhkan waktu yang lama untuk memijitnya? jika ini sampai malam aku takut jika nantinya tidak ada satupun kereta kuda yang lewat." ujar Grisella.


"Tenanglah ada Nathan, yang akan mengantarmu. Benarkan aku?" jawab Rangga.


"Na-Nathan? akan mengantarku pulang?" tanya Grisella, dengan gugup.


"Tentu saja aku akan mengantarmu pulang, mana mungkin aku dengan teganya membiarkan tamuku pulanh sendirian, apalagi dia masih perawan." jawab Nathan, dengan sedikit candaan nya.


Ish... !!! Plak... !!!


Grisella, memukul wajah Nathan, menggunakan bantal yang ada di sisinya. "Kau! jangan berbicara kotor seperti itu di depan teman-teman mu! sungguh tak tahu malu!"


"E-e-eh! iyah-iyah maaf, nanti kakimu sakit lagi lhoh! emangnya mau?"


"Hmph! kau hanya ingin mengalihkan ku saja. Aku benci padamu!" seru Grisella.


Nathan, mulai mendekat ke arah Grisella. "Apakah kau serius dengan ucapan mu itu?"


"Eu-eum... a-aku bercanda, menjauhlah sedikit, di sini masih ada teman-teman mu lhoh, apakah kamu tidak akan malu di lihat oleh mereka dengan sikapmu yang seperti ini?" ujar Grisella, yang mulai berusaha untuk menjauh akan tetapi terhalang karna kakinya yang masih di pijat oleh Rangga.


"Ouh begitu yah? kalo begitu aku akan menyuruh teman-teman ku untuk keluar lagi, bagaimana? agar aku dapat lebih dekat dengan mu." ujar Nathan, yang semakin mendekatkan wajahnya pada Grisella.


"Agrhh! aku mohon maafkan aku. Jangan suruh mereka keluar aku mohon!" teriak Grisella, sambil terus berusaha untuk memohon.


Puftt... hahahahaha!


Mereka semua seketika langsung tertawa saat melihat tingkah lucu yang di tunjukan oleh Grisella, pada mereka.

__ADS_1


"Nathan, wanitamu itu sangat menggemaskan ternyata." ujar Dias.


"Hey! aku bukan wanitanya Nathan!" seru Grisella, akan tetapi sepertinya ia akan di hiraukan saja di keadaan ini.


"Tentu saja, cobalah kau lihat pipinya, sangat menggemaskan bukan?" jawab Nathan.


"Hahaha... kau benar, akupun jadi ingin mencari wanita yang sama sepertinya, hanya saja aku ingin wanitaku nanti dapat lebih menggemaskan di bandingkan dengan Sella." ujar Dias.


"Benar juga dengan apa yang di katakan oleh Dias, akupun jadi ingin memiliki sosok pasangan yang manja, dan menggemaskan seperti Sella." sambung Agam.


"Agrh... !!! apakah kalian dapat menghentikan obrolan ini?" seru Grisella, sekali lagi. Akan tetapi sepertinya Grisella, lagi-lagi di hiraukan oleh mereka.


"Sifat, dan sikapnya yang ia miliki begitu dewasa, sepertinya ia di didik dengan sangat baik oleh kedua orang tuanya. Nathan, kau harus dapat menjaga nya dengan baik." ucap Rangga.


"Ouh tentu saja, aku pasti akan kenjaganya dengan sangat baik." jawab Nathan, dengan senyuman nya.


"Apa yang kau katakan?! Diantara kami tidak ada hubungan apapun, dan kami tidak pernah meresmikan hubungan apapun! Biarku tegaskan lagi, Kami Bukanlah Sepasang Kekasih!" teriak Grisella, yang semakin kesal karna terus menerus di hiraukan.


"Kau benar, akan tetapi sebentar lagi kau pasti akan menjadi milik ku." ujar Nathan.


"Tidak ada orang yang mau berpasangan dengan orang yang tidak dapat mendengarkan perkataan dari seorang wanita sepertimu! Setidaknya kau bisa menghargaiku sedikit saja." jawab Grisella.


Nathan, melirik ke arah Grisella, dengan tersenyum. "Aku mendengarkan mu, hanya saja aku ingin mempermainkan mu sebantar, apakah aku tidak boleh seperti itu?"


Hiks...


Grisella, mulai meneteskan ai matanya. "Te-tentu saja tidak boleh... aku ini seorang wanita yang hatinya lembut. Bagaimana kau bisa memperlakukan seorangwanita seperti ini? padahal ibumu sendiri adalah seorang wanita, apakah kau yakin bahwa ibumu juga tidak akan merasa sakit jika perkataan nya tidak pernah kau dengar?"


Nathan, seketika di buat merasa sangat bersalah ketika ia melihat wanita yang begitu polos menangis di hadapan nya. Ia pun dengan spontan langsung memeluk erat Grisella. "Sella... maafkan aku."

__ADS_1


Puk... puk...


Grisella, memukul dada Nathan, dengan sedikit tambahan tenaga. "Ke-kenapa kau bisa memperlakukan seorang wanita seperti ini?"


Push...


Nathan, mengusap kepala Grisella, yang bertujuan untuk menenangkan hatinya. "Baiklah maafkan aku, aku berjanji tidak akan memperlakukan mu seperti ini lagi."


"Se-Sella, maafkan aku juga." ujar Rangga.


"Ka... kami berdua juga ingin meminta maaf padamu, sungguh kami tidak bermaksud untuk memperlakukan mu seperti itu." ujar Agam, yang mewakili maaf Dias, juga.


"Iyah Sella, maafkan kesalahan kami berempat yah?" sambung Dias.


Di dalam pelukan Nathan, Grisella, langsung tersenyum licik, dan bergumam di dalam hatinya. "Hahaha... ternyata sangat mudah untuk mengelabui mereka. Ya... walau pada awalnya aku memang sangat kesal terhadap mereka, namun ada hal yang dapat aku manfaatkan di situasi ini, yaitu agar aku dapat lebih cepat untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka."


"Semakin aku akrab dengan mereka, semakin mudah juga untuk aku menyelesaikan misi ini." ujar Grisella, di dalam hatinya.


"Sella? apakah kau mau memaafkan kesalahan kami?" tanya Nathan.


"Eumm... baiklah aku akan memaafkan kalian semua, akan tetapi aku ingin pulang sekarang juga." jawab Grisella.


"Baiklah biar aku antar kamu sampai depan rumah."


"Ya terimakasih."


Bersambung...


Waktunya iklan jangan lupa mampir ya...

__ADS_1



__ADS_2