
Sesampainya mereka di kamar Nathan. Grisella, merasa tidak enak dengan apa yang di lakukan oleh Nathan, padanya, sekaligus ia pun merasa sangat bodoh, padahal jelas-jelas ia dapat melawan Lidia, sendirian tanpa harus di bantu oleh Nathan.
Grisella, tertunduk kesal pada dirinya sendiri, lalu berkata. "Nathan, kenapa kamu harus membelaku? kenapa kamu harus membantuku? dan kenapa kamu harus menggendongku kesini? padahal aku bisa mengurusnya sendirian."
"Jangan keras kepala." jawab Nathan, dengan singkat.
Grisella, segera menatap mata Nathan, dengan pupilnya yang mulai membesar. "Tapi kenapa? kenapa kamu harus melindungiku? padahal aku tidak selemah itu, aku bisa melawan nya."
Cup...
Nathan, mengecup kening Grisella, dengan lembut. "Sudahlah, aku yakin kakimu itu terkilir, jadi itu alasan mu tidak melawannya."
"E-eumm... kakiku baik-baik saja kok!" jawab Grisella, dengan gugup.
"Baiklah, akan aku turunkan kamu dan cobalah untuk berdiri sendiri." ujar Nathan, yang segera menurunkan Grisella, dari pangkuan nya.
Krek!
Suara kaki Grisella, yang di paksakan untuk berdiri sendiri. Rasanya cukup sakit, akan tetapi ia ingin menunjukan pada Nathan, bahwa ia baik-baik saja. "Astaga! rasanya kakiku sakit sekali!"
"Li-lihatlah! aku bisa berdiri bukan?" ujar Grisella.
"Hahahaha... baiklah, kalo begitu ayo jalan sini." padahal Nathan, tau bahwa ia sangat kesakitan.
"Ba-baiklah!"
Baru saja ia melangkah akan tetapi kakinya sudah tidak kuat lagi untuk mengkah, yang menjadikan nya langsung terjatuh dan menimpa Nathan.
__ADS_1
Geprug...
Di keadaan Grisella, yang menimpanya Nathan, segera memeluknya dengan erat. "Sudah ku bilang bukan? kakimu itu terkilir."
"Ahh! lepaskan aku! kakiku akan semakin sakit jika posisinya seperti ini." ujar Grisella, yang segerak memberontak.
"Shttt... diam! jika kamu memberontak ini pasti akan lebih menyakitkan." ucap Nathan, dengan lembut.
Hati Grisella, seketika langsung teketuk oleh ucapan Nathan. "Ba-baiklah, kalo begitu bantu aku untuk duduk."
"Anak pintar, baiklah aku akan membantumu."
"Terimakasih, tapi kenapa kamu malah membawaku ke kamar?" tanya Grisella.
"Eumm... menurutmu?" ujar Nathan, yang bertanya balik pada Grisella, dengan alisnya yang ia angkat satu.
Preng... !!!
Tiba-tiba ada suara benda pecah terdengar jelas oleh mereka.
"Itu apa?!" tanya Grisella.
"Tidak tahu, tunggu sebentar aku akan mengecek nya." jawab Nathan.
Itu semua perbuatan Lidia, yang tidak ingin tinggal diam, maka ia tetap berusaha untuk mengalihkan perhatian Nathan, dengan cara bersandiwara kesakitan karna memecahkan vas bunga.
"Kemarilah Nathan... aku akan menangis untukmu." gumam Lidia.
__ADS_1
Dengan segera Nathan, pun langsung keluar dari kamarnya. Di karenakan Nathan, yang tidak pernah berfikiran buruk pada seseorang ia pun segera menolong Lidia, dan mendudukkan nya di atas kursi.
"Lidia! apa yang telah terjadi padamu?" tanya Nathan, yang segera membantunya untuk duduk.
"Hiks... aku tak sengaja memecahkan vas bunga ini, ta-tapi aku pasti akan kenggantinya." jawab Lidia, sambil terus bersandiwara.
"Tidak perlu, yang terpenting itu adalah nyawamu."
"Cih... ternyata kamu sangat mudah untuk di bodohi." gumam Lidia, di dalam hatinya.
"Bibi! bibi! tolong kesini dan bawakan P3K, dan obatilah kaki nona Lidia." teriak Nathan, yang memanggil para penyuruhnya.
Hal itu sungguh membuat Lidia, terkejut karena Nathan, hanya membantunya untuk duduk saja, akan tetapi tidak dengan memeriksa kakinya, dan dengan segera ia langsung kembali ke kamarnya.
"Na-Nathan... kenapa kamu tidak mengobati kakiku?" tanya Lidia, dengan canggung.
"Di kamarku masih ada Sella." jawab Nathan, tanpa melirik kembali ke arah Lidia.
"Sial! aku sudah rela terluka untuknya, akan tetapi tetap saja wanita itu yang menjadi pemenangnya." Ia pun akan terus memutar otaknya untuk dapat mengganggu Nathan.
"Nona... mari kami bantu untuk mengobati lukamu." ujar salah satu penyuruh di rumah Nathan.
"Eumm ya terimakasih." jawab Lidia.
Bersambung...
Waktunya iklan. Jangan lupa mampir yah...
__ADS_1