
Karna kondisi Grisella, yang pada awalnya memang sedang kurang sehat dengan tidak sengaja ia malah ketiduran di kursi yang berada di depan kamar Rangga, ia begitu langsung tertidur pulas di kursi saat menunggu Nathan keluar kamar.
Ketika Nathan, keluar dari kamar Rangga, seketika pandangan nya terhenti ke arah Grisella, yang sedang tertidur pulas, wajahnya begitu sangat manis ketika ia tertidur sampai-sampai hatinya begitu tidak sanggup untuk membangunkan nya.
"Astaga... bidadari dari mana ini? mengapa ia begitu manis saat tertidur?" gumam Nathan, yang seketika langsung tersenyum.
Pada akhirnya Nathan memutuskan untuk menitipkan Grisella, sementara pada Rangga, sampai ia selesai mempersiapkan semua untuk esok.
"Rangga..." ujar Nathan, yang berbisik.
"Kenapa?" tanya Rangga.
"Aku titip Sella dulu di sini okey? setelah aku selesai mempersiapkan semuanya untuk esok, aku berjanji akan segera kemari untuk menjemput nya lagi." jawab Nathan.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak membawanya saja untuk sekalian mengantarnya pulang?" tanya Rangga sekali lagi.
"Tuan putriku itu sedang kurang enak badan, dan sekarang ia malah tertidur pulas di kursi depan kamar mu itu." ujar Nathan, yang kembali menjawab pertanyaan Rangga.
"Ohh... hahahaha, kalo begitu pindahkan saja ke kamar, agar tidurnya lebih nyaman, tenanglah aku tidak akan pernah merebut putrimu itu."
"Iyah-iyah aku tau. Agam, sama Dias, udah nunggu di bawah kayanya, jadi aku harus buru-buru." Nathan, pun segera memindahkan Grisella, ke kamar Rangga.
"Siap..." jawab Rangga.
Beberapa saat setelah Nathan pergi. Rangga, mencoba untuk berbuat baik dengan melepaskan kacamata yang di pakai oleh Grisella, agar ia lebih nyaman untuk beristirahat. Namun setelah membuka kacamata tersebut secara tiba-tiba kepala Rangga, juga terasa sangat sakit, ia pun memejamkan kedua matanya itu karna tak kuasa menahan nya.
"Agrhh... Grisella? Grisella?! sepupuku?!" lalu ia membuka matanya, dan langsung melihat ke arah Grisella, yang sedang tertidur pulas.
__ADS_1
"Apa yang telah terjadi? mengapa kepala ku begitu terasa pusing? dan mengapa aku bergumam tentang nama sepupu perempuan ku?" ujar Rangga, yamg bertanya-tanya karna kebingungan.
"Ta-tapi kenapa kepala ku semakin terasa berat, argh... !!!" seru Rangga, yang mulai sangat kesakitan karna sakit yang ia rasakan di area kepala nya.
Di situlah kejanggalan terjadi padanya, ia mulai teringat kembali dengan memory penglihatan nya yang telah hilang, dan ia mulai ingat bahwa wajah wanita yang sekarang sedang berbaring di ranjangan nya itu sangat mirip dengan sepupu perempuan nya yang bernama Grisella.
Ketika rasa nyerinya telah berangsur-angsur hilang, ia pun segera kembali berfikir, dan mengingat. "Sella... kau begitu sangat mirip dengan sepupu perempuan ku yang memiliki marga Yudisti, apakah kau adalah sepupu perempuan ku yang selama ini aku cari-cari? apakah itu kau Sella?"
"Wajah, mata, rambut, dan badan mu itu terlalu mirip dengan sepupu perempuan ku. Jujur saja melihatmu itu bagaikan sedang di panah oleh beberapa orang, dan anak panah itu berhasil mengenaiku berulang kali, mengingat nya itu begitu sangat sakit, setelah itu membuatku tak berdaya."
"Terimakasih Sella, sepertinya memory penglihatan ku sudah mulai membaik, dan aku dapat mengingat wajah beberapa orang yang pernah aku lupakan." ujar Rangga, yang terus bergumam di hadapan Grisella, yang sedang tertidur.
Rangga, tidak akan langsung menyimpulkan begitu saja bahwa Sella, adalah Grisella, sepupu perempuan nya. Sebelum Rangga, dapat menemukan kakak dari ibunya, ia tidak bisa menuduh seseorang sembarangan sebagai sepupu perempuan nya.
__ADS_1