Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 35 : Bumbu cinta


__ADS_3

Setelah beberapa menit kemudian Lidia, pada akhirnya memutuskan untuk meledakan amarahnya dengan cara menggedor pintu kamar Nathan, hingga terbuka. Tujuan nya adalah agar ia dapat sama-sama masuk ke dalam kamar Nathan.


Dug... duk... dug...


Lidia, menggedor pintu kamar Nathan, dengan cukup keras. "Buka pintunya! cepat! jika tidak aku akan mendobraknya."


"Lidia, bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk pergi?" jawab Nathan, dari dalam kamar.


"Aku tak peduli!" seru Lidia, yang semakin bertekad untuk mendobrak pintu kamar Nathan.


Brak... !!!


Pintu kamar Nathan, berhasil di dobrak oleh Lidia. Walau sebenarnya Nathan, terlebih dahulu sudah membuka kunci kamarnya, karna ia tidak ingin Lidia, terluka lagi, dan harus ialah yang bertanggung jawab.


Namun, baru saja ia melangkah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Nathan, segera melontarkan kata-kata mengancam-nya pada Lidia. "Jika kamu berani masuk lebih jauh lagi aku akan mencium Sella, di hadapan mu."


Seketika langlah Lidia, terhenti. "Maksudmu?!"


"Lidia, apakah sekarang kau jadi tuli? sudah ku bilang jika kau berani masuk lebih jauh lagi aku akan mencium Sella, di hadapan mu." ujar Nathan, yang mengulangi kata-katanya.


"Nathan! jangan terlalu keras padanya. Lidia, sebaiknya kamu keluar dulu, aku menjamin bahwa Nathan, tidak akan melakukan hal yang lain-lain padaku. Jangan buat amarahnya semakin besar." ujar Grisella, yang tak ingin hanya tinggal diam seperti tadi.


Hmmm


Nathan, tersenyum pada Grisella. "Lidia, apakah kau dengar itu? akan tetapi ancaman ku tak ada hubungan nya dengan Sella, jadi jika kau melangkah maju sekali lagi aku jamin bahwa kata-kata Sella, tadi hanya akan menjadi mitos."


Dengan tatapan yang terkejut Lidia, mulai melangkah mundur, dan segera menutup kembali pintu kamar Nathan, dengan raut wajah yang terlihat dengan jelas kesedihan nya.


"Baik, maafkan aku." ujar Lidia, yang setelah itu langsung duduk di atas kursi yang ada di dekat kamar Nathan, untuk merenung.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Lidia, keluar dari kamar tiba-tiba Grisella, mulai hawatir terhadap Lidia, yang pasti akan membalasnya nanti, akan tetapi kehawatiran nya bukan karna ia merasa takut tapi karna ia tidak mau Lidia, melakukan hal yang bodoh hanya karna di butakan oleh rasa cemburu.


"Nathan... aku takut Lidia, akan membalasku nanti." ujar Grisella.


"Jangan hawatir, aku pasti akan ada untukmu." jawab Nathan.


"Cih... bukan karna itu, akan tetapi aku takut ia akan membalasku karna rasa cemburunya yang membuat dirinya bodoh dalam hal melakukan tindakan."


Push... push...


Nathan, mengusap kepala Grisella, dengan lembut. "Tenanglah ia akan segera kembali sadar."


"Hmm... baiklah, tapi aku sangat ingin bertanya padamu."


"Berapa lama kau, dan Lidia memiliki hubungan? dan kenapa diantara kalian hanya Lidia, yang begitu mencintaimu? apakah kau benar-benar mencintainya? akan tetapi jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku pun tidak apa-apa, tak masalah bagiku." ujar Grisella, yang terus menerus menanyakan pertanyaan dengan tak henti-hentinya.


Namun, karna yang menanyakan hal itu adalah Grisella, maka dengan senang hati Nathan, pun segera menjawab semua pertanyaan yang di tanyakan oleh Grisella.


"Baiklah aku akan menjawab semua pertanyaan mu, yang pertama aku dan dia sudah memiliki hubungan sekitar tiga tahun lamanya, yang kedua karna hubungan kami berdasarkan perjodohan bukan karna perasaan, jadi pada intinya hanya Lidia lah yang begitu mencintaiku, dan terakhir aku tidak pernah mencintainya sekalipun."


"Apakah semua pertanyaan mu sudah aku jawab dengan jelas?" tanya Nathan.


"Satu lagi, kenapa kalian di jodohkan?" jawab Grisella, yang bertanya kembali pada Nathan.


"Eumm... sebenarnya aku di paksa oleh ayahku untuk berpacaran dengan Lidia, di karenakan soal bisnis. Apakah ada lagi pertanyaan?"


Grisella, yang mendengar jawaban Nathan, rasa-rasanya ia semakin membenci ayah Nathan, karna bukan hanya keluarganya saja yang ia perlakukan seenaknya akan tetapi anak tunggalnya sendiri pun ia perlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Eumm... terimakasih telah menjawab semua pertanyaan ku."


Karna tidak ada lagi percakapan Nathan, pun bertanya lagi soal ciuman nya mereka lakukan.


"Eumm... Grisella, apakah sekarang sudah giliran ku untuk bertanya?"


"Kau ingin bertanya soal apa? tanyakan saja." jawab Grisella.


"Soal ciuman itu apakah itu adalah ciuman pertama mu?" tanya Nathan.


Fyu...


Grisella, menghembuskan nafasnya terlabih dahulu sebelum ia menjawab pertanyaan Nathan. "Iyah itu ciuman pertama ku. Nathan, maafkan aku soal kejadian tadi di dapur jika saja tadi aku tidak meng-iyakan tawadan mu mungkin Agam, tidak akan melihatnya."


Lalu Nathan, menjawab. "Agam, pasti akan menutup mulutnya. Jadi jangan pernah hawatir bahwa Agam akan membocorkan nya, dan jika kamu tau hal itulah yang membuat kelakuan Agam, sangat aneh, dan gugup tadi."


"Oh ya? apakah karna ia sedang mencoba untuk menutupinya?" tanya Grisella, dengan senangnya.


"Iyah... ia terkadang memang suka bertindak seperti itu juga sedang gugup." jawab Nathan.


"Hahaha... teman mu itu ternyata sangat unik." ujar Grisella, yang tertawa bahagia di hadapan Nathan.


Nathan, yang memandang senyuman nya begitu sangat tenang, dan merasa bahwa Grisella, adalah wanita yang benar-benar manis.


Bersambung.....


Waktunya iklan, jangan lupa mampir yah.


__ADS_1


__ADS_2