Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 39 : Agam...


__ADS_3

Cie... yang nungguin up tapi bolong tiga hari. Mohon maaf ya, mulai sekarang Author pasti akan up rutin kembali. Terimakasih yang suka setia menunggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ceklek...


Suara pintu di buka. Teman-teman Nathan, yang melihat Nathan, sedang menggendong Grisella, pun akhirnya segera menghampiri mereka.


"Eh... Sella?! kenapa di gendong?" tanya Dias.


"Eumm... ceritanya panjang." jawab Grisella.


"E-eumm... katanya satu jam, tapi baru lima belas menit aja udah keluar, ke-kenapa?" tanya Agam, dengan raut wajah yang gugup.


"Akan aku ceritakan nanti, yang penting sekarang adalah pijat dulu kaki Sella, hingga ia merasa mendingan. Rangga, kau masih tau cara untuk memijitkan?" jawab Nathan, yang segera meminta pertolongan Rangga, untuk memijat kaki Grisella.


Rangga, pun segera bertanya kembali karna ia merasa heran dengan keadaan Grisella, yang tiba-tiba seperti ini. "Baiklah, tapi jawablah pertanyaan ku, sebenarnya apa yang telah terjadi pada kaki Sella? apakah kakinya terkilir?"


Nathan, pun akhirnya menjawab pertanyaan Rangga. "Ini semua karna Lidia."


Mendengar jawaban Nathan, Agam, dan Dias, dengan kompak nya langsung menyela.


"Idih! giliran si Rangga, yang nanya di jawab!" seru mereka berdua.


"Puft... kalian berdua ini cukup kompak juga yah." ujar Grisella, yang berusaha untuk menahan tawanya.


Dias, melirik ke arah Agam, dengan tatapan ogah. "Apa? ma-maksudmu aku dan Agam?"


"Iyahh..." jawab Grisella, dengan lembut.

__ADS_1


"TIDAK! kami tidak akan pernah kompak seumur hidup!" seru Agam.


"Benar! seumur hidup!" sambung Dias, yang langsung menyilangkan tangan nya, dan duduk membelakangi Agam.


"Ah sudahlah kau ini. Oh ya ngomong-ngomong jika kau tau saja Nathan, kami berdua tadi melihat Rangga, dengan mata kepala kami sendiri bahwa ia memperlakukan Lidia, dengan begitu sangat romantis." ujar Agam, yang segera menceritakan hal itu kepada Nathan.


"Aku hanya bersimpati saja pada Lidia." jawab Rangga, dengan wajah datarnya. Perlakuan nya terhadap Lidia, itu sebenarnya hanya sebatas rasa pedulinya saja yang sedang teringat kepada adik sepupunya, yaitu Grisella.


"Nathan, sebaiknya aku memijat kaki Sella, di kamar mu saja, agar dia lebih nyaman." ujar Rangga, yang mengubah arah pembicaraan.


"Baiklah."


Mereka semua-pun akhirnya masuk ke dalam kamar Nathan. Setelah berada di dalam kamar. Nathan, segera menceritakan bagaimana ceritanya kaki Grisella, dapat terkilir karna kelakuan Lidia.


"Ayo cepat ceritakan." ujar Dias.


Puk...


Dias, menupuk keningnya sendiri dengan tangan. "Astaga-astaga... ada apa dengan wanita itu? kerjaan pasti hanya mengganggu aja."


"Nggak tau tuh, sebenarnya si Nathan, pake pelet apasih? sampe-sampe si Lidia, tergila-gila gitu." ujar Agam.


"Mungkin karna ketampanan nya." jawab Rangga.


"Oh ya Nathan, ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan selama berduaan di kamar?" tanya Dias.


Seketika Sella, dan Nathan, di buat membeku oleh pertanyaan itu akan tetapi Nathan, berusaha untuk menjawab.


"Ka-kami, hanya sedang berkeliling melihat-lihat setiap sisi rumah ini, dan pemandangan yang ada di luar kamarku." jawab Nathan, yang berusaha untuk menyembunyikan kegugupan nya.

__ADS_1


"Kalo hanya itu saja kenapa kamu tidak membiarkan kami masuk?" tanya Dias, sekali lagi.


"Ya karna tadinya aku ingin menjadi pahlawan seorang untuk memijat kaki Sella, dan membuatnya sembuh. Aku tak mau Rangga, dengan tiba-tiba memijit kali Sella, tanpa adanya perintah ku." ujar Nathan, yang segera memutar otaknya untuk mencari alasan yang cukup tepat.


"Ah... kau ini biasanya dewasa, tapi kenapa di hadapan Sella, kau begitu mirip dengan seorang anak kecil?"


"Hahaha tenanglah Dias, mungkin saja bagi Nathan, Sella adalah miliknya seorang. Wajar sajalah..." jawab Rangga, dengan bijak.


"Nah! Rangga, aja tau masa kamu nggak." ujar Nathan, yang mengejek Dias.


"Argh! kalian ini bisa tidak sedikit tenang? aku ini sedang berusaha untuk menahan rasa sakit!" seru Grisella.


"E-eh... maafkan kami."


Di suasana hangat itu hanya Agam, yang tiba-tiba terdiam seolah membungkam setiap kata yang ada di mulutnya. Hal itu di karenakan ia merasa begitu sangat curiga bahwa Nathan, dan Grisella, sebenarnya telah melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan pada saat itu di dapur.


Maka oleh sebab itu Agam, segera meninggalkan kamar Nathan, dan memilih untuk pergi keluar untuk menghindari pembicaraan mereka dengan alasan bahwa ia sedikit merasa gerah jika berada di kamar Nathan, padahal di kamarnya itu terdapat tiga AC.


"Teman-teman, aku keluar dulu sebentar. Entah kenapa aku begitu merasa sangat panas jika berada di ruangan ini." ujar Agam, yang segera keluar.


"Padahal ada tiga AC di sini, apa perlu aku nyalakan semua untukmu?" tanya Nathan, yang berusaha untuk menahan.


"Tidak perlu, aku keluar saja terlebih dahulu untuk mencari angin segar." jawab Agam, dengan nada suara yang dingin, tidak sama seperti biasanya yang selalu ceria.


Bersambung...


Waktunya Iklan jangan lupa mampir.


__ADS_1


__ADS_2