
Rangga, melirik ke arah Grisella, dengan tersenyum lembut padanya. "Sella..."
"Ya Rangga?" jawab Grisella.
"Apakah kau tau Sella, kau benar-benar sangat mirip dengan sepupuku." ujar Rangga, yang tak henti-hentinya melihat ke arah Grisella, dengan tatapan nya yang begitu tulus.
"Mirip? hmm... memang nya ciri-ciri sepupu mu itu seperti apa?" tanya Grisella, yang rasa ingin taunya semakin besar.
lalu Rangga, menjawab. "Sepupuku itu memiliki sikap yang sangat polos, lalu memiliki paras yang cantik, ouh ya satu lagi ia juga sangat pintar, namun terkadang ia juga sangat sombong karna dirinya lebih hebat dariku."
"Wah... !!! dia pasti sangat hebat! aku jadi ingin bertemu dengan nya, dan apakah benar bahwa wajahku ini mirip dengan nya?" ujar Grisella, yang seketika merasa sangat kagum pada gambaran nya sendiri yang di ceritakan oleh Rangga.
Nathan, sedikit merasa sedih karena ia sebenarnya tau bahwa sepupunya yang Rangga, maksud adalah putri misterius dari keturunan Yudisti. Nathan, begitu merasa sangat sedih ketika ia mulai mengingat hal itu, karena entah kenapa ayahnya begitu membenci Rangga, hanya karna ia memiliki hubungan dengan keluarga Yudisti.
"Rangga... aku tau kau pasti akan semakin terluka karna hal ini." ujar Nathan, di dalam hatinya.
Agam, yang tak ingin terus terdiam, akhirnya ia memutuskan untuk sedikit bertanya pada Rangga. "Emm... Ra-Rangga... apakah sepupumu itu sangat menawan? apakah kau punya fotonya? jika kau punya aku sangat ingin melihatnya."
"Nah! benar kata Agam, apakah kau punya fotonya?" sambung Grisella, yang semakin antusias.
Agam, menyipitkan matanya dengan tatapan kesal pada Grisella, namun ia hanya dapat berbicara di dalam hatinya. "Aduh Sella! kenapa pake nyambung kata sih? udah tau aku susah cari topik."
__ADS_1
Rangga, pun segera menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Agam, padanya. "Status sepupuku itu di rahasiakan oleh keluarganya demi keamanan dirinya sendiri."
"Di rahasiakan?" tanya Agam.
"Ya, benar... tidak ada seorangpun yang tau wujud wajahnya hingga sekarang terkecuali keluarganya, dan para pekerja yang sudah di percaya oleh keluarganya." jawab Rangga.
Grisella, yang mendengar jawaban Rangga, begitu sangat terkejut karna sosok sepupu yang di ceritakan oleh Rangga, itu semakin mirip dengan nya.
"Ke-kenapa kehidupan dari sepupunya Rangga, itu begitu mirip dengan kehidupan ku?" gumam Grisella, di dalam hatinya.
Eumm...
"Rangga, apakah aku boleh bertanya?" ujar Grisella, yang ingin kenanyakan nama dari sepupunya itu.
"Kalo boleh tau... siapa nama dari sepupumu itu?" tanya Grisella.
Rangga, mengusap kepala Grisella, dengan lembut. "Akan aku beritahu nanti, oke?"
Nathan, sangat merasa kesal ketika ia melihat tangan Rangga, yang menyentuh kepala Grisella, dengan penuh kelembutan. Maka oleh sebab itu ia pun segera berpindah tempat yang tepatnya di sisi Grisella, tujuan nya adalah untuk dapat merangkul Grisella, ke sebelah sisi badan nya agar dirinya, lebih dekat padanya di bandingkan dengan tangan Rangga.
Wush...
__ADS_1
"Dia milik ku! jangan pernah kau sentuh dia, hanya aku yang dapat menyentuhnya." ujar Nathan, yang segera merangkul erat Grisella, ke sisinya.
Puftt... ahahaha... Rangga, Agam, dan Dias secara otomatis langsung tertawa bersama karna menyaksikan sikap Nathan, yang sangat mirip seperti anak kecil.
Rangga, segera menjauhkan tangan nya sambil tertawa terbahak-bahak. "Ha-hahaha... kau itu Nathan, mirip sekali dengan seorang bocah."
"Lebih tepatnya seorang anak kecil yang menangis karna permen yang ia miliki di ambil oleh orang lain." sambung Agam.
"Ahahaha... Sella, milikmu? sejak kapan kalian meresmikan hubungan?" ujar Dias, yang tiba-tiba nyeletuk soal hubungan, dan ia pun berhasil membuat Agam, kembali overthink.
"Bajingan! kenapa dia malah mengatakan hal itu! hmm... aku semakin merasa bahwa diriku ini sedang di dzolimi." ujar Agam, di dalam hatinya. Lebih tepatnya ia sedang mendalami kembali kebingungan yang ada di dalam dirinya.
"Ah tidak! tidak! menjauhlah dariku! dia ini hanya milih Lidia." Grisella, mendorong Nathan, untuk menjauh dan segera membantah kata-kata mereka dengan sangat mentah-mentah.
"Hahahaha... iyah-iyah kami hanya bercanda." saut Rangga, yang tertawa.
Bersambung...
Waktunya iklan Novel
Jangan lupa untuk mampir ke novel yang ada di bawah ini.
__ADS_1