Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 44 : Itu memang kamu Sella


__ADS_3

Sesampainya Nathan, di rumah. Teman-temannya segera menyambut Nathan, dengan sangat baik. Mereka pun langsung membawa Nathan, pergi ke kamar nya untuk membicarakan hal yang bersangkutan dengan penemuan barang di rumah Grisella.


"Selamat datang Tuan Muda Tunggal Nathan." ujar mereka bertiga secara bersamaan.


Nathan, yang baru saja turun dari mobil seketika di buat terheran-heran oleh tingkah konyol yang dilakukan oleh mereka bertiga. "Hahaha... ada apasih? tumben-tumbenan manggil kaya gitu."


"Tidak apa-apa, mari Tuan saya antar anda ke kamar." ujar Rangga.


"Tuan, apakah anda membutuhkan tisu? sepertinya anda sangat lelah." ujar Agam, yang menyodorkan tisu pada Nathan.


"He-heh! apaan sih, udahlah jangan kaya gini. Jiji tau nggak liatnya." seru Nathan.


"Tidak apa-apa jika Tuan berkata jiji pada kami, karna kami hari ini akan memperlakukan mu dengan sangat baik. Mari kita berjalan menuju kamar Tuan, di lantai dua." ucap Dias, yang semakin menambah kekonyolan yang mereka lakukan.


"Yayaya... aku sudah tau persis letak kamarku dimana."


"Baik Tuan mari."


Sesampainya di kamar Dias, segera mengunci rapat-rapat pintu kamar, dan Rangga, segera memulai pembicaraan dengan cara mengeluarkan topeng biru langit yang mereka temukan di rumah Grisella.

__ADS_1


Ceklak...


Suara pintu yang di kunci oleh Dias, dari dalam. Rangga, dan Agam, menatap mata Nathan, dengan seserius mungkin.


"Sebenarnya apa yang akan kalian lakukan padaku? akan melayaniku atau mau membunuhku?" tanya Nathan.


Tiba-tiba Rangga, mengulurkan tangan nya kebelakang, dan seketika tatapan itu berubah menjadi senyuman yang begitu lebar. "Tada... !!! Lihatlah apa yang kami temukan, apakah kau mengenali barang ini?"


Nathan, yang melihatnya begitu sangat terkejut. "Hah?! topeng biru langit? kenapa bisa ada di tangan mu Rangga? Dimana kalian menemukan nya?"


Agam, dan Dias langsung menjawabnya dengan kompak. "Kami menemukannya di dalam kamar Sella."


"Ya lebih tepatnya di bawah ranjang tempat tidur Sella." sambung Rangga.


"Iyaps, jangan-jangan kau punya indra ke enam lagi." celetuk Agam.


"Hahaha... itu tidak mungkin. Sebentar tapi kenapa ia bisa memiliki topeng biru langit ini? apalagi topeng ini biasanya hanya di miliki oleh keluarga-keluarga yang memiliki marga besar sedangkan ia kini sudah tidak memiliki orang tua." ujar Nathan, yang bertanya pada teman-teman nya. Dan seketika teman-temannya juga ikut berfikir dengan pertanyaan yang di sampaikan oleh Nathan, itu.


"Aha! atau jangan-jangan si Sella, itu awalnya memiliki marga besar akan tetapi orang tuanya mengalami kecelakaan yang membuatnya menjadi jatuh miskin, dan kehilangan marganya." ujar Agam, dengan menduga-duga kebenaran.

__ADS_1


"Aku rasa itu tidak mungkin karna jika ia terlahir dari keluarga bermarga besar pasti ada banyak orang-orang yang mengenalnya, dan ia tidak mungkin jatuh miskin karna harta yang di miliki oleh marga keluarga besar itu sangatlah fantastis, bisa di bilang tidak ada batasan." jawab Dias, untuk menjawab dugaan Agam.


"Yakan aku hanya menduga-duga saja." jawab Agam.


"Wanita itu begitu misterius, siapa dia sebenarnya? mengapa ia malah menyembunyikan identitasnya?" ucap Rangga, yang juga ikut penasaran dengan kebenaran identitas Grisella, yang sebenarnya.


"Apakah kita harus melaporkan hal ini ke polisi? agar kita dapat dengan cepat menemukan jawaban nya." ujar Agam, yang malah ingin mempublikasikan lebih luas lagi.


"Bodoh... mana bisa kita melaporkan nya kepada polisi? cukup kita saja yang mengungkap nya, hal ini tidak membutuhkan bantuan seorang polisi." seru Dias.


"Iyah deh maaf-maaf, aku khilaf." ujar Agam, dengan raut wajah merasa bersalahnya.


Puk... puk...


Dias, langsung menggandeng Agam, dan menepuk-nepuk pundaknya untuk meminta maaf. "Iyah tidak apa-apa maafkan aku selalu terlalu keras padamu."


"Hahaha... kalian berdua ini."


bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel di bawah ini.



__ADS_2