
Mereka pun akhirnya mengantarkan camilan, dan minuman bersama ke ruang tamu. Grisella, begitu malu karna Agam, telah melihatnya berciuman dengan Nathan, dan satu lagi Grisella, sangat takut Agam akan menceritakan kejadian yang ia lihat tadi kepada teman-teman nya yang lain.
"Astaga... bagaimana kalo Agam, menceritakan nya pada Rangga, dan Dias? Grisella, kau sungguh memalukan!" gumam Grisella di dalam hatinya.
Di bandingkan dengan Grisella, yang merasa takut. Nathan, malah merasa sangat senang karna untuk pertama kalinya ia mencium wanita yang benar-benar ia cintai, walau belum jelas kebenaran nya. Ia begitu merasa sangat bahagia telah berhasil mencium Grisella, sebagai ciuman pertamanya.
"Sella, bibirmu itu sangat manis." gumam Nathan, yang dengan terusnya menatap Grisella, dari arah belakang.
Sesampainya Grisella, dan Nathan, ke ruang tamu, dengan mendadak nya Agam, merubah sikapnya menjadi sedikit kaku, atau bisa di sebut salah tingkah karena dirinya begitu kebingungan harus bersikap seperti apa.
"E-eh itu ce-cemilan nya, sudah datang." ujar Agam.
"Eh Gam, kamu kenapa? kok tiba-tiba jadi gagap gitu?" tanya Rangga.
"A-anu, aku tidak apa-apa mungkin itu hanya perasaan mu saja, hahaha..." Agam, berpura-pura tertawa untuk menutupi kebingungan bersikap nya.
Puk...
Nathan, menepuk pundak Agam. "Biasalah teman kita yang satu ini terkadang memang suka membingungkan orang lain."
Agam, tersenyum cengos walau di hatinya berkata, "Sebenarnya siapa yang di buat bingung?! Aku?! atau kalian sih!"
Puk...
Rangga, ikut menepuk pundak Agam, yang sebelahnya. "Hahaha kau benar Nathan, maafkan teman ku ini yah Sella."
__ADS_1
"Hehehe... iyah tidak apa apa. Ayo di makan cemilan nya." ujar Grisella, yang langsung menggganti arah topik pembicaraan.
Mereka akhirnya dapat berbincang sedikit, hingga akhirnya Dias, bertanya soal keberadaan orangtua Grisella.
"Ouh ya Sella, apakah aku boleh bertanya?" ujar Dias, yang meminta izin.
"Tentu saja boleh." jawab Grisella.
"Kalo boleh tau dimana kedua orang tuamu?" tanya Dias.
Lalu Grisella, pun menjawab nya dengan singkat. "Eumm... kedua orang tuaku sudah lama meninggal, dan aku adalah seorang anak tunggal, maka oleh sebab itu aku tinggal sendirian di rumah ini."
Seketika jawaban yang di berikan oleh Grisella, itu membuat keempat sahabat itu terkejutnya.
"Maafkan aku telah bertanya soal itu, sekali lagi aku minta maaf." ujar Dias, yang merasa menyesal.
"Bukankah di kota ini setiap bulan nya suka di berikan bantuan beras, dan lauknya ke setiap warga? jadi aku hanya butuh bekerja sedikit untuk menambah-nambah." jawab Grisella.
"Kamu bekerja?" sekarang giliran Nathan, yang bertanya padanya.
"Iyah aku bekerja di satu caffe milik keluarga Yudisti, lebih tepatnya caffe yang di dirikan oleh Aditya Yudisti." Grisella, sengaja mengada-ngada hal itu, karena ia ingin melihat ekspresi Nathan, ketika mendengarnya.
Nathan, memberikan ekspresi yang cukup terkejut, namun ia berhasil untuk sedikit menutupinya. "Ouh... baiklah. Jika kau butuh lebih katakan saja padaku, aku pasti akan membantumu."
"Hahaha terimakasih, aku sangat tersanjung dengan kebaikan hatimu."
__ADS_1
"Sudah menjadi tugasku sebagai anak dari wali kota untuk membantu setiap warganya untuk lebih maju." ujar Nathan, dengan senyuman lembutnya.
Grisella, hanya dapat tersenyum kembali ketika Nathan, mengatakan bahwa dirinya adalah anak dari wali kota. Padahal ayahnya-lah yang telah merebut posisi ayah Grisella.
Lalu secara tiba-tiba Rangga, mengatakan tentang masalalu nya di hadapan Grisella, dan teman-teman nya. "Teman-teman, aku ingin bercerita sedikit. Dahulu aku memiliki seorang sepupu perempuan yang sangat cantik, menawan, juga berbakat, namun sayangnya ia sudah tidak dapat aku temui lagi untuk sekarang."
"Rangga... kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal itu?" tanya Grisella, dengan penuh perhatian. Dan seketika suasana disana pun berubah menjadi dingin.
Karna Grisella, tidak mau keadaan suasana tiba-tiba berubah menjadi dingin, ia pun kembali berbicara. "A-aku percaya sepupumu itu juga sangat merindukan mu, dan aku juga percaya bahwa tuhan tidak akan pernah memisahkan kalian lebih lama lagi. Ma-maksudku kalian berdua pasti akan kembali bertemu suatu saat nanti, percayalah! karna tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
Dan ya benar! ucapan Grisella, berhasil untuk mencairkan situasi yang awalnya sangat tegang.
"Ah... Grisella, kau sangat menggemaskan! betul tidak Than?" ujar Rangga, yang menyanjung Grisella.
"Hahaha... kau benar Ga! kau itu sangat imut, dan menggemaskan." sambung Nathan.
Wajah Grisella, yang pada awalnya biasa saja langsung berubah menjadi tersipu malu karna ucapan Rangga, dan Nathan. "Ahh... kalian ini! cepat makan camilan nya! atau akan aku usir kalian dari sini!"
"Hahaha iyah-iyah." jawab Rangga, dan Dias.
Bersambung.....
"Hey! sebaiknya kalian para pembaca membantuku untuk sedikit berfikir bagaimana caranya berbicara lagi! aku tidak mau diriku ini hanya diam saja seperti di bab ini!" teriak Agam, kepada para pembaca dengan wajah memelasnya.
Jangan lupa Like - Komen - Suport- Share sebanyak mungkin🖤
__ADS_1
Waktunya iklan jangan lupa mampir yah...