Cinta Dalam Balas Dendam

Cinta Dalam Balas Dendam
Bab 19 : Persahabatan


__ADS_3

Beralih ke Agam, yang sedang dalam perjalanan pulang menuju ke asrama.


Singkatnya Agam, pun telah kembali ke asrama untuk menemui Nathan, namun entah kenapa ketika Agam, berusaha mencari Nathan, ke ruangan nya ia tidak dapat menemukan Nathan, di sana, dan Ia pun kemutuskan untuk mencarinya ke taman yang dahulu mereka buat bersama.


"Kemana sih tuh anak? di telfon handphone nya malah di tinggal di ruangan, aneh. Ya sudahlah aku cari aja ke taman." gumam Agam.


Sesampainya Agam di taman, benar saja Nathan, sedang berada di sana, dan kelihatannya ia sedang merenung.


"Heh! di cariin juga, kenapa handphone nya malah di tinggal di ruangan? susah kan jadinya kalo mau nyari." seru Agam, yang baru saja masuk ke dalam taman.


"Jika aku tidak di temukan dimana-mana, maka carilah saja aku di taman ini." jawab Nathan.


Agam, yang merasa heran dengan sikapnya pun akhirnya bertanya. "Sebenarnya ada apa sih? kenapa tiba-tiba kamu mengunjungi taman ini lagi?"


"Aku ingin mengenang perasaan ku pada malam itu, di saat aku sedang bersama dengan wanita bertopeng itu." ujar Nathan, yang menjawab pertanyaan Agam, dengan nada suara yang lesu.


Setelah mendengar jawaban Nathan, Agam segera menelfon Dias, agar datang ke taman untuk bersama-sama menghibur Nathan.


"Yaudah bentar mau telfon dulu si Dias." ujar Agam.


...


Berdering...


...Pembicaraan di telfon...


^^^"Apa Gam? ganggu aja."^^^


"Sini bro, sahabat kita lagi galau, emang nggak mau ngehibur?"


^^^"Ahh... otw-otw, eh dimana?"^^^


"Bodonya aku lagi nular yah sama kamu Yas? di taman rahasia."


^^^"Kagak! gila aja kalo nular. Tumben banget, tapi yaudah tunggu lima menit"^^^


"Sip"


Tut...


"Ah kalian ini kenapa selalu memperlakukan aku seperti itu?" tanya Nathan.


"Kita ini sahabatan bukan? emang nya ada masalah yah kalo sahabatnya lagi sedih terus sahabat yang lainnya mau hibur?" ujar Agam, yang kembali bertanya pada Nathan.

__ADS_1


Nathan, yang mendengar jawaban Agam, pun hanya dapat terdiam, dan tersenyum tipis. "Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti kalian."


"Wo iyah dong harus!" seru Agam.


Lima menit kemudian. Dias, akhirnya datang ke taman.


"Nathan!" seru Dias.


"Apaan? datang-datang malah langsung ngegas." saut Nathan.


"Hehehe maaf-maaf, mau nanya nih. Kenapa si Lidia, ada di ruangan kamu? trus tadi aku liat dia lagi nangis, kamu tau nggak dia kenapa?" ujar Dias, yang bertanya karna ingin tau penyebab dari Lidia, menangis.


"Kapan? tadi aku juga ke ruangan Nathan, tapi nggak ada tuh." saut Agam.


"Ya sebelum kamu datang Agam."


"Ouh kirain, kira-kira kenapa ya Than?" ujar Agam, yang juga ikut bertanya pada Nathan.


Namun Nathan, kelihatan nya sangat tidak ingin menjawab pertanyaan itu sedikitpun. "Emm... maaf aku tak ingin menjawab nya."


"Tapi kenapa?" tanya Agam.


"Masalah pribadiku, kalian tidak perlu ikut campur." jawab Nathan, dengan dingin.


Agam berbisik pada Dias. "Noh kan gara-gara kamu sih! kenapa harus nanyain si Lidia, segala."


"Ya aku juga nggak taulah, malah nyolot nyalahin lagi." jawab Dias.


Tak lama dari itu tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang berkata sesuatu di balik pohon. "Kenapa kau tidak ingin menjawab nya?"


Suara itu seketika membuat mereka langsung terkejut, kenapa ada seseorang yang mengetahui tempat rahasia ini? padahal yang mengetahui tempat ini hanyalah mereka saja.


Nathan, memuruskan untuk mendekat ke arah pohon itu, dan berkata. "Siapa kau? apakah kamu menyusup ke asrama ini?"


Setelah mendengar pertanyaan itu, sang lelaki misterius'pun segera memutarkan badan nya ke arah Nathan, dan memperlihatkan dirinya ke hadapan Nathan.


Tak di sangka sosok laki-laki misterius itu ternyata adalah Rangga, sahabat mereka yang pergi ke luar negri. Semuanya di buat tercengang oleh kedatangan nya yang begitu sangat mendadak.


Rangga! seru mereka secara bersamaan.


Dan dengan spontan nya mereka langsung memeluk Rangga, dengan sangat erat.


"Kapan lu datang astaga!" seru Agam.

__ADS_1


"Bikin kangen aja tau nggak! kenapa lama banget di luar negeri nya." ujar Dias.


"Kan bisa ngomong dulu kalo mau pulang ya nggak?" tanya Nathan.


Mereka bertiga memeluk Rangga, begitu sangat erat hingga ia hampir saja kesulitan untuk bernafas. "Weh! weh! udah dong peluknya, sesek nih! kalian mau aku mati konyol seperti ini?"


Spontan melepaskan pelukan bersama.


Maaf-maaf, ujar mereka bertiga secara bersamaan lagi.


"Heh denger yah, memangnya kalian doang yang ngerasa kangen? ya jelas saya juga, hahaha."


"Eh jawab dulu kamu datang ke sini kapan? kenapa tiba-tiba ada di taman?" tanya Agam.


"Baru aja tadi subuh sampe, terus sengaja deh kesini buat ngenang masa-masa kita dua tahun yang lalu. Eh gak lama si Nathan datang, yaudah ngumpet aja yakan? karna aku tau kalian berdua pasti bakal datang juga." jawab Rangga.


"Hahaha... nih sahabat kamu yang satu ini lagi bucin akut!" seru Agam.


"Kenapa sih Than? si Lidia, emang nya kenapa? trus ada masalah apa?" tanya Rangga.


"Yaudah pada intinya ada gadis yang lagi aku cari. Jika kamu ingin tau aku, dan dia bertemu di pesta topeng asrama kemarin." jawab Nathan.


"Lalu si Nathan, curiga kalo cewe itu adalah gadis culun di kelas kami, dan aku sudah menyelidikinya." sambung Agam.


"Dan satu lagi, topeng yang dia pake waktu di pesta itu adalah topeng biru langit yang hanya di buat satu-satunya di dunia ini, itu berarti menandakan bahwa gadis itu bukan gadis biasa. Jika di bandingkan dengan sosok wanita culun di kelas kami pasti berbeda, menurutku sih bukan dia orang nya." ujar Dias, yang juga ikut menyambung ucapan Agam.


"Hahaha... baiklah, kalo begitu aku tertarik untuk membantu kalian mencaritahu soal gadis itu, sepertinya sangat seru. Nathan, kenapa kamu begitu meyakini bahwa gadis culun itu sama dengan gadis yang ada di pesta, padahal sudah jelas buktinya dari derajat mereka itu berbeda." Rangga, sebenarnya tahu akan jawaban Nathan, yang selalu berdasarkan firasat, akan tetapi saat ini ia ingin mendengar alasan lain dari Nathan, selain sebuah firasat.


"Sikap mereka hampir sama, walau penampilan mereka berbeda tapi aku yakin bahwa mereka adalah satu orang yang sama." jawab Nathan.


"Eumm baiklah. Lalu bagaimana dengan hubungan mu dengan Lidia?" tanya Rangga, sekali lagi.


"Entahlah Ga, aku begitu tidak nyaman dengan perjodohan ini, aku hanya ingin berjodoh dengan wanita yang benar-benar aku cintai." jawab Nathan.


"Baiklah! teman-teman ayo kita bantu sahabat kita ini untuk mendapatkan sebuah keadilan!" seru Rangga, yang mengulurkan tangan untuk bersorak.


Dias, dan Agam pun ikut mengulurkan tangan nya di atas tangan Rangga. "Ayo!"


"Hahaha... kalian ini seperti anak yang berusia sembilan tahun saja. Baiklah ayo! terimakasih semuanya." ujar Nathan, yang tersenyum bahagia kembali, dan ikut mengulurkan tangan nya juga.


Yeah!!!


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2